Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Pendidikan

Guru Non Muslim di MTs Al-Maarif Jimbaran, Made : Perbedaan Bukanlah Sebuah Ancaman

Avatar of Okedaily
20
×

Guru Non Muslim di MTs Al-Maarif Jimbaran, Made : Perbedaan Bukanlah Sebuah Ancaman

Sebarkan artikel ini
Guru Non Muslim di MTs Al-Ma'arif Jimbaran, Made : Perbedaan Bukanlah Sebuah Ancaman
I Made Begawasi, guru yang beragama Hindu di MTs Al Ma'arif. ©Okedaily.com/Wandy Halona

OKEDAILY, BALI Pada umumnya, sekolah agama akan diisi oleh murid dan guru-guru yang seiman. Namun di Bali, sekolah Islam tidak jarang kita temui guru non Muslim. Salah satunya Madrasah Tsanawiyah Al-Ma’arif Jimbaran, Kuta Selatan, Kabupaten Badung.

Madrasah Tsanawiyah (MTs) Al Ma’arif sendiri berada dibawah naungan Lembaga Al-Ma’arif, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Badung.

Adalah I Made Begawasi, sebagai salah satu guru yang beragama Hindu di MTs Al Ma’arif. Ia merasa betah dan nyaman mengajar. Bahkan dirinya sudah sekitar 11 tahun mengabdi di sekolah Muslim itu.

Baca Juga : Catatan Maksum Zuhdi : Politik Jungkir Balik

Walaupun dirinya berada dilingkungan sekolah Muslim, namun Made tidak merasa mendapatkan sikap yang berbeda. Justru kebersamaan dan saling menghargai yang dirasakannya.

Baca Juga :  Deklarasi Milineal Bali untuk Gus Muhaimin di Pilpres 2024

“Misal ketika acara buka puasa bersama bulan Ramdhan, saya sering ikut nimbrung bersama,” akunya saat ditemui okedaily.com di MTs Al-Ma’arif, Senin (14/11).

Sebaliknya, ketika Made merayakan hari raya agamanya seperti Galungan dan Kuningan, guru dan para siswa biasa memberi ucapan kepadanya.

Baca Juga : Kodim 0826 Pamekasan Laksanakan Program TNI-AD Manunggal Air, Ternyata Ini Targetnya

“Selamat Galungan dan Kuningan, Pak,” terangnya memberi contoh.

Made meyakini, perbedaan bukanlah sebuah ancaman, melainkan sebuah keindahan agar saling menghargai dan dijaga.

Guru Non Muslim di MTs Al-Maarif Jimbaran, Made : Perbedaan Bukanlah Sebuah Ancaman
Kepala Sekolah MTs Al-Ma’arif Jimbaran, Siska Anggraini. ©Okedaily.com/Wandy Halona

Pada kesempatan yang sama, Kepala MTs Al-Ma’arif, Siska Anggraini beralasan semua manusia pada prinsipnya memiliki hak untuk mengajar atau menjadi guru selama memiliki kompetensi yang bisa dipertanggung jawabkan.

Baca Juga :  Kembangkan Kemampuan, Syafi'atul Serahkan Mahasiswa PPLK Unisma ke MTs Raudlatul Ulum

Selain itu, dengan adanya guru non Muslim sebagai edukasi langsung kepada para siswa tentang toleransi. “Jadi kita (MTs Al-Ma’arif, red) tidak hanya teori mengajarkan toleransi dan kerukunan, tapi langsung praktek,” ujar Siska.

Baca Juga : Bawaslu Sumenep Gelar Sosialisasi Pengawasan Partisipatif, Sekedar Gugur Kewajiban?

Menurut Siska, Made saat ini mengajar bahasa Bali. Sebelumnya, pernah mengajar bahasa Inggris. Ia bukanlah satu-satunya guru non Muslim yang pernah mengajar di MTs Al-Ma’arif.

“Sebelum-sebelumnya ada Pak Nyoman Adi, Gede Erik, Bu Made Dewi, Bu Taman. Alhamdulillah lancar-lancar saja, dan dulu ada yang ngajar olahraga juga,” ungkap Siska Kepala Sekolah MTs Al Ma’arif.

Baca Juga :  Jelang Hari Suci Nyepi, Pecalang dan Banser Kolaborasi Jaga Keamanan di Buleleng

Selain memberikan edukasi secara langsung kepada para siswa, MTs Al-Ma’arif juga memiliki program rutin hari Jum’at, yakni berbagi makanan ke masyarakat dengan turun langsung tanpa melihat latar belakangnya.

Guru Non Muslim di MTs Al-Maarif Jimbaran, Made : Perbedaan Bukanlah Sebuah Ancaman
Abrar Daniswara Putra Kelas IX A MTs Al-Maarif. ©Okedaily.com/Wandy Halona

Sementara itu, Abrar Daniswara Putra Kelas IX A, menyebut program Jum’at berbagi. Lebih lanjut terangnya, uang yang dibelanjakan makanan untuk berbagi adalah hasil infaq para siswa.

Baca Juga : Arogansi Kepala DPMPTSP Kabupaten Sumenep Memalukan, Tidak Faham Aturan?

“Mohon do’a dan dukungannya, semoga MTs Al-Ma’arif dapat melahirkan siswa-siswa yang produktif dan berbakti,” harap Abrar.