Aktivis Pembunuh Petani Tembakau

- Editorial Team

Senin, 6 April 2026 - 19:49 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

📰 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif!

Pemerhati Kebijakan Publik, Fauzi AS. ©okedaily.com/istimewa

Pemerhati Kebijakan Publik, Fauzi AS. ©okedaily.com/istimewa

OkeDaily.com – Aktivis bajingan adalah manusia berbaju aktivis pembunuh petani tembakau dan industri kecil di Madura. Ya ada satu jenis suara yang belakangan paling bising: aktivis yang berbicara tanpa tanah kelahiran di kakinya, mereka didukung media, menulis tanpa data di tangannya.

Mereka berdiri di podium, dengan nada moral paling tinggi, lalu dengan ringan menyebut Madura sebagai “lumbung rokok ilegal”.

Kalimat itu terdengar gagah di ruang seminar. Tapi di desa-desa kami, kalimat itu adalah peluru. Itu bukan kritik, itu stempel. Bukan analisis, itu vonis. Dan seperti biasa, yang ditembak bukan sistem. Yang mati pelan-pelan adalah petani tembakau dan industri rakyat.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Madura bukan pabrik gelap seperti yang mereka bayangkan dalam laporan setengah matang. Madura adalah rumah, tempat orang-orang menanam tembakau dengan harapan sederhana, dapur tetap menyala, anak tetap sekolah, dan hidup tidak runtuh oleh kebijakan yang tak pernah benar-benar berpihak.

Tapi apa yang dilakukan “aktivis” ini? Ia datang, menunjuk, melapor lalu pergi. Seperti pemadam kebakaran yang justru membawa bensin. Kita tidak menutup mata, rokok ilegal itu ada, dan tidak ada orang waras yang membenarkan pelanggaran hukum.

Baca Juga :  Cocoklogi Penjelasan Pimpinan Cabang BRI Sumenep

Tapi yang lebih tidak waras adalah membangun narasi seolah-olah rokok ilegal itu lahir dari keserakahan semata, tanpa pernah menguliti sebabnya.

Kenapa praktik itu tumbuh? Karena negara hadir seperti algojo, bukan pelindung. Karena regulasi dibuat seperti pagar tinggi, tapi tanpa pintu masuk bagi rakyat kecil. Karena petani tembakau dipaksa hidup dalam sistem yang mahal untuk dipatuhi, tapi murah untuk dihukum. Harga ditekan. Akses dipersulit. Legalitas dipagari biaya dan birokrasi.

Lalu ketika rakyat mencari celah untuk bertahan hidup, mereka disebut kriminal. Dan aktivis yang seharusnya membela petani, justru menjadi pengeras suara tuduhan.

Lebih ironis lagi, media ikut menari. Tanpa riset lapangan. Tanpa membaca ekosistem. Tanpa membedakan antara pelaku besar dan petani kecil yang terseret arus. Cukup satu narasi “Madura = ilegal”, selesai. Judul naik, engagement tinggi, empati mati. Ini bukan jurnalisme, ini produksi stigma perusak Madura.

Pertanyaannya sederhana, dan menyakitkan, apakah mereka pernah duduk bersama petani yang gagal panen, yang dulu harga tembakaunya terus dipermainkan oligarki?

Apakah mereka tahu berapa banyak tokoh pesantren yang diam-diam menopang ekonomi tembakau agar tidak jatuh ke tangan kartel besar?

Baca Juga :  Disdik Dikelola Bak Warung Kaki Lima, SPJ Rampung Anggaran Pulang Kampung

Apakah mereka pernah membaca upaya serius para Kiai untuk menghasilkan naskah akademik Kawasan Ekonomi Khusus Tembakau Madura yang justru ingin menarik industri ini keluar dari bayang-bayang ilegalitas?

Atau mereka hanya hafal nama, angka, dan jargon tanpa pernah menyentuh manusia di belakang rumahnya?

Aktivis sejati adalah jembatan, bukan algojo sosial. Ia menghubungkan rakyat dengan kebijakan, bukan menjual rakyat sebagai bahan bakar popularitas. Ia menggugat sistem, bukan menumbalkan tetangga dan komunitasnya sendiri.

Kalau memang ada dugaan keterlibatan aparat atau permainan dalam struktur, dorong sampai akar. Bongkar kebijakan yang menindas. Paksa negara hadir sebagai solusi. Itu kerja aktivis. Bukan sekadar menyebut nama, membuat gaduh, lalu meninggalkan luka yang harus ditanggung oleh saudara sendiri.

Mari kita jujur, menyerang pengusaha kecil dan petani dengan label “ilegal” itu bukan keberanian, itu kemalasan intelektual yang dibungkus moralitas.

Masalah rokok ilegal bukan sekadar soal hukum. Ini soal ekosistem yang timpang. Selama negara lebih suka menindak daripada membina, selama legalitas hanya ramah bagi pemain besar, selama petani dibiarkan sendirian menghadapi pasar, maka praktik di wilayah abu-abu itu akan terus hidup.

Baca Juga :  Aneh Tapi Nyata, SOP Pembakaran Dapur di BRI

Dan setiap kali aktivis atau media datang tanpa empati, tanpa data, tanpa solusi, mereka tidak sedang memperbaiki keadaan. Mereka sedang mempercepat kematian. Bukan kematian industri. Tapi kematian harapan petani di rumahnya sendiri.

Madura tidak butuh penghakiman. Madura butuh keadilan. Kami tidak menolak hukum. Kami menolak hukum yang tajam ke bawah, tumpul ke atas, lalu dipropagandakan sebagai kebenaran tunggal.

Jadi sebelum kau menyebut tanah kelahiranmu sebagai “lumbung ilegal”, cobalah bertanya: Siapa yang menciptakan kondisi ini? Siapa yang diuntungkan? Dan siapa yang terus-menerus dijadikan korban? Karena yang paling berbahaya hari ini bukan rokok ilegal, melainkan aktivisme yang kehilangan nurani, dan media tanpa data yang kehilangan akal sehatnya.

Oleh: Fauzi AS, Pemerhati Kebijakan Publik

Tulisan opini ini sepenuhnya merupakan tanggungjawab penulis, dan tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi media online okedaily.com.

Kanal opini (kopini) media online okedaily.com terbuka untuk umum. Maksimal panjang naskah 4.000 karakter, atau sekitar 600 kata.

Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri anda dan nomor telepon yang bisa dihubungi. Kirim ke alamat e-mail: opini@okedaily.com.

Facebook Comments Box

Sumber Berita: okedaily.com

Follow WhatsApp Channel okedaily.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Related News

Jangan Biarkan Indonesia Dijajah Algoritma Asing
Gendang Barat dan Sinyal Persoalan Lingkungan di Pulau Sapudi
Dibalik Tirai Newsroom Jaga Desa
Maulid Nabi dan Transformasi Nilai-nilai Profetik
Fauzi AS: Merdeka di Tiang Bendera
Sumenep Kepulauan: Mengganti Nama atau Mengganti Nasib?
Polresta Sumenep: Pangkat Naik, Pintu Informasi Turun
Dilema Tafsir Kepemimpinan Politik dan Birokrasi

Related News

Kamis, 1 Oktober 2026 - 16:38 WIB

Jangan Biarkan Indonesia Dijajah Algoritma Asing

Minggu, 6 September 2026 - 15:37 WIB

Gendang Barat dan Sinyal Persoalan Lingkungan di Pulau Sapudi

Jumat, 4 September 2026 - 10:27 WIB

Dibalik Tirai Newsroom Jaga Desa

Selasa, 25 Agustus 2026 - 10:30 WIB

Maulid Nabi dan Transformasi Nilai-nilai Profetik

Senin, 17 Agustus 2026 - 13:10 WIB

Fauzi AS: Merdeka di Tiang Bendera

Latest News