Mahasiswa Krisis Berpikir Kritis di Bangku Perkuliahan

- Redaksi

Kamis, 3 November 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kader PMII Rayon Rosalia Hibrida, Rifkyi Irwan Mahfaud. ©Okedaily.com/Ist

Kader PMII Rayon Rosalia Hibrida, Rifkyi Irwan Mahfaud. ©Okedaily.com/Ist

OKEDAILY.COM – Kampus yang melabeli sebagai kampus Islam, seringkali memadukan ranah adabiyah dan makomiyah secara unproporsional. Padahal dua ranah ini sangat fundamental sehingga perlu segera dirumuskan.

Mengingat setiap hukum yang berlaku dan beredar memiliki pengecualian yang harus dibaca. Terkhusus pada caption adab mahasiswa kepada dosen yang cendrung melemahkan pengembangan potensi.

Saat ini kampus bukan lagi ruang untuk meningkatkan potensi mahasiswa ataupun mengembangkan nalar berpikir mahasiswa.

Baca Juga : Prof Kuru : Pemenuhan Hak Minoritas Tunjukkan Agama Berfungsi sebagai Solusi

Melainkan kampus bertransformasi layaknya penjara yang mengekang berkembangnya nalar dalam berpikir kritis. Mula-mula hal ini akibat dari sistem yang cacat melingkupi sistem pembelajaran dan sistem pengajaran.

Berbicara perihal sistem pembelajaran di bangku perkuliahan, tentu saja terdapat metode yang beragam diberikan dosen. Ada yang menggunakan metode menulis dan mendengarkan, ada juga yang menggunakan metode diskusi interaktif.

Baca Juga :  Belanja Jasa Tenaga Kebersihan Pemkab Probolinggo TA 2021 Tidak Sesuai Ketentuan?

Nah, ini lah yang sekarang di perlukan dan saya rasa dengan metode ini lebih mengaktifkan nalar kritis mahasiswa dan kemampuan analisis mahasiswa dengan adanya interaksi mahasiswa dan tenaga pendidik (dosen) yang saling berperang argumentasi maupun tukar pikiran terhadap objek yang dipelajari melalui ruang diskusi.

Baca Juga : Forum R20, Menag Yaqut Bicara Pancasila dan Keberhasilan Indonesia Hadapi Pandemi

Sehingga dapat dikatakan bahwa keduanya (dosen dan mahasiswa) berperan aktif dalam menanggapi objek pembelajaran. Dan posisi mahasiswa tidak lagi menjadi pasif, menerima dan menelan secara mentah-mentah apa saja hal yang dituturkan oleh dosen.

Baca Juga :  Baznas Sumenep Berlari Kencang Meski Sepatunya Tak Resmi

Tapi yang sekarang ini di bangku perkuliahan tidak semuanya menggunakan metode yang seperti itu, sehingga mahasiswa belakangan ini mengalami degradasi potensi.

Facebook Comments Box

Komentar ditutup.

Follow WhatsApp Channel okedaily.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Sang Jenderal yang Tak Menunggu Telepon
Membedah Tuntutan Iran dan Inkonsistensi Trump di Selat Hormuz
Menagih Peran: Mengapa Diaspora Pengusaha Ra’as Belum Terjamah?
Aktivis Pembunuh Petani Tembakau
Dua Wajah Negara: Keadilan dalam 6 Hari dan 990 Hari
Catatan Fauzi AS: Kejujuran Memerlukan Ketulusan Hati
Teka-Teki PR Fiktif, Obrolan Warung Kopi Menuju Kebijakan Bupati Suka-Suka
Baznas Sumenep, Lembaga Amal atau Agensi Pencitraan?

Berita Terkait

Senin, 18 Mei 2026 - 21:00 WIB

Sang Jenderal yang Tak Menunggu Telepon

Kamis, 9 April 2026 - 16:11 WIB

Membedah Tuntutan Iran dan Inkonsistensi Trump di Selat Hormuz

Rabu, 8 April 2026 - 19:58 WIB

Menagih Peran: Mengapa Diaspora Pengusaha Ra’as Belum Terjamah?

Senin, 6 April 2026 - 19:49 WIB

Aktivis Pembunuh Petani Tembakau

Kamis, 19 Maret 2026 - 03:57 WIB

Dua Wajah Negara: Keadilan dalam 6 Hari dan 990 Hari

Berita Terbaru