Catatan Maksum Zuhdi : Politik Jungkir Balik

- Editorial Team

Rabu, 12 Oktober 2022 - 18:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Anggota Bidang Kaderisasi PMII Kota Malang, Maksum Zuhdi. ©Okedaily.com/ist

Anggota Bidang Kaderisasi PMII Kota Malang, Maksum Zuhdi. ©Okedaily.com/ist

OKEDAILY.COM Dalam beberapa tahun terakhir kita digiring dan dibina untuk menjadi manusia munafik dan ganas. Petualangan politik mengantarkan kita pada karakter terburuk dalam makna demokrasi. Istilah kader semi politisi (muda) konon menjadi brand keren untuk diucapkan dalam banyak forum.

“Akulah politisi muda yang memiliki kendali besar dalam setiap kontestasi dan berjalannya organisasi,” kira-kira seperti itu kalimat yang acap kali diucapkan oleh mereka yang merasa si paling-paling di organisasi wkwk, tentunya sembari membusungkan dadanya!.

Kalau menurut idola saya Almarhum Prof Sahetapy, bilamana melihat situasi dan kondisi Indonesia masa kini, sudah ibarat “Rumah Sakit Gila” yang dihuni sebagian orang yang sudah “Gila dan Setengah Gila” (Gila Kekuasaan, Pangkat, dan Jabatan) tidak memiliki moral dan integritas. Yaa rumah sakit gila itu kini adalah rumah kami. Bedanya tidak ada yang setengah gila disini (semua gila).

Integritas organisasi serta moralitas demokrasi dihilangkan. Beberapa kader berkumpul dan berdiskusi menyimpulkan dengan pertanyaan paling sederhana, apa yang sedang terjadi? Kapan jotas-jotos ini berakhir?

Rasanya setiap momentum yang sama masalahnya pun sama, pada intinya angkat senjata lalu perang. Tidak ada kata persaudaraan, lantang terdengar suara “you are my enemy!” hahaa.

Sebenarnya banyak yang ingin bersuara bahkan berteriak, tapi apa daya mereka tidak memiliki kekuatan. Dominasi mereka ada pada keberanian dalam memperjuangkan nilai-nilai, namun seringnya dibenturkan dengan kekuatan besar yang dikendalikan oleh sosok yang tidak terlihat wujud dan keberadaanya.

Dalam istilah kuno disebut “manusia tak berpakaian/telanjang” ia tidak sadar bahwa sosoknya yang tidak terlihat itu justru menancapkan bayang-bayang dikepala banyak orang betapa terhinanya dia memakai pakaian lengkap tapi terbayang seperti telanjang.

Ada banyak sekali ambisi-ambisi gelap yang diatur sedemikian rupa. Terstruktur, massif dan rapi menggunakan kekuatan kekuasaan. Dengan role model seperti ini mengingatkan saya pada jaman sang jendral “The Smiling General” (Pie enak jamanku to?) yang segalanya dikendalikan dengan kekuasaan.

Baca Juga :  Komersialisasi Pendidikan Fakultas Pertanian Unisma, Apakah Bagian Dari Pendidikan Merdeka?

Nah… penting untuk saya sampaikan, kalau dulu mahasiswa berjuang menurunkan rezim “Orde Baru”, hari ini justru ada segelintir dari kita para mahasiswa yang melestarikan budaya “Orde Baru” wkwk, Aneh ngak? Sepertinya inilah bibit-bibit KKN… haha (just a joke). Sementara inikan baru ada istilah Neo Komunis, Neo Kapitalis, dan Neo Liberalis. Saya cetuskan istilah baru yaitu “Neo KKN” haha.

Munculnya banyak politisi amatiran yang bertingkah dan berlagak seolah paling penting dan berpengaruh sejagat raya seperti dinarasi awal adalah contoh salah satu kader yang pantas diberi sematan diatas politisi yaitu Politikus-kus-kus.

Kalau sudah gerak siapapun lewat. pokoke ngalah-ngalahi Presiden-lah wkwk. Cak-cek HP, telfon sana-sini dengan raut wajah kaku, rata dan serius. Lek Istilah dagelan jowone “macak gawat”. Biasa ae poo lak iso sehh… Mas? Wkwk.

Baca Juga :  Tanker Kuasai Pelabuhan Sapeken, Penumpang KM Sanus 51 Turun di Tengah Laut

Oke kembali ke-kengawuran pembahasan. Eh kayaknya cukup, sudah panjang ternyata. Gini-gini apapun yang menjadi konflik hari ini adalah serangkaian kemeriahan yang tak berujung. Semua bergerak sesuai ambisi kekuasaan. Kalau kata orang belanda “terlalu banyak minum anggur diakhir tahun” mabuknya ngak ketolongan.

Beberapa kader yang ideal mengharapkan ada yang memiliki moral meskipun dalam jumlah sedikit. Pesta demokrasi akhir tahun semoga menjadi ajang bersalaman dan berpelukan. Walau mustahil tidak ada yang salah dari sekedar memanjatkan.

“Tidak ada istilah konstitusi bagi penguasa, apapun yang tidak sejalan dengan dirinya dan golongannya. Jangankan aturan, Tuhan pun akan mereka tentang!”

“Meskipun kejahatan lari secepat kilat, satu waktu kebenaran pasti akan mengalahkannya,” mengutip kata Almarhum Prof Sahetapy.

Facebook Comments Box

Follow WhatsApp Channel okedaily.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Related News

Gendang Barat dan Sinyal Persoalan Lingkungan di Pulau Sapudi
Dibalik Tirai Newsroom Jaga Desa
Maulid Nabi dan Transformasi Nilai-nilai Profetik
Fauzi AS: Merdeka di Tiang Bendera
Sumenep Kepulauan: Mengganti Nama atau Mengganti Nasib?
Polresta Sumenep: Pangkat Naik, Pintu Informasi Turun
Dilema Tafsir Kepemimpinan Politik dan Birokrasi
Supremasi Sipil, Bahaya Laten Korupsi dan Menguatnya Peran Militer

Related News

Minggu, 6 September 2026 - 15:37 WIB

Gendang Barat dan Sinyal Persoalan Lingkungan di Pulau Sapudi

Jumat, 4 September 2026 - 10:27 WIB

Dibalik Tirai Newsroom Jaga Desa

Selasa, 25 Agustus 2026 - 10:30 WIB

Maulid Nabi dan Transformasi Nilai-nilai Profetik

Senin, 17 Agustus 2026 - 13:10 WIB

Fauzi AS: Merdeka di Tiang Bendera

Senin, 3 Agustus 2026 - 19:58 WIB

Sumenep Kepulauan: Mengganti Nama atau Mengganti Nasib?

Latest News

Fero Feriyanto, salah satu figur muda yang mulai diperbincangkan masyarakat menjelang dinamika Pilkades Gayam 2027. ®okedaily.com

Politik

Fero Feriyanto, Figur Muda dan Harapan Baru Desa Gayam

Jumat, 11 Sep 2026 - 13:54 WIB