OkeDaily – Pak Presiden, Pak Menhan, saya bukan ahli kecerdasan buatan. Bukan profesor komputer yang setiap hari bercengkerama dengan algoritma, machine learning, neural network, atau tumpukan kode yang bagi orang awam kadang lebih mirip mantra.
Saya hanya membaca, melihat, mengikuti. Dan semakin lama mengikuti perkembangan Artificial Intelligence, semakin saya merasa bahwa ukuran kekuatan sebuah negara sedang berubah.
Dulu, negara kuat dihitung dari jumlah tentaranya, kapal perang, pesawat tempur, cadangan emas, dan luas wilayahnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Hari ini muncul ukuran baru. Siapa menguasai data. Siapa memiliki algoritma. Siapa menguasai chip. Siapa memiliki kekuatan komputasi. Dan siapa yang mampu membuat mesin cerdas bekerja untuk kepentingan negaranya.
Di situlah saya mulai khawatir. Bukan karena AI terlalu pintar. Tetapi jangan-jangan kita terlalu santai.
Penjajahan yang Tak Lagi Membawa Kapal
Sejarah mengajarkan bahwa penjajahan dulu datang bersama kapal, tentara, meriam, dan bendera. Penjajahan digital bisa jauh lebih sopan. Tidak perlu kapal merapat. Tidak perlu serdadu turun. Tidak perlu benteng dibangun.
Cukup sebuah aplikasi. Kita mengunduhnya sendiri. Menyetujui persyaratannya sendiri. Memasukkan data sendiri. Melatih algoritmanya setiap hari.
Lalu, lucunya, kita mungkin membayar pula untuk memakai kecerdasan yang ikut tumbuh dari aktivitas kita sendiri.
Dulu rempah-rempah dibawa keluar negeri. Jangan sampai sekarang giliran perilaku, kebiasaan, preferensi, pola konsumsi, bahkan cara masyarakat berpikir yang menjadi komoditas berikutnya.
Sebab data modern bukan sekadar nama, alamat, dan nomor telepon. Data adalah perilaku. Apa yang kita beli. Apa yang kita baca. Apa yang kita cari. Apa yang kita takutkan. Apa yang membuat kita marah. Dan apa yang membuat kita percaya.
Dalam ekonomi AI, data adalah salah satu bahan bakar. Negara yang mempunyai bahan bakar tetapi tidak mempunyai mesinnya akan terus berada di posisi pemasok dan pengguna.
Beberapa tahun lalu, kita kagum karena AI bisa menjawab pertanyaan. Sekarang kekaguman itu mulai terasa kuno.
AI bergerak menuju agentic AI: sistem yang bukan hanya menjawab, tetapi dapat diberi tujuan, mencari informasi, membandingkan data, menyusun pekerjaan, menggunakan perangkat lunak, berinteraksi dengan sistem lain, dan menjalankan rangkaian tindakan.
Hari ini kita berkata “Jelaskan persoalan ini”. Besok perintahnya bisa berubah “Kelola sistem ini”. Itu dua dunia yang berbeda.
Ketika mesin hanya memberikan jawaban, manusia masih memegang kendali langsung. Ketika mesin mulai diberi kewenangan melakukan tindakan, pertanyaannya berubah, siapa sebenarnya yang memegang tangan siapa?.
Karena itulah AI yang masuk ke sistem strategis tidak cukup hanya pintar. Ia harus dapat diaudit, dibatasi dan dihentikan.
Harus ada audit log. Pembatasan hak akses, Sandbox, Traceability, Red teaming, Human oversight. Dan pada sistem berisiko tinggi, harus ada mekanisme penghentian ketika sesuatu berjalan di luar batas.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya




![Pengamat Kebijakan Publik, Fauzi AS ingatkan pentingnya kedaulatan AI sebagai kedaulatan negara. ®okedaily.com [Foto: Dok. Pribadi]](https://okedaily.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG_20261001_163055.jpg?v=1790847107)

![GMNI Sumenep menggelar mimbar bebas di depan Kantor Pemkab Sumenep. Mereka mempertanyakan urgensi dan manfaat konkret wacana perubahan nomenklatur. ®okedaily.com [Foto: Ahmad Fauzan]](https://okedaily.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG_20261006_173301-225x129.jpg?v=1791285201)
![GPS saat menyampaikan aspirasi terkait tata kelola pemerintahan Desa Saobi kepada DPMD Kabupaten Sumenep. Audiensi tersebut menjadi ruang penyampaian sejumlah pertanyaan publik mengenai pelayanan, transparansi anggaran, partisipasi BPD dan aparatur desa, serta keterbukaan informasi. ®okedaily.com [Foto: Ahmad Fauzan]](https://okedaily.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG_20261006_171734-225x129.jpg?v=1791281902)
![Perkuat barisan, SMSI Sumenep menggelar konsolidasi untuk mendorong media lokal Sumenep agar mampu menembus pasar nasional. ®okedaily.com [Foto: Dok. SMSI Sumenep]](https://okedaily.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG_20261006_125423-225x129.jpg?v=1791266735)
![Kepala Disperkimhub Sumenep (kanan) bersama Kepala Bapenda Sumenep (kiri) saat operasi gabungan di Batuan. ®okedaily.com [Foto: Istimewa]](https://okedaily.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG_20261006_033315-225x129.jpg?v=1791263194)
![Petugas gabungan dari UPT PPD Sumenep, Bapenda, Satlantas Polresta Sumenep dan Disperkimhub melakukan Operasi Gabungan di Jalan Raya Sumenep-Lenteng. ®okedaily.com [Foto: Istimewa]](https://okedaily.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG_20261006_033236-225x129.jpg?v=1791262717)



![Ketua SMSI Sumenep, Wahyudi saat membuka Pelatihan Literasi Jurnalistik, tegaskan sekolah harus melek pers di era digital. ®okedaily.com [Foto: Dok. SMSI Sumenep]](https://okedaily.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260926_132734-360x200.jpg?v=1790404289)
![Ketua PW GP Ansor Bali menegaskan bahwa kaderisasi adalah nyawa organisasi dalam sebuah agenda kaderisasi di Bali. ®okedaily.com [Foto: Dok. GP Ansor Bali]](https://okedaily.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260919_193843-360x200.jpg?v=1789821895)
![Simbol Kebanggaan, Rektor Prof. Nurhayati, menyerahkan bendera kepada Dekan FKM UINSU. Penyerahan ini menjadi simbol semangat dan komitmen fakultas. ®okedaily.com [Foto: Kael Harahap]](https://okedaily.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260907_194012-360x200.jpg?v=1788785678)
![Mendikdasmen RI, Abdul Mu’ti, memberikan arahan dalam Rapat Koordinasi Daerah Revitalisasi Sekolah di Hotel Grand Sahid Jaya, Jl. Jenderal Sudirman. ®okedaily.com [foto: smsi jatim]](https://okedaily.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260905_183054-360x200.jpg?v=1788611300)
![Tim visitator Unhas meninjau langsung pelaksanaan PPK Ormawa 2026 tim cara’de di Desa Tinggimae. ®okedaily.com [foto: istimewa]](https://okedaily.com/wp-content/uploads/2026/08/IMG_20260826_183343-360x200.jpg?v=1787744048)
