Baznas Sumenep, Lembaga Amal atau Agensi Pencitraan?

- Editorial Team

Kamis, 19 Juni 2025 - 16:45 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

📰 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif!

[Dok. Pribadi] Pemerhati Kebijakan Publik, Fauzi AS. ©Okedaily.com

[Dok. Pribadi] Pemerhati Kebijakan Publik, Fauzi AS. ©Okedaily.com

OkeDaily.com – Di Kabupaten Sumenep, amal kini tak hanya berbentuk sedekah, tapi juga sinematografi. Tak lagi cukup memberi bantuan, harus ada drone yang terbang, spanduk terbentang, dan senyum direkam dengan lensa tajam.

Inilah wajah baru dari zakat produktif, versi Baznas Sumenep. Tempat swafoto pun dipilih di tengah tegalan, seolah penerima betul-betul hasil wahyu dari langit.

Di bawah pimpinan Ahmad Rahman, Baznas Sumenep tampak lebih sibuk mengatur backdrop dan testimoni warga dibanding mengatur laporan keuangan ASN rendahan yang terpaksa berbagi keringatnya.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Program-programnya tak tanggung-tanggung, diantaranya ialah Sumenep Sehat, Sumenep Cerdas, Sumenep Berdaya, bahkan kini Sumenep Sinematik.

Baca Juga :  Piutang Belanja Pegawai Dinas Pendidikan Sumenep Dilirik, Ada yang Ngaku?

Semua disajikan lengkap dengan narasi menyentuh dan efek slow motion, seperti acara realitas televisi dengan judul “Bedah Rumah, Tapi Jangan Bedah Data”.

Contohnya terbaru: Bedah Rumah Mustahik milik Bapak Pusaet, warga Dusun Jeruk Purut, Desa Cabbiya, Kecamatan Talango.

Sudah bertahun-tahun ia hidup di rumah semi rapuh, dan kini akhirnya dibantu, bukan hanya oleh tukang, tapi oleh kamera dan copy writer.

“Bapak Pusaet layak mendapatkan bantuan bedah rumah karena sudah bertahun-tahun hidup di tempat yang tak layak,” kata Ahmad Rahman, penuh penghayatan.

Baca Juga :  Mahasiswa Krisis Berpikir Kritis di Bangku Perkuliahan

Kalimat itu seolah dirancang untuk dijadikan quote viral di feed Instagram Baznas. Program ini, katanya, adalah bukti pemanfaatan zakat secara produktif dan maslahat.

Tapi ketika publik bertanya substansi, berapa ASN yang dipotong gajinya? Mana aturannya? Mana datanya?, Baznas Sumenep memilih bungkam. Yang keluar justru angka dari jumlah media yang meliputnya. Seolah publik harus puas dengan berita, bukan jawaban.

ASN Mengeluh, Tapi Tak Berani Mengadu

Salah satu ASN Pemkab Sumenep yang enggan disebut namanya, sebut saja Pak Badrun, mengeluh dengan wajah lelah di meja kopi kantor.

“Saya dipotong zakat tiap bulan. Tapi sampai hari ini belum pernah ada pemberitahuan resmi, apalagi pilihan.

Baca Juga :  Teka-Teki PR Fiktif, Obrolan Warung Kopi Menuju Kebijakan Bupati Suka-Suka

“Rumah saya ngontrak, gaji pas-pasan, bahkan utang beras di toko kelontong masih belum lunas,” ujarnya sambil menatap sisa kopi yang mulai dingin.

Badrun bukan satu-satunya. Masih banyak ASN muda, honorer, hingga pegawai kontrak merasa diperlakukan seperti mesin ATM Baznas Sumenep yang tak boleh diprotes.

“Zakat jalan, transparansi ngumpet. Apa ini yang disebut ibadah sosial?”, gumamnya penuh tanda tanya.

Potongan zakat dilakukan secara otomatis, tanpa proses edukasi atau transparansi. Tak ada laporan, tak ada konfirmasi, tapi tetap dipaksa merasa bersalah kalau bertanya.

Baca Juga :  Poliklinik Bedah RSUD Moh. Anwar Sumenep Layani Pasien dengan Dua Dokter Spesialis

“Saya bukan tidak mau zakat. Tapi zakat itu amal, bukan kewajiban paksa. Apalagi kalau gaji belum cukup buat bayar utang sekolah anak,” keluh seorang pegawai lainnya.

Di sinilah masalahnya. Zakat jadi institusional, tapi pengelolaannya lebih mirip organisasi konten dengan tambahan media online. Kebaikan diukur dari jumlah berita, bukan jumlah pertanggungjawaban.

Ketika Amal Jadi Konten, Kritik Jadi Dosa

Baznas Sumenep seolah menjelma lembah suci yang tak boleh disentuh. Kritik dianggap ancaman. Pertanyaan dianggap kebencian.

Bahkan, saat seorang wartawan lokal bertanya soal audit zakat ASN, ia malah diberi press release soal bedah rumah. Kritik pun dibalas dengan angka-angka visual:

  • Sudah 120 rumah kami bantu.
  • Media sudah memberitakan 300 kali.
  • Kami viral 5 kali bulan ini.
Baca Juga :  Prabowo Copot Kepala BGN, Zulfikar Wijaya Apresiasi Langkah Tegas Presiden Prabowo

Mari kita bedah sedikit dari berita yang sudah lima kali viral. Apakah uang zakat boleh untuk anggaran bedah rumah?, Apakah uang zakat boleh untuk beli kursi roda?, Apakah uang zakat juga bisa buat bantuan sound sistem saat musim kampanye kemarin?.

Ya, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) diwajibkan menggunakan Sistem Informasi Manajemen BAZNAS (SIMBA) untuk pengelolaan zakat, infak, dan sedekah.

SIMBA adalah sistem yang dikembangkan oleh BAZNAS untuk memfasilitasi pendataan, pengumpulan, pendistribusian, pengesahan, dan pelaporan ZIS.

Untuk itu, Apakah Baznas Sumenep sudah patuh? Kita bedah pada episode berikutnya.

Baca Juga :  Meramal Sikap Diamnya Dibalik Program Pengadaan Batik ASN, Bupati Sumenep?

Tak ada satu pun data soal jumlah ASN yang dipotong, berapa total zakat yang masuk, dan bagaimana pertanggungjawabannya.

Program Baznas Sumenep tampaknya berjalan di dua jalur: satu untuk yang benar-benar miskin dan membutuhkan, satu lagi untuk keperluan dokumentasi dan persepsi publik. Sayangnya, jalur kedua lebih lancar, lebih terang, dan lebih viral.

Program Sejahtera, Tapi Rakyatnya Bingung

Ahmad Rahman, berkali-kali menegaskan bahwa Baznas Sumenep berkomitmen mengoptimalkan zakat untuk kesejahteraan masyarakat. Tapi hingga kini, persepsi di lapangan justru makin rancu.

  1. Apakah ini lembaga amal?
  2. Atau lembaga promosi?
  3. Apakah zakat digunakan untuk membantu mustahik?
  4. Atau justru untuk menjual narasi keberhasilan di tengah masyarakat yang belum sempat bertanya?
Baca Juga :  Minim Sosialisasi Hukum Perusahaan Tambak Udang, Pemerintah Kabupaten Sumenep Berbenah?

Publik punya hak tahu, bukan hanya hak menonton. Tapi di Sumenep, seolah-olah yang boleh tahu hanyalah kamera. Rakyat hanya diminta menonton, memuji, dan diam.

Zakat Bukan Bahan Promosi

Zakat adalah amanah. Tapi di tangan yang salah, ia bisa jadi alat legitimasi. Baznas Sumenep semestinya menjadi jembatan kebaikan, bukan billboard berjalan. Harusnya menjawab pertanyaan, bukan menumpuk dokumentasi.

Sebab jika terus begini, kita tak sedang membangun kesejahteraan, tapi hanya sedang membangun katalog amal yang estetis dan penuh efek bokeh.

Sekali lagi, saya ulang pesan untuk petinggi Baznas Sumenep, jangan perang media, sebab opini hanya berisi kritik dan koreksi terhadap badan pengelola dana umat. Jawab saja dengan data dengan cara sahabat.

Baca Juga :  Dua Wajah Negara: Keadilan dalam 6 Hari dan 990 Hari

Tapi kalau Baznas Sumenep memaksa, mari besok atau lusa mari kita bongkar-bongkar data, agar publik, ASN, dan APH tahu, dimulai dan di akhiri dari mana.

Penulis: Fauzi AS, Pemerhati Kebijakan Publik.

Tulisan opini ini sepenuhnya merupakan tanggungjawab penulis, dan tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi media online okedaily.com.

Kanal opini (kopini) media online okedaily.com terbuka untuk umum. Maksimal panjang naskah 4.000 karakter, atau sekitar 600 kata.

Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri anda dan nomor telepon yang bisa dihubungi. Kirim ke alamat e-mail: opini@okedaily.com.

Facebook Comments Box

Follow WhatsApp Channel okedaily.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Related News

Jangan Biarkan Indonesia Dijajah Algoritma Asing
Gendang Barat dan Sinyal Persoalan Lingkungan di Pulau Sapudi
Dibalik Tirai Newsroom Jaga Desa
Maulid Nabi dan Transformasi Nilai-nilai Profetik
Fauzi AS: Merdeka di Tiang Bendera
Sumenep Kepulauan: Mengganti Nama atau Mengganti Nasib?
Polresta Sumenep: Pangkat Naik, Pintu Informasi Turun
Dilema Tafsir Kepemimpinan Politik dan Birokrasi

Related News

Kamis, 1 Oktober 2026 - 16:38 WIB

Jangan Biarkan Indonesia Dijajah Algoritma Asing

Minggu, 6 September 2026 - 15:37 WIB

Gendang Barat dan Sinyal Persoalan Lingkungan di Pulau Sapudi

Jumat, 4 September 2026 - 10:27 WIB

Dibalik Tirai Newsroom Jaga Desa

Selasa, 25 Agustus 2026 - 10:30 WIB

Maulid Nabi dan Transformasi Nilai-nilai Profetik

Senin, 17 Agustus 2026 - 13:10 WIB

Fauzi AS: Merdeka di Tiang Bendera

Latest News