Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Opini

Petani Milenial Konstruktif Membangun Ketahanan Pangan

Avatar of Okedaily
×

Petani Milenial Konstruktif Membangun Ketahanan Pangan

Sebarkan artikel ini
Petani Milenial Konstruktif Membangun Ketahanan Pangan
DPM-Faperta Unisma, Agus Purnomo. ©Okedaily.com/ist

OKEDAILY.COM Indonesia merupakan negara dengan tingkat kesuburan alam yang tinggi dibandingkan dengan negara-negara lain. Dianugrahkan-nya menjadi keharusan mengelolanya dengan baik, dalam hal ini peran pemuda dibutuhkan untuk memastikan potensi kekayaan alam Indonesia. Menjadi sumber kesejahteraan rakyat.

Pengelolaan lahan pertanian harus diperhatikan dengan serius oleh pemerintah. Ketahanan pangan akan sangat membantu pembangunan di berbagai macam sektor. Sebab keberadaannya menjadi kebutuhan pokok dan sentral bagi wacana kehidupan dalam kurun waktu 10 sampai 15 tahun yang akan datang.

Banyak terdapat sarjana mahasiswa pertanian di berbagai daerah, namun angka itu bukan membantu terhadap pertumbuhan pertanian, kenapa hal itu bisa terjadi?

Hemat saya, disebabkan perkembangan zaman dan tingkat pergaulan digital, sehingga bertani dianggap kuno. Hal ini bisa dilihat dari partisipasi pemuda dibawah umur 30 tahun hanya tersisa 8% dari total seluruh petani di Indonesia. Tren tersebut berbanding lurus dengan penurunan penduduk yang bekerja di sektor perhutanan, pertanian, perikanan.

Baca Juga : Muhammad Faisol Resmi Dilantik, Bung Karna : Semoga Bisa Bekerjasama dengan Baik

Menurut Badan Statistic Nasional, jumlah penduduk yang bekerja disektor pertanian turun dari 33% menjadi 29% dalam kurun waktu 5 tahun terakhir. Ini menjadi ancaman serius bagi kehidupan masyarakat Indonesia. Sebab, kebutuhan ekonomi akan tinggi maka berpeluang membuka pintu impor pangan negara lain.

Semakin pelik, melihat kesejahteraan petani yang masih belum terlihat baik, upah maksimum tidak mengeksploitasi angka kemiskinan di pedesaan. Dimana sebagian besar pendapatan penduduk desa berada di sektor pertanian. Kesejahteraan rakyat petani pribumi harus diperhatikan dengan baik oleh pemerintah agar tercipta kehidupan yang makmur.

Baca Juga :  Menuju PMII ke-63, Komunis Berikan Catatan Kritis Periode Akhir Rezim Jokowi

Selain itu salah satu penyebab terdegradasinya regenerasi petani di Indonesia adalah mahalnya biaya dan sulitnya akses dalam menggeluti bidang pertanian, baik dalam biaya permodalan, pendistribusian, oprasional, kebijakan publik yang masih terdekte pada kepentingan pemodal.

Bahkan lembaga pendidikan pertanian yang menjadi harapan besar regenerasi pertanian di Indonesia tidak lepas dari yang namanya pemungutan pajak dan upeti. Susahnya akses pengembangan potensi generasi petani mengakibatkan peralihan profesi kerja, hal ini tidak bisa dibantahkan menjadi persoalan tersendiri bagi pengembang pertanian.

Baca Juga : KM Mila Tujuan Situbondo Karam di Perairan Pulau Sapudi, Ini Penyebabnya

Sudah saatnya pemangku kebijakan yang mempunyai hak dan wewenang untuk mengevaluasi hal itu. Tidak mudah memang membentuk suatu karakter pemuda untuk peduli akan pentingnya sektor pertanian tanpa adanya suatu dorongan yang all-out dari berbagai pihak.

Termasuk di lembaga pendidikan (kampus) sudah menjadi hal yang lumrah mahasiswa pertanian dibingungkan dengan kegiatan praktikum yang dirasa aneh nan lucu, namun sangat berpengaruh terhadap klaim mahasiswa tersebut berprestasi atau pemalas tanpa memperdulikan fashion atau basic individu setiap mahasiswa tentang pemahamannya dalam dunia pertanian.

Baca Juga :  LBH Mitra Santri Gandeng Komisariat IKSASS Desa Awar-awar Lakukan Penyuluhan Hukum

Penyampaian masalah yang terjadi dalam dunia pertanian pun terkadang masih dianggap remeh dan tidak penting. Ketika tidak sesuai dengan mekanisme lembaga pendidikan yang sudah ditentukan tanpa kesepakatan, bahkan terkadang dianggap tidak berbobot dan terkesan mahasiswa yang tidak memiliki sopan santun.

Ketika mahasiswa terlalu over mengetahui masalah dunia pertanian. Disorientasi antara minat dan bakat mahasiswa pertanian sering kali menjadi korban dalam situasi ini. Sudah seharusnya semua elemen bersatu untuk ikut serta menyelesaikan permasalahan ini.

Baca Juga : Seorang WNI Tewas di Texas, HMI Cabang Medan : Ini Pelanggaran HAM Berat

Banyak generasi petani yang sudah dihadapkan dengan pekerjaan rumah sebelum terjun ke dalam dunia pertanian yang katanya begitu nikmat untuk ditekuni. Masalah agraria, Isu lingkungan (wadas), mahalnya pupuk subsidi, ancaman lahan pertanian menjadi pertambangan, ketidakjelasan perizinan lahan (mandalika, IKN) krisis ekologi pedesaan, menjadi bumbu pelengkap dalam kurun waktu beberapa tahun ini.

Harapan besar bagi bangsa ini, jika kesadaran dan pentingnya dunia pertanian untuk kita gagas bersama tanpa saling mengintimidasi antara satu dengan yang lain.

Dalam catatan sejarah kita sudah terlalu lama, kita dibabukan oleh bangsa lain hanya perihal kekuasaan bumbu dapur untuk di perjualbelikan dengan nafsu birahi mereka.

Maka dari itu pemuda-pemudi sudah seharusnya ikut andil dan terfasilitasi dengan baik dalam membangun dunia pertanian di negeri kaya raya ini.