Paradoks Kenaikan Harga BBM di Tengah Dinamika Geopolitik Global di Selat Hormuz

- Editorial Team

Selasa, 7 April 2026 - 22:29 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

📰 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif!

Anggota DPRD Kota Denpasar I Gede Tommy Sumertha.

Anggota DPRD Kota Denpasar I Gede Tommy Sumertha.

OkeDaily.com – Ketegangan geopolitik global di kawasan Selat Hormuz berdampak signifikan terhadap lonjakan harga minyak dunia. Peningkatan eskalasi konflik yang melibatkan kekuatan besar seperti Amerika Serikat, Iran, dan sekutunya menyebabkan sekitar 20–25 persen suplai minyak mentah dunia yang melewati jalur strategis tersebut terganggu.

Kondisi tersebut mendorong harga minyak dunia melonjak tajam dari asumsi APBN sekitar USD 70 per barel menjadi kisaran USD 100 hingga USD 120 per barel.

Dampaknya, sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara yang bergantung pada impor energi dari jalur tersebut mulai menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Krisis ini bukan yang pertama kali terjadi. Gangguan di Selat Hormuz sebelumnya juga tercatat dalam beberapa periode konflik besar, seperti Perang Iran-Irak, Perang Teluk 1991, serta invasi Amerika Serikat ke Irak pada 2003.

Baca Juga :  HIPMI Bali Gelar SYNC25 Gathering Angkatan 2025 untuk Perkuat Jejaring Pengusaha Muda

Namun di tengah tekanan global tersebut, Pemerintah Indonesia memilih untuk tidak menaikkan harga BBM. Berdasarkan data Global Petrol Prices (GPP) per 1 April 2026, harga BBM non-subsidi di Indonesia masih berada pada level:

Pertamax: Rp12.300/liter
Pertamax Green: Rp12.900/liter
Pertamax Turbo: Rp13.100/liter
Dexlite: Rp14.200/liter
Pertamina Dex: Rp14.500/liter

Sementara untuk BBM subsidi:
Pertalite: Rp10.000/liter
Solar: Rp6.800/liter

Menteri Keuangan juga memastikan tidak akan ada kenaikan harga BBM subsidi, termasuk Pertalite dan Solar, hingga akhir tahun 2026.

Anggota DPRD Kota Denpasar Fraksi Gerindra, I Gede Tommy Sumertha, menilai langkah pemerintah tersebut sebagai bentuk keberpihakan kepada masyarakat di tengah tekanan global.

“Di saat banyak negara sudah menaikkan harga BBM akibat dampak krisis Selat Hormuz, pemerintah Indonesia justru mampu menjaga stabilitas harga. Ini menunjukkan komitmen kuat dalam melindungi daya beli masyarakat,” ujarnya.

Baca Juga :  Balad Grup Siap Gelontorkan Investasi Besar di Sumenep

Ia menambahkan, kebijakan tersebut tidak lepas dari arah kepemimpinan Presiden yang menitikberatkan pada penguatan ketahanan nasional di berbagai sektor, termasuk energi.

Menurutnya, strategi ketahanan energi yang dijalankan pemerintah menjadi kunci dalam menghadapi gejolak global. Selain energi, pemerintah juga mendorong penguatan ketahanan pangan, air, serta pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan.

“Ini adalah bukti bahwa pemerintah telah melakukan langkah antisipatif yang matang. Indonesia tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu menjaga stabilitas di tengah krisis global,” tambahnya.

Sebagai perbandingan, harga BBM di sejumlah negara ASEAN justru mengalami kenaikan signifikan. Singapura mencatat harga bensin tertinggi mencapai Rp43.195 per liter, disusul Laos, Thailand, hingga Filipina yang juga berada di atas Indonesia.

Baca Juga :  Zulfikar DPRD Provinsi Bali Serap Aspirasi Warga Br Sapta Bumi

Perbandingan Harga BBM di ASEAN (per liter):

Singapura: Bensin Rp43.195, Solar Rp50.544
Laos: Bensin Rp30.192, Solar Rp32.064
Thailand: Bensin Rp27.155, Solar Rp20.756
Filipina: Bensin Rp26.948, Solar Rp33.506
Myanmar: Bensin Rp26.610, Solar Rp29.553
Kamboja: Bensin Rp26.234, Solar Rp30.485
Malaysia: Bensin Rp16.225, Solar Rp23.147
Vietnam: Bensin Rp15.905, Solar Rp22.997
Indonesia: Bensin Rp12.390, Solar Rp14.620

Dengan kondisi tersebut, Indonesia menjadi salah satu negara dengan harga BBM relatif lebih rendah di kawasan, sekaligus menunjukkan upaya pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah dinamika geopolitik global yang terus berkembang.

Facebook Comments Box

Penulis : Alfin Syaifullah

Editor : Andrean Masrofie

Sumber Berita: Okedailycom

Follow WhatsApp Channel okedaily.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Related News

Catat Tanggalnya! Pemkab Sumenep Bakal Gelar Job Fair 2026, Puluhan Perusahaan Buka Lowongan
Rumus Ketahanan Pangan Ala De Gadjah: Dari Petani, Koperasi, untuk Gizi Rakyat
Dari Konten Jadi Cuan, Yayasan De Gadjah Gandeng Folago TikTok Latih Gen Z dan UMKM Bali
KEI Genjot Ekonomi Lokal Lewat UMKM Binaan, Kerajinan Santigi Jadi Produk Unggulan
Kerugian Disebut Tembus Rp7 Miliar, Investasi MBG di Madura Bermasalah?
Pertalite Diambil Pakai Jeriken di SPBU Sumenep, Ada Persoalan Tata Kelola?
OJK Tutup 12 BPR hingga Agustus 2026, Ini Daftarnya dan Nasib Dana Nasabah
Prof Ahmad Riyadh: SMSI Harus jadi Jembatan Keuangan Global ke Ekonomi Desa

Related News

Senin, 21 September 2026 - 14:29 WIB

Catat Tanggalnya! Pemkab Sumenep Bakal Gelar Job Fair 2026, Puluhan Perusahaan Buka Lowongan

Minggu, 20 September 2026 - 08:54 WIB

Rumus Ketahanan Pangan Ala De Gadjah: Dari Petani, Koperasi, untuk Gizi Rakyat

Minggu, 20 September 2026 - 07:57 WIB

Dari Konten Jadi Cuan, Yayasan De Gadjah Gandeng Folago TikTok Latih Gen Z dan UMKM Bali

Jumat, 18 September 2026 - 19:26 WIB

KEI Genjot Ekonomi Lokal Lewat UMKM Binaan, Kerajinan Santigi Jadi Produk Unggulan

Jumat, 18 September 2026 - 18:58 WIB

Kerugian Disebut Tembus Rp7 Miliar, Investasi MBG di Madura Bermasalah?

Latest News