Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Internasional

Pimpinan Muhammadiyah : Di Titik Tertentu Ada yang Jadi Radikal, Kita Perlu Perbaiki Kesalahpahaman

Avatar of Okedaily
1
×

Pimpinan Muhammadiyah : Di Titik Tertentu Ada yang Jadi Radikal, Kita Perlu Perbaiki Kesalahpahaman

Sebarkan artikel ini
Pimpinan Muhammadiyah : Di Titik Tertentu Ada yang Jadi Radikal, Kita Perlu Perbaiki Kesalahpahaman
KH. Dr. Imam Addaruqutni, MA. ©Okedaily.com [LTN PBNU/Suwitno]

OKEDAILY, BALI Salah satu pimpinan Muhammadiyah, KH. Dr. Imam Addaruqutni, MA. menjadi pembicara dalam Forum Religion Twenty (R20) di Hotel Grand Hyatt, Nusa Dua, Badung.

Imam Addaruqutni, tampil hari ini bersama sejumlah tokoh agama dari negara lain, seperti Rabbi Silvina Chemen, Elder Gary E Stevenson, Bishop Matthew Hassan Kukah, KH. Ulil Abshar Abdallah dan Prof. Ahmet Kuru.

Imam Addaruqtni mengatakan, bahwa Muhamadiyah sebagai perwakilan Islam berkemajuan selalu menyampaikan pesan damai. Sudah sejak lama Muhammadiyah mencoba mempromosikan nilai-nilai moral dan akhlaq, juga pendidikan.

Baca Juga : Singgung Perang Rusia-Ukraina, Syekh Abdullah bin Bayah : Agama Bisa Ambil Peran Penting

“Hubungannya dengan sistem dan pendidikan. Muhamadiyah juga deklarasikan keterdesakan untuk promosikan kemajuan Islam,” kata Imam Addaruqutni di Hotel Grand Hyatt, Nusa Dua, Kamis (3/11).

Baca Juga :  Ramadhan On The Road, Gemasaba Bali Berulah

Saat ini, kata Imam, kita berurusan dengan eksternal yang dipengaruhi keyakinan eksternal. Berurusan dengan kondisi-kondisi yang berhubungan dengan peradaban manusia yang dipraktikkan berlebihan sesuai dengan kehidupan demokrasi. Misalnya di Iraq dan Suriah.

Baca Juga :  Jokowi Minta ASEAN Tangani Masalah Muslim Rohingya di Rakhine State

Menurut Imam, di titik-titik tertentu ada kelompok jadi radikal yang ingin mengganti sistem negara Indonesia. “Kita perlu perbaiki kesalahpahaman, Muhammadiyah sebagai pendiri negara ini tidak pernah ingin mengubah landasan negara,” tegasnya.

Baca Juga : Arogansi Kepala DPMPTSP Kabupaten Sumenep Memalukan, Tidak Faham Aturan?

Muhammadiyah, lanjut Imam, memiliki 200 universitas yang mengakomodasi 1.000-an mahasiswa non muslim. Bahkan di Nusa Tenggara Timur misalnya, ada Universitas Muhammadiyah yang disebut Cristian Muhammadiyah University karena banyak mahasiswa non muslim disitu.

Baca Juga :  NU Kuta Peringati Satu Abad NU Disambut Antusias Masyarakat

Forum Agama G20 atau R20 digelar PBNU bersama Liga Muslim Dunia atau Muslim World League (MWL) di Nusa Dua, Badung, Bali, pada 2-3 November 2022.

Ada 338 partisipan yang terkonfirmasi hadir pada perhelatan R20, yang berasal dari 32 negara. Sebanyak 124 berasal dari luar negeri. Forum tersebut menghadirkan 45 pembicara dari lima benua. ***