DENPASAR, Okedaily.com — Penutupan TPA (Tempat Pemrosesan Akhir) Suwung yang dijadwalkan pada 23 Desember 2025 bertepatan dengan libur Natal dan Tahun Baru, yang merupakan puncak kunjungan wisatawan internasional dan domestik ke Bali.
Wakil Ketua DPRD Kota Denpasar sekaligus Ketua DPC Partai Gerindra Kota Denpasar, Ida Bagus Yoga Adi Putra (Gus Yoga), mengingatkan bahwa tanpa kesiapan sistem pengelolaan sampah yang matang, penutupan TPA Suwung dapat berdampak langsung pada kebersihan kota dan citra pariwisata Bali.
“Denpasar dan Badung bisa benar-benar ‘suwung’ jika TPA Suwung ditutup tanpa solusi yang siap. Ini bukan sekadar soal teknis, tetapi menyangkut wajah Bali sebagai destinasi wisata dunia,” ujar Gus Yoga, Minggu (14/12/2025).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurutnya, Bali yang terkenal dengan wisata yang asri bisa berubah citra menjadi wisata kumuh jika penanggulangan sampah tidak dilaksanakan dengan baik. Penumpukan sampah di kawasan pemukiman, pusat kota, hingga kawasan wisata dikhawatirkan tidak terhindarkan.
Namun demikian, Gus Yoga menegaskan bahwa yang dilarang oleh regulasi adalah sistem open dumping, bukan pengelolaan sampah secara keseluruhan di lokasi TPA.
“yang dilarang adalah system open dumping, maka dari itu system sanitary renfiled bisa digunakan dalam penangan sampah sampai menunggu PSEL (Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik) yang akan disiapkan oleh danantara di tahun 2028,” jelasnya.
Ia menambahkan, proyek PSEL yang akan disiapkan oleh Danantara mulai berjalan pada 2028 memerlukan masa transisi yang realistis agar tidak menimbulkan krisis baru. Oleh karena itu, pemerintah daerah diminta tidak gegabah mengambil kebijakan tanpa kesiapan infrastruktur dan masyarakat.
Selain itu, Gus Yoga mendorong optimalisasi pengelolaan sampah berbasis sumber. Salah satunya melalui penguatan TPS3R (Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle) di setiap desa dan kelurahan.
“TPS3R di setiap desa mulai menjadwalkan pengambilan sampah organik dan non organik secara terpisah,” ujarnya.
Tak hanya di tingkat desa, pengelolaan sampah rumah tangga juga dinilai perlu mendapat perhatian serius. Gus Yoga menekankan pentingnya penerapan teba modern di setiap rumah, yang dilengkapi dengan mesin pencacah untuk mempercepat proses penguraian sampah organik.
“Jika sampah organik selesai di rumah, maka yang tersisa ke TPS dan TPA jauh lebih sedikit. Ini bukan wacana baru, tapi harus dijalankan secara disiplin,” tegasnya.
Gus Yoga menutup dengan menegaskan bahwa penanganan sampah harus menjadi superprioritas lintas sektor, mengingat dampaknya yang langsung dirasakan oleh masyarakat dan sektor pariwisata.
“Jangan sampai Bali menghadapi darurat sampah di saat wisatawan datang dalam jumlah besar. Kebijakan harus realistis, solusinya harus siap,” pungkasnya.









