Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Nasional

Bahas Minoritas, Utamakan Koneksi Bukan Koreksi

Avatar of Okedaily
×

Bahas Minoritas, Utamakan Koneksi Bukan Koreksi

Sebarkan artikel ini
Bahas Minoritas, Utamakan Koneksi Bukan Koreksi
KH. Ulil Abshar Abdalla, saat melanjutkan diskusi secara informal dengan para pemimpin agama yang lain, usai Sesi Pleno Forum R20 di Hotel Hyatt Regency, Yogyakarta. ©Okedaily.com [dok. NU Online/Syakir NF]

OKEDAILY, JOGJA Isu minoritas menjadi salah satu pembahasan di Forum Agama G20 atau Forum R20. Mereka membicarakan tentang aksi persekusi yang terjadi di berbagai belahan dunia, misalnya terhadap minoritas Katolik oleh mayoritas Muslim di Nigeria atau terhadap minoritas Muslim oleh mayoritas Hindu di India.

Di antara pembahasnya adalah Uskup Matthew Hassan Kukah dari Sokoto, Nigeria. Ia mengungkap bagaimana minoritas Katholik Sokoto yang mendapat persekusi dari mayoritas Islam disana. Ia terang-terangan berbicara ketimpangan, pilih kasih, hingga pembunuhan yang dialami kelompoknya.

Di Yogyakarta dalam sesi pleno, Uskup Kukah kembali berbicara perihal perlunya menimbang istilah minoritas tidak dipandang dari sisi kuantitas saja. Minoritas perlu dilihat dari perspektif lain, yaitu penderitaan atas segala bentuk diskriminasi dan persekusi yang dialaminya.

Baca Juga : Belajar dari Diskriminasi di Sokoto Nigeria

Hal itulah yang perlu diperhatikan oleh para tokoh pemimpin agama dunia, para akademisi, juga pengambil kebijakan. Itu ia sampaikan saat Sesi Pleno Forum R20 di Hotel Hyatt Regency, Yogyakarta, Sabtu (5/11).

Belajar dari Diskriminasi di Nigeria : Konstitusi Non-diskriminatif dan Pembelajaran Komprehensif Jadi Obat Pemulihan Hubungan Agama
Matthew Hassan Kukah, Uskup Katolik Sokoto, Nigeria, saat menjadi pembicara pada sesi panel keempat di Forum Agama G20 (R20) di Hotel Grand Hyatt, Nusa Dua, Kamis (3/11). ©Okedaily.com [LTN PBNU/Suwitno]
Menanggapi hal itu, Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Ulil Abshar Abdalla, menyampaikan bahwa ia memang mempersoalkan istilah minoritas karena selama ini lebih didasarkan pada angka.

“Yang jarang dibicarakan ketika kita membicarakan soal minoritas ini adalah mengenai soal penderitaan yang mereka alami,” katanya usai Sesi Pleno Forum R20 berakhir.

Baca Juga : Prof Kuru : Pemenuhan Hak Minoritas Tunjukkan Agama Berfungsi sebagai Solusi

Mereka hanya dipandang secara numerik, tetapi jarang dilihat dalam kebijakan yang diambil oleh para tokoh-tokoh dunia, yaitu penderitaan yang dialami minoritas semua agama. Tidak hanya Kristen, Hindu, ataupun Budha, tetapi juga minoritas Muslim.

“Kemarin di dalam diskusi sesi kemarin, saya mengangkat soal masalah minoritas ini yang sering dipersekusi semua agama,” ujarnya.

Baca Juga :  Jual Beli Tanah Wajib Punya BPJS Per 1 Maret 2022

Di India, Muslim yang dipersekusi dan salah satu kelompok yang diundang dalam pertemuan Forum R20 sekarang adalah dari kelompok yang dikenal sebagai kelompok Hindu nasionalis di India yang selama ini melakukan persekusi kepada umat Islam.

Baca Juga : Sejumlah Tokoh Perempuan Dunia Jadi Pembicara di Forum R20

“Setiap mayoritas melakukan persekusi meskipun persekusi bukan satu-satunya gambaran. Ada juga mayoritas umat melakukan hal-hal yang baik. Mereka melindungi juga, tetapi ada juga elemen-elemen mayoritas yang melakukan persekusi,” katanya.

“Nah ini yang harus diatasi dengan jujur. Itu salah satu tema sentral dalam konferensi sekarang, jujur mengakui bahwa ada kesalahan yang kita lakukan,” imbuhnya.

Cendekiawan yang akrab disapa Gus Ulil ini menegaskan, bahwa isu minoritas memang salah satu problem dalam hubungan antar agama. Membicarakan kedudukan minoritas bukan hanya minoritas dalam Islam tetapi juga minoritas di agama-agama lain.

Baca Juga : Kyai Afif : NU Bertanggung Jawab Mengawal Perdamaian Dunia

Semua agama punya problem minoritas ini harus dibicarakan dengan jujur dan tidak selalu menggunakan pendekatan yang sekuler, yaitu pendekatan HAM. Pendekatan HAM ini penting, tapi tidak cukup.

“Jadi pendekatan HAM ini pendekatan yang penting tapi tidak memadai karena bahasa agama juga diperlukan untuk mengatasi masalah minoritas ini, bagaimana berdasarkan pemahaman masing-masing kita terhadap tradisi kita masing-masing kita coba membangun suatu sebut saja teologi minoritas,” terangnya.

Utamakan Koneksi Bukan Koreksi

Rabbi Yahudi Asal Amerika Harapkan Forum R20 Atasi Konflik Timur Tengah
Direktur Beit Midrash for Judaism and Humanity, Rabbi Yakov Nagen, di Grand Hyatt Nusa Dua, Bali, Selasa (2/11). ©Okedaily.com [NU Online/Faisal]
Selain membicarakan minoritas, Sesi Pleno Forum R20 di Yogyakarta juga merumuskan nilai-nilai bersama yang mempertemukan semua agama. Rabbi Yakov Nagen menekankan agar mengutamakan koneksi ketimbang koreksi. Artinya penekanan hubungan antar umat agama lebih didahulukan daripada koreksi terhadap agama lain.

Baca Juga : Rabbi Yahudi Asal Amerika Harapkan Forum R20 Atasi Konflik Timur Tengah

Menanggapi hal itu, Gus Ulil menyampaikan bahwa dengan adanya rumusan seperti ini, akan mudah melakukan kerja sama dan koneksi hubungan antar berbagai kelompok agama.

Baca Juga :  Presiden Jokowi Resmi Mengumumkan Harga BBM Bersubsidi

Tentang bagaimana strategi untuk membuat keputusan-keputusan atau kesepakatan bersama dalam pertemuan ini bisa diterima oleh pemimpin-pemimpin G20.

“Karena, tujuan dari konferensi ini adalah membuat agama dan nilai-nilai dan tradisi agama itu dipertimbangkan di dalam keputusan-keputusan, kebijakan-kebijakan yang diambil para pemimpin dunia yang nanti akan datang di Bali dalam pertemuan G20,” terang Gus Ulil.

Salah satu rumusan yang diusulkan adalah membuat deklarasi bersama tentang nilai-nilai yang sama di antara semua agama. Salah satu nilai yang mendapatkan tekanan dalam Forum R20 adalah nilai tentang martabat manusia.

“Semua agama menekankan pentingnya manusia sebagai nilai dasar, karena itu manusia perlu menjadi fokus dalam pembangunan. Pembangunan bukan hanya berpusat kepada kesejahteraan material, tetapi juga kesejahteraan manusia,” terang Pengampu Ngaji Ihya Ulumiddin daring itu.

Baca Juga : Pimpinan Muhammadiyah : Di Titik Tertentu Ada yang Jadi Radikal, Kita Perlu Perbaiki Kesalahpahaman

Forum Agama G20 atau R20 digelar PBNU bersama Liga Muslim Dunia atau Muslim World League (MWL) di Nusa Dua, Badung, Bali, pada 2-3 November 2022. Ia menjadi engagement group G20.

Ada 338 partisipan yang hadir pada perhelatan Forum R20, yang berasal dari 32 negara. Sebanyak 124 berasal dari luar negeri. Forum tersebut menghadirkan 45 pembicara dari lima benua.

Peserta Forum R20 selanjutnya diajak berkunjung ke Yogyakarta dan Jawa Tengah. Selama 4-6 November 2022 mereka mengunjungi antara lain Keraton Yogyakarta, Candi Prambanan, Vihara Mendut, Candi Borobudur, Universitas Islam Indonesia (UII), dan Pesantren Pandanaran.

Seperti diketahui, forum R20 akan diselenggarakan secara kontinu menyesuaikan dengan urutan presidensi G20, yakni di India pada 2023, di Brazil pada 2024, dan di Afrika Selatan pada 2025. ***