Jangan Biarkan Indonesia Dijajah Algoritma Asing

- Editorial Team

Kamis, 1 Oktober 2026 - 16:38 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Pengamat Kebijakan Publik, Fauzi AS ingatkan pentingnya kedaulatan AI sebagai kedaulatan negara. ®okedaily.com [Foto: Dok. Pribadi]

Pengamat Kebijakan Publik, Fauzi AS ingatkan pentingnya kedaulatan AI sebagai kedaulatan negara. ®okedaily.com [Foto: Dok. Pribadi]

OkeDaily – Pak Presiden, Pak Menhan, saya bukan ahli kecerdasan buatan. Bukan profesor komputer yang setiap hari bercengkerama dengan algoritma, machine learning, neural network, atau tumpukan kode yang bagi orang awam kadang lebih mirip mantra.

Saya hanya membaca, melihat, mengikuti. Dan semakin lama mengikuti perkembangan Artificial Intelligence, semakin saya merasa bahwa ukuran kekuatan sebuah negara sedang berubah.

Dulu, negara kuat dihitung dari jumlah tentaranya, kapal perang, pesawat tempur, cadangan emas, dan luas wilayahnya.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Hari ini muncul ukuran baru. Siapa menguasai data. Siapa memiliki algoritma. Siapa menguasai chip. Siapa memiliki kekuatan komputasi. Dan siapa yang mampu membuat mesin cerdas bekerja untuk kepentingan negaranya.

Baca Juga :  Kebijakan Ngawur Bupati Sumenep, Dikadalin Anak Buahnya?

Di situlah saya mulai khawatir. Bukan karena AI terlalu pintar. Tetapi jangan-jangan kita terlalu santai.

Penjajahan yang Tak Lagi Membawa Kapal

Sejarah mengajarkan bahwa penjajahan dulu datang bersama kapal, tentara, meriam, dan bendera. Penjajahan digital bisa jauh lebih sopan. Tidak perlu kapal merapat. Tidak perlu serdadu turun. Tidak perlu benteng dibangun.

Cukup sebuah aplikasi. Kita mengunduhnya sendiri. Menyetujui persyaratannya sendiri. Memasukkan data sendiri. Melatih algoritmanya setiap hari.

Lalu, lucunya, kita mungkin membayar pula untuk memakai kecerdasan yang ikut tumbuh dari aktivitas kita sendiri.

Dulu rempah-rempah dibawa keluar negeri. Jangan sampai sekarang giliran perilaku, kebiasaan, preferensi, pola konsumsi, bahkan cara masyarakat berpikir yang menjadi komoditas berikutnya.

Baca Juga :  BPBD Sumatera Utara Dukung Penuh Kegiatan Festival Sungai Denai

Sebab data modern bukan sekadar nama, alamat, dan nomor telepon. Data adalah perilaku. Apa yang kita beli. Apa yang kita baca. Apa yang kita cari. Apa yang kita takutkan. Apa yang membuat kita marah. Dan apa yang membuat kita percaya.

Dalam ekonomi AI, data adalah salah satu bahan bakar. Negara yang mempunyai bahan bakar tetapi tidak mempunyai mesinnya akan terus berada di posisi pemasok dan pengguna.

Beberapa tahun lalu, kita kagum karena AI bisa menjawab pertanyaan. Sekarang kekaguman itu mulai terasa kuno.

AI bergerak menuju agentic AI: sistem yang bukan hanya menjawab, tetapi dapat diberi tujuan, mencari informasi, membandingkan data, menyusun pekerjaan, menggunakan perangkat lunak, berinteraksi dengan sistem lain, dan menjalankan rangkaian tindakan.

Baca Juga :  Cocoklogi Penjelasan Pimpinan Cabang BRI Sumenep

Hari ini kita berkata “Jelaskan persoalan ini”. Besok perintahnya bisa berubah “Kelola sistem ini”. Itu dua dunia yang berbeda.

Ketika mesin hanya memberikan jawaban, manusia masih memegang kendali langsung. Ketika mesin mulai diberi kewenangan melakukan tindakan, pertanyaannya berubah, siapa sebenarnya yang memegang tangan siapa?.

Karena itulah AI yang masuk ke sistem strategis tidak cukup hanya pintar. Ia harus dapat diaudit, dibatasi dan dihentikan.

Harus ada audit log. Pembatasan hak akses, Sandbox, Traceability, Red teaming, Human oversight. Dan pada sistem berisiko tinggi, harus ada mekanisme penghentian ketika sesuatu berjalan di luar batas.

Facebook Comments Box

Follow WhatsApp Channel okedaily.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Related News

Gendang Barat dan Sinyal Persoalan Lingkungan di Pulau Sapudi
Dibalik Tirai Newsroom Jaga Desa
Maulid Nabi dan Transformasi Nilai-nilai Profetik
Fauzi AS: Merdeka di Tiang Bendera
Sumenep Kepulauan: Mengganti Nama atau Mengganti Nasib?
Polresta Sumenep: Pangkat Naik, Pintu Informasi Turun
Dilema Tafsir Kepemimpinan Politik dan Birokrasi
Supremasi Sipil, Bahaya Laten Korupsi dan Menguatnya Peran Militer

Related News

Kamis, 1 Oktober 2026 - 16:38 WIB

Jangan Biarkan Indonesia Dijajah Algoritma Asing

Minggu, 6 September 2026 - 15:37 WIB

Gendang Barat dan Sinyal Persoalan Lingkungan di Pulau Sapudi

Jumat, 4 September 2026 - 10:27 WIB

Dibalik Tirai Newsroom Jaga Desa

Selasa, 25 Agustus 2026 - 10:30 WIB

Maulid Nabi dan Transformasi Nilai-nilai Profetik

Senin, 17 Agustus 2026 - 13:10 WIB

Fauzi AS: Merdeka di Tiang Bendera

Latest News

Pengamat Kebijakan Publik, Fauzi AS ingatkan pentingnya kedaulatan AI sebagai kedaulatan negara. ®okedaily.com [Foto: Dok. Pribadi]

Kopini

Jangan Biarkan Indonesia Dijajah Algoritma Asing

Kamis, 1 Okt 2026 - 16:38 WIB