Aneh Tapi Nyata, SOP Pembakaran Dapur di BRI

- Redaksi

Sabtu, 27 Mei 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kantor BRI Unit Diponegoro Kota Sumenep. ©Okedaily.com/Redaksi

Kantor BRI Unit Diponegoro Kota Sumenep. ©Okedaily.com/Redaksi

OKEDAILY.COM Seorang nasabah Bank Rakyat Indonesia atau BRI Unit Diponegoro Sumenep Kota, disuruh membakar dapurnya sendiri oleh petugas penagihan bernama Agung. Nasib tragis ini menimpa seorang nasabah Hosnawi, ibarat Antan Patah Lesung Pun Hilang pepatah itu dimaksudkan pada kemalangan yang beruntun.

Kisah tersebut berawal dari tahun 2019 silam. Pada saat itu, Bapak Hosnawi asal Kalianget Barat Sumenep, mengajukan pinjaman modal usaha ke BRI Unit Diponegoro. Pinjaman diajukan dengan nominal Rp200.000.000 tenor empat tahun dengan besaran angsuran Rp6.000.000.

Kemudian, berjalan setahun lamanya debitur mengalami kesulitan akibat pandemi Covid-19 yang melanda negeri ini, dan nahas usaha rental mobilnya juga ditipu orang. Akhirnya BRI unit Diponegoro memberikan keringanan dengan cara hanya membayar angsuran senilai Rp2.000.000, setiap bulan nasabah pun mengikuti dengan mencicil selama tujuh bulan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Baca Juga :  Dinkes P2KB Sumenep Imbau Masyarakat Tak Panik Terkait Virus HMPV

Karena merasa berat nasabah pun hendak men-take over pinjamannya melalui bank lain, namun oknum BRI menawarkan agar nasabah melakukan pinjaman baru dengan nilai yang sama lagi. Agung menjelaskan jika pinjaman baru itu dipotong untuk melunasi pinjaman sebelumnya, yang masih bersisa sekitar Rp40.000.000.

Setelah itu, Agung sebagai juru tagih BRI meminta Hosnawi untuk membalik nama sertifikat yang menjadi agunan di BRI yang semula atas nama orang tuanya (Alm. Marhasan Ayah Hosnawi) menjadi nama ahli waris.

Cocoklogi Penjelasan Pimpinan Cabang BRI Sumenep
Dok. Fauzi As. ©Okedaily.com

Dan sertifikatpun dibalik nama pada notaris berinisial SY. Setelah sertifikat diproses di notaris, maka BRI meminta Hosnawi membawa Ibu dan saudara-saudaranya untuk menandatangani pencairan baru, di kantor BRI Unit Diponegoro dengan total pinjaman baru sebesar Rp200.000.000.

Baca Juga :  Ketua AWDI Tuding Event Madura Culture Festival 2025 Ajang Mencari Isi Perut

Anehnya, setelah proses penandatanganan sudah dilakukan uang sisa pelunasan pinjaman pertama, uang yang dijanjikan sebesar Rp40.000.000 tidak kunjung cair, alasannya karena sudah dipotong bunga dan lain-lain.

Merasa dibohongi, nasabah pun meminta penjelasan kepada saudara Agung di halaman kantor BRI, agung menjawab tidak tahu, pada hari itu juga nasabah dipanggil untuk menyerahkan ATM dan buku tabungannya. Berselang beberapa bulan kemudian, nasabah pun kembali dihubungi oleh Agung dan diminta hadir karena ada hal yang mau dibicarakan.

Sesampainya di kantor, Agung meminta nasabah untuk menghadap seseorang yang bernama Ibu Dian, yang ternyata untuk menagih dan menjelaskan jika angsuran Hosnawi tidak dibayar, maka akan didatangkan petugas lelang. Dian juga menyampaikan jika tidak mau dilelang dia harus membayar uang sejumlah Rp3.400.000.

Baca Juga :  Pemerintah Sumenep Siapkan Dana Besar untuk Program BPJS Kesehatan

Aneh bin ajaib, sepulang dari kantor BRI, Agung menghubungi Hosnawi dan meminta agar motornya diantar sebagai jaminan dari angsuran. Akhirnya nasabah mengantarkan motor satu-satunya merk Revo warna merah tahun 2009. Setelah itu nasabah pulang dijemput oleh temannya.

Keesokan harinya nasabah mendatangi kantor BRI dengan menyetorkan uang sejumlah Rp3.400.000 untuk menebus motornya yang dijaminkan, anehnya lagi uang diambil oleh petugas BRI tanpa kwitansi. Begitulah SOP aneh disebuah perbankan yang menurut MBM BRI Cabang Sumenep tidak mungkin Kebobolan.

Kami sebagai masyarakat kecil berharap BRI sebagai bank pemerintah harusnya melayani masyarakat dengan baik, tidak hadir sebagai rentenir dengan wajah seram dan menakutkan. Ulasan tentang oknum pegawai BRI yang menyuruh nasabah membakar dapurnya, akan kita suguhkan pada episode berikutnya.

Baca Juga :  Aparat Represif, Negara Tanpa Solusi

Penulis : Fauzi As
Tokoh Pergerakan Kota Keris

Tulisan opini ini sepenuhnya merupakan tanggungjawab penulis, dan tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi media okedaily.com.

Kanal opini media okedaily.com terbuka untuk umum. Maksimal panjang naskah 4.000 karakter, atau sekitar 600 kata.

Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri anda dan nomor telepon yang bisa dihubungi. Kirim ke alamat e-mail: opini@okedaily.com.

Facebook Comments Box

Komentar ditutup.

Follow WhatsApp Channel okedaily.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Sang Jenderal yang Tak Menunggu Telepon
Membedah Tuntutan Iran dan Inkonsistensi Trump di Selat Hormuz
Menagih Peran: Mengapa Diaspora Pengusaha Ra’as Belum Terjamah?
Aktivis Pembunuh Petani Tembakau
Dua Wajah Negara: Keadilan dalam 6 Hari dan 990 Hari
Catatan Fauzi AS: Kejujuran Memerlukan Ketulusan Hati
Teka-Teki PR Fiktif, Obrolan Warung Kopi Menuju Kebijakan Bupati Suka-Suka
Baznas Sumenep, Lembaga Amal atau Agensi Pencitraan?

Berita Terkait

Senin, 18 Mei 2026 - 21:00 WIB

Sang Jenderal yang Tak Menunggu Telepon

Kamis, 9 April 2026 - 16:11 WIB

Membedah Tuntutan Iran dan Inkonsistensi Trump di Selat Hormuz

Rabu, 8 April 2026 - 19:58 WIB

Menagih Peran: Mengapa Diaspora Pengusaha Ra’as Belum Terjamah?

Senin, 6 April 2026 - 19:49 WIB

Aktivis Pembunuh Petani Tembakau

Kamis, 19 Maret 2026 - 03:57 WIB

Dua Wajah Negara: Keadilan dalam 6 Hari dan 990 Hari

Berita Terbaru