OkeDaily.com – Hari ini, Minggu 13 Juli 2025. Pelukan saya terasa lebih panjang dari biasanya. Tangan saya menggenggam erat tubuh mungil yang mulai menjelma lelaki.
Anak sulung saya, Mehdi Achmadinejad, (Dino) nama panggilannya, berdiri di depan gapura besar bertuliskan “Darullughah Wadda’wah”- tempat yang bukan sekadar pondok, tapi miniatur kehidupan yang sesungguhnya.
Sebagai ayah yang tak pernah mudah melepaskan. Apalagi anak pertama. Apalagi ke tempat jauh yang tidak setiap hari bisa saya jenguk, tidak setiap malam bisa didekap.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun hati ini perlahan luruh, berganti dengan haru dan harap, ketika saya melihat Dino, seketika dia berpaling dengan wajah sedih yang Ia sembunyikan.
Dalwa bukan sekadar bangku-bangku belajar atau kamar-kamar asrama, tapi tempat tempaan. Tapak awal bagi anak saya untuk menjadi manusia yang kuat iman, luas wawasan, dan lapang hatinya.
Bukan sembarang pondok. Didirikan oleh Al-Habib Hasan Baharun sejak 1981, pesantren ini tumbuh dari rumah kontrakan menjadi mercusuar ilmu dan akhlak dengan ribuan santri dan empat kampus.
Di sini Dino akan belajar, bukan hanya tentang fiqh dan nahwu, tetapi juga tentang bagaimana hidup sebagai seorang mukmin sejati: mandiri, jujur, dan bertanggung jawab.
Saya tahu, suatu hari nanti, saya tidak lagi bisa menjadi jawaban atas semua tanya Dino. Maka biarlah Dalwa menjadi tempatnya mencari.
Di sini, ia akan mengenal artinya menunggu giliran, artinya bangun malam dalam dingin, artinya bersyukur atas nasi dan tempe, dan artinya bersahabat dengan kesabaran.
Saya percaya, yang diajarkan Dalwa bukan hanya kitab kuning, tapi kitab kehidupan. Di sinilah ia akan belajar memanusiakan waktu.
Dari Tsanawiyah, sampai Aliyah, yang setiap jenjang akan menempa, bukan memanjakan.
Saya bukan ayah yang sempurna. Tapi saya ingin Dino menjadi insan yang mendekati ridha-Nya. Maka saya titipkan dia, bukan hanya pada guru-gurunya, tapi pada setiap doa di langit Dalwa yang dihuni para pecinta ilmu.
Saya berbisik pelan sebelum berpisah: “Nak, ayah mencintaimu, tapi Allah lebih mencintaimu. Ayah mendidik mu sebisanya, tapi para ulama akan membimbing mu dengan do’a-do’anya”.
Dan jika nanti engkau rindu, ingatlah…, Bundamu juga sedang merindukanmu, sambil mendoakan mu dalam setiap sujud malam.”
Mungkin nanti Dino akan berubah. Tidak lagi merengek minta dibelikan mainan. Tidak lagi memeluk saya di pagi hari.
Tapi jika suatu hari ia memeluk Qur’an dengan hati yang teduh dan akhlak yang lembut, maka itulah pelukan paling erat yang pernah saya impikan dalam hidup saya.
Selamat menapaki tapak-tapak awal, anakku. Di Dalwa, tempat para pecinta ilmu menulis takdirnya.
Di Dalwa, ayah melepasmu… untuk didekap lebih erat oleh Tuhan. Dari Ayahmu, yang hari ini belajar ikhlas.









