Aparat Represif, Negara Tanpa Solusi

- Editorial Team

Minggu, 8 Juni 2025 - 20:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi kecelakaan PJR kejar-kejaran mobil muat rokok ilegal di Bangkalan. ©Okedaily.com

Ilustrasi kecelakaan PJR kejar-kejaran mobil muat rokok ilegal di Bangkalan. ©Okedaily.com

OkeDaily.com Di negeri tembakau, sebutan lain Pulau Madura, bukan sekadar daun emas pengisi kas negara, tapi juga ladang subur bagi aparat pemalak dan birokrat pemangsa.

Aromanya menyengat bukan karena kualitas tembakaunya, melainkan bau anyir dari hukum yang dipakai untuk menakut-nakuti si kecil dan melindungi si besar.

Setiap hari, pengangkut rokok ilegal ditangkap. Travel-travel kecil diburu. Sementara pabriknya entah di mana, mungkin tersembunyi di balik plakat CSR bertuliskan “Mitra Pemerintah dalam Mencerdaskan Bangsa”.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Baca Juga :  Sahabat Alfian : Duka Kudeta Kritis Argumen oleh Kritis Sentimen

Negara ini memang canggih. Bisa menemukan truk berisi rokok ilegal di tikungan desa, tapi pura-pura buta pada triliunan uang cukai yang menguap entah ke mana.

Aparat Represif, Negara Tanpa Solusi
Mobil Suzuki Ertiga muat rokok ilegal ringsek akibat tabrak rumah warga di Bangkalan saat dikejar PJR. ©Okedaily.com/Istimewa

Terbaru, dua mobil polisi dan satu mobil pengangkut rokok ilegal berserempet di Bangkalan. Untungnya hanya rumah warga yang rusak. Rupanya nyawa rakyat kecil memang sudah dijadikan mainan.

Tapi mari kita jujur, siapa yang benar-benar bersalah? Petani tembakau yang tidak diberi pilihan hidup layak? Buruh linting yang upahnya bahkan tak cukup beli sebungkus rokok yang mereka produksi? Atau sopir travel yang terpaksa menyelundup demi susu anaknya?

Baca Juga :  Didukung Hantu, Pemilihan Kacong Cebbing Sumenep Hadirkan Aroma Mistis?

Pemerintah sibuk bicara penegakan hukum, tapi lupa menyediakan peta jalan keluar dari kemiskinan. Yang ditekan justru mereka yang mencoba bertahan, bukan mereka yang mengatur permainan.

Saya sudah pernah menulis, “TNI Serbu Bea Cukai”, bukan untuk provokasi, tapi sebagai metafora bahwa aparat yang seharusnya menjaga bangsa justru terjebak dalam perang melawan rakyat.

Maka, jika pemerintah masih ingin bernapas dari sektor tembakau, dengarkan saran ini baik-baik yaitu, empat usulan serius dari rakyat kecil yang tak punya lobi:

Baca Juga :  Lembaran XIV, Legalisasi Seragam Macan Hingga Perbudakan

1. Amnesti cukai bagi UMKM rokok tradisional. Negara jangan hanya ahli memberi amnesti untuk “koruptor pajak”, tapi tak pernah memikirkan amnesti untuk pengusaha rokok rumahan. Mereka yang ingin keluar dari bayang-bayang ilegal justru dipaksa menghadapi rimba birokrasi yang lebih ganas dari razia aparat.

2. Pendampingan nyata dari Pemerintah Daerah. Dinas koperasi dan perindustrian, semestinya lebih sibuk mengadakan pelatihan sablon daripada mendampingi sektor tembakau yang jelas menyumbang DBHCHT (Dana bagi hasil cukai dan hasil tembakau). Di Madura, petani tembakau lebih hafal harga lintingan daripada jadwal pelatihan dari pemerintah.

3. Akses mudah ke pita cukai dan skema subsidi, karena pita cukai adalah mimpi premium bagi pengusaha kecil. Untuk mendapatkannya, mereka harus punya gudang, jaminan bank, dan modal bersih. Seperti mau masuk surga lewat jalur umum. Padahal, mereka hanya ingin hidup dengan wajar, bukan kaya mendadak.

Aparat Represif, Negara Tanpa Solusi
Nampak ringsek PJR pemburu mobil suzuki ertiga muat rokok ilegal di Bangkalan. ©Okedaily.com/Istimewa

4. Branding “Rokok Lokal Legal” sebagai proteksi kultural. Terkadang negara pun rajin membuat label halal, organik, dan bebas gula, tapi tak pernah terpikir membuat label “Rokok Lokal Legal”. Padahal, ini bukan hanya soal dagang, tapi soal identitas budaya. Yang kalah bukan kualitasnya, tapi akses dan pengakuannya.

Baca Juga :  Catatan Fauzi AS: Kejujuran Memerlukan Ketulusan Hati

Sudah selayaknya negara buat kebijakan, jangan cuma membuat operasi tangkap. Terkadang negara ini terlalu sering meniru gaya kolonial; menindak pedagang, dan membiarkan pemilik mesin dan gudang.

Padahal yang dibutuhkan bukan lagi palu emas yang mahal tapi tak tepat sasaran, melainkan rasa empati dan desain kebijakan yang mendengar suara dapur rakyat. Razia boleh jalan, tapi buatkan jembatan legal bagi yang mau taat. Sosialisasi bukan cuma soal spanduk, tapi soal pendampingan nyata.

Kalau tidak, jangan heran bila rakyat kecil mulai memproduksi amarah yang tak bisa di-cukai-kan. Sebab, jika petani kehilangan harapan, dan pengusaha kecil tak diberi tempat, maka negeri ini akan dipenuhi asap. Bukan dari rokok ilegal, tapi dari amarah rakyat yang dapurnya dibakar oleh kebijakan yang tuli.

Baca Juga :  Sumenep Kepulauan: Mengganti Nama atau Mengganti Nasib?

Catatan untuk Pak Letjen dan para pejabat di Jakarta; jangan hanya melihat asap dari batang rokok ilegal, lihat juga api kemiskinan yang menyalak di bawahnya.

Kalau negara ingin dihormati, maka berhentilah mencurigai rakyat miskin sebagai kriminal. Mereka bukan musuh hukum. Mereka hanya korban dari sistem yang terlalu lama berpihak pada pabrik besar dan pemilik izin.

Penulis: Fauzi AS, Pemerhati Kebijakan Publik.

Tulisan opini ini sepenuhnya merupakan tanggungjawab penulis, dan tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi media online okedaily.com.

Kanal opini (kopini) media online okedaily.com terbuka untuk umum. Maksimal panjang naskah 4.000 karakter, atau sekitar 600 kata.

Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri anda dan nomor telepon yang bisa dihubungi. Kirim ke alamat e-mail: opini@okedaily.com.

Facebook Comments Box

Follow WhatsApp Channel okedaily.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Related News

Fauzi AS: Merdeka di Tiang Bendera
Sumenep Kepulauan: Mengganti Nama atau Mengganti Nasib?
Polresta Sumenep: Pangkat Naik, Pintu Informasi Turun
Dilema Tafsir Kepemimpinan Politik dan Birokrasi
Supremasi Sipil, Bahaya Laten Korupsi dan Menguatnya Peran Militer
Catatan Fauzi AS: Jaksa dan Polri Bugil di Tengah Jalan
Catatan Fauzi AS: Penjahat Bernama Prabowo
Sang Jenderal yang Tak Menunggu Telepon

Related News

Senin, 17 Agustus 2026 - 13:10 WIB

Fauzi AS: Merdeka di Tiang Bendera

Senin, 3 Agustus 2026 - 19:58 WIB

Sumenep Kepulauan: Mengganti Nama atau Mengganti Nasib?

Sabtu, 18 Juli 2026 - 14:14 WIB

Polresta Sumenep: Pangkat Naik, Pintu Informasi Turun

Kamis, 16 Juli 2026 - 22:54 WIB

Dilema Tafsir Kepemimpinan Politik dan Birokrasi

Selasa, 14 Juli 2026 - 12:13 WIB

Supremasi Sipil, Bahaya Laten Korupsi dan Menguatnya Peran Militer

Latest News

Pemerhati Kebijakan Publik, Fauzi AS. ®okedaily.com [Foto: Istimewa]

Kopini

Fauzi AS: Merdeka di Tiang Bendera

Senin, 17 Agu 2026 - 13:10 WIB