Seragam, Merah, Bernilai Belasan Milyar Rupiah

- Redaksi

Sabtu, 24 Desember 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Fauzi AS (kemeja putih). ©Okedaily.com/Ist

Fauzi AS (kemeja putih). ©Okedaily.com/Ist

Lembar VIII. Oleh : Fauzi AS
Sumenep, 24 Desember 2022

OKEDAILY.COM Judul di atas, semacam rapor akhir tahun dari publik kepada Kadisdik Sumenep, yang di rangkum secara acak dan kasar.

Mulai dari bantuan “SERAGAM” gratis, surat edaran warna cat “MERAH” gedung sekolah, hingga anggaran Honorarium 2022 berjumlah “BELASAN MILYAR” untuk Guru Tidak Tetap Eks K2, Pegawai Tidak Tetap Eks K1, dan Pegawai Tidak Tetap Eks K2.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Memang anggaran dana tersebut berjumlah belasan milyar, lebih tepatnya Rp13.482.000.000, yang bersumber dari APBD.

Tapi yang salah itu singkatannya, bukan Kadisnya.
GTT “Guru Tidak Tetap”
GTT “Guru Tidak Terbayar”.

Menurut rekaman yang saya dapatkan, dana itu tidak bisa cair pada tahun 2022 ini. Hal itu dijelaskan dengan gagap dan gugup pada saat pertemuan minggu lalu, 13 Desember 2022.

Polemik kebijakan Dinas Pendidikan, dan nasib tenaga pendidikan ibarat minyak ketemu air dalam botol yang sama.

Cerita pendek tak disengaja, kamis 17 November 2022 lalu, saya nongkrong di sebuah warung kopi depan sekolah SM. Ini nongkrong tanpa janji. Tiba-tiba hujan lebat mengehentikan saya di tempat itu.

Duduk santai setelah memesan segelas kopi, tanpa di sengaja mata saya tertuju pada seorang guru.

Guru itu keluar dari dalam kelas menuju halaman sekolah. Dia tampak meninggalkan siswanya saat sedang mengajar. Sepertinya sang guru sedang menerima telepon dari seseorang.

Baca Juga :  Gelombang Isu Korupsi Negeri

Gerak-gerik guru itu tampak gelisah dan membingungkan, seolah tak peduli derasnya hujan. Dia hanya berteduh di bawah pohon jambu.

Karena penasaran, saya coba bertanya pada ibu pedagang kopi. “Itu guru dari mana bu?”

Ibu Penjual Kopi : Oh… Itu guru dari Lenteng Mas, namanya Deddi.

Masih merasa penasaran saya coba mencari tahu. “Kok seperti orang kebingungan ya bu…?”

Ibu Penjual Kopi : Iya dia kemarin cerita anaknya sedang masuk Rumah Sakit, dan dia gak punya uang, barusan pinjam ke saya Mas, kata ibu sambil menghela nafas.

Kemudian saya kembali melanjutkan pertanyaan. “Memangnya itu bukan PNS bu..?”

Ibu Penjual Kopi : Bukan mas, dia Guru Tidak Tetap “GTT” disini ada lima orang.

Ibu penjual kopi itu melanjutkan ceritanya bahwa nasib guru GTT itu terkesan tidak diperhatikan oleh pemerintah. Bahkan tidak jarang untuk sekedar membayar kopi saja mereka harus bayar mundur, atau ngebon terlebih dahulu.

Cerita dari ibu itu coba saya renungkan, memang Dinas Pendidikan ini adalah rahim dari adab dan pengetahuan. Namun bagaimana bisa kualitas pendidikan ini lebih baik kalau kesejahteraan guru di abaikan? dalam benak saya pada waktu itu.

Guru yang diharapkan mampu melahirkan putra-putri terbaik bangsa, masih sibuk dengan tagihan kopi.

Lamunan itu membawa ingatan saya pada aksi Mahasiswa PMII pada, Januari 2022 lalu. Sejenak menyimak kembali kiriman video orasi Nurhayat pada saat memimpin demo mahasiswa di Dinas Pendidikan Sumenep.

Baca Juga :  Semarak Harlah NU Ke-96, IKSASS Rayon Sapudi Gelar Pengajian Akbar

Setidaknya dalam satu bulan itu, ada tiga kali aksi demonstrasi dilakukan. Ingatan itu masih terbaca terang, beritanya pun belum tenggelam tertimbun mark-up seragam.

Saya menyimak bait demi bait puisi lantang sang orator, teriakan bernada tinggi dalam bingkai semangat perubahan.

Ya, Nurhayat bersama aktivis mahasiswa yang tergabung dalam PMII STKIP PGRI Sumenep kala itu meminta Kepala Dinas Pendidikan Sumenep yang baru, Agus Dwi Saputra mundur dari jabatannya pada Selasa, 11 Januari 2022.

Namun paska didemo oleh Nurhayat “PMII” Kadisdik tetap tegak berdiri. Kebijakan – kebijakannya terus mengusik nalar publik. Inovasi ditambah kontroversi, sama dengan Minus Prestasi.

Saya membayangkan jika oposisi berfungsi sebagaimana mestinya. Aktivis dan Mahasiswa seperti Nurhayat, tidak akan terus turun kejalan. Suara mereka akan di agregasi, lalu diucapkan kembali oleh wakil mereka di parlemen.

Demonstrasi ala Nurhayat “PMII” adalah konsekuensi logis dari tertutupnya percakapan politik. Sehingga percakapan itu harus dibongkar dan digelar ditengah jalan.

Kami salut dengan Nurhayat, ia mampu menangkap batin publik yang ragu terhadap kompetensi Kadisdik baru.

Nurhayat sekaligus menjadi fortune teller. Dia punya keahlian melihat masa depan pendidikan Sumenep, dengan meramalkan bahwa hadirnya Nahkoda baru akan membuat Kapal pengetahuan tenggelam ke dalam samudra kegelapan.

Baca Juga :  Simsalabim, Dana Hibah APBD ke Baznas Sumenep Tak Pernah Diaudit

Dari pergerakan Aktivis PMII ini, saya coba mencari tahu, apa sebenarnya yang ada dalam batin Nurhayat dan Mahasiswa PMII. Karena tidak kurang dari tiga kali dalam satu bulan mereka mendemo Kadisdik baru.

Hingga saat ini publik berharap cemas, menunggu Nurhayat atau aktivis PMII menjemput Kadisdik Pulang, atau dengan solusi yang paling radikal adalah dia harus memundurkan diri.

Menurut beberapa media yang saya baca, Kadisdik yang sebelumnya menjabat Kepala Disperindag juga banyak meninggalkan bekas luka. Bahkan sempat ada sejumlah aktivis yang melakukan aksi di KPK. Klik Disini

Massa aksi membawa spanduk bertuliskan “KPK Usut Proyek Pasar Batuan, Periksa Kadis Perindag Sumenep (Agus Dwi Saputra)” dengan hastag #KPKHebat.

Sejumlah Program dengan angka cukup fantastis seperti KIHT, Pasar Batuan, dan lain-lain.

Temuan BPK di sejumlah Pasar di Kabupaten Sumenep, semua berada dalam naungan Kadis Perindag pada waktu itu.

Publik pun berharap jangan sampai Nahkoda pendidikan berpikir Industri Pendidikan atau Perdagangan pengetahuan.

Teman saya di sebelah berpendapat. “Ini lelang jabatan yang anomali. Kita membayangkan masa depan pendidikan yang baik, tetapi dengan jejak memori yang buruk di masa lalu, sangat disayangkan jika setiap kebijakan berujung pada permintaan maaf,” ungkapnya dengan nada kesal.

Facebook Comments Box

Komentar ditutup.

Follow WhatsApp Channel okedaily.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Membedah Tuntutan Iran dan Inkonsistensi Trump di Selat Hormuz
Menagih Peran: Mengapa Diaspora Pengusaha Ra’as Belum Terjamah?
Aktivis Pembunuh Petani Tembakau
Dua Wajah Negara: Keadilan dalam 6 Hari dan 990 Hari
Catatan Fauzi AS: Kejujuran Memerlukan Ketulusan Hati
Teka-Teki PR Fiktif, Obrolan Warung Kopi Menuju Kebijakan Bupati Suka-Suka
Baznas Sumenep, Lembaga Amal atau Agensi Pencitraan?
Baznas Sumenep Berlari Kencang Meski Sepatunya Tak Resmi

Berita Terkait

Kamis, 9 April 2026 - 16:11 WIB

Membedah Tuntutan Iran dan Inkonsistensi Trump di Selat Hormuz

Rabu, 8 April 2026 - 19:58 WIB

Menagih Peran: Mengapa Diaspora Pengusaha Ra’as Belum Terjamah?

Senin, 6 April 2026 - 19:49 WIB

Aktivis Pembunuh Petani Tembakau

Kamis, 19 Maret 2026 - 03:57 WIB

Dua Wajah Negara: Keadilan dalam 6 Hari dan 990 Hari

Minggu, 27 Juli 2025 - 20:22 WIB

Catatan Fauzi AS: Kejujuran Memerlukan Ketulusan Hati

Berita Terbaru

Direktur RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep, dr. Erliyati, M.Kes. ©okedaily.com/istimewa

Nasional

RSUD Moh Anwar Sumenep Terus Perkuat Layanan Kesehatan 2026

Selasa, 28 Apr 2026 - 11:15 WIB

Terpantau, Ketua Banggar DPR RI, MH. Said Abdullah, menghadiri Musancab 2026 DPC PDI Perjuangan Kabupaten Sumenep. ©okedaily.com [foto: Mashudi Surahman]

Politik

Musancab 2026, PDIP Sumenep Targetkan 15 Kursi DPRD

Minggu, 26 Apr 2026 - 14:59 WIB

I Gede Tommy Sumertha, Anggota DPRD Kota Denpasar. Foto: AI

Berita

Ditolak 2021, Akhirnya PSEL Diteken

Minggu, 26 Apr 2026 - 09:44 WIB

Verified by MonsterInsights