Membedah Tuntutan Iran dan Inkonsistensi Trump di Selat Hormuz

- Editorial Team

Kamis, 9 April 2026 - 16:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kabid. Kominfo Hima Persis DKI Jakarta Farhan saat orasi bela palestina. @okedaily.com /istimewa

Kabid. Kominfo Hima Persis DKI Jakarta Farhan saat orasi bela palestina. @okedaily.com /istimewa

OkeDaily.com Per 8 April 2026, dunia terpaku pada Islamabad. Gencatan senjata selama dua pekan telah disepakati, namun bagi kita yang terbiasa membedah naskah politik, narasi ini menyimpan banyak tanda tanya. Apakah ini kemenangan kedaulatan, atau sekadar jeda sebelum badai yang lebih besar?.

Posisi Tawar yang Menghantam Meja Perundingan

Tuntutan yang diajukan Iran, mulai dari penutupan pangkalan AS di Timur Tengah hingga pengakuan kendali atas selat hormuz, bukanlah sekadar daftar keinginan biasa. Secara diplomasi, ini adalah posisi tawar maksimal (maximum leverage). Iran sadar, bahwa tidak semua poin ini akan dikabulkan dalam gencatan senjata 14 hari.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun, dengan melontarkan sejumlah tuntutan tersebut, Iran berhasil mengunci narasi, mereka menetapkan standar “perdamaian” yang sangat tinggi, sehingga posisi AS terlihat defensif.

Selain itu, Iran menuntut penarikan pasukan AS dari kawasan, adalah cara Iran untuk membuktikan kepada ummah bahwa hegemoni barat di tanah kaum muslimin harus segera diakhiri.

Baca Juga :  Inovasi Pemkot Solo dalam Menyikapi PHK

Inkonsistensi Trump: Gertakan yang Tumpul di Selat Hormuz

Sosok Donald Trump (lewat representasi JD Vance) kembali menunjukkan pola lamanya, inkonsistensi transaksional. Kita masih ingat bagaimana ia berkali-kali melontarkan ancaman keras terhadap Iran, terutama terkait blokade selat hormuz. Ia menjanjikan tindakan militer yang “menghancurkan” jika Iran berani mengganggu lalu lintas minyak dunia.

Namun, realitanya per hari ini menunjukkan hal yang kontradiktif antara ancaman vs aksi. Meski Trump berkoar-koar akan “menundukkan” Iran, nyatanya AS justru memilih duduk di meja perundingan Islamabad. Ancaman militer yang dijanjikan tak kunjung menjadi aksi nyata.

Ketidakmampuan AS untuk memaksa Iran “membuka total” selat hormuz sesuai kemauan barat membuktikan bahwa gertakan Trump memiliki batas. Secara ekonomi, AS tidak sanggup menghadapi guncangan harga minyak, jika konflik terbuka benar-benar pecah di selat tersebut.

Baca Juga :  Baznas Sumenep Berlari Kencang Meski Sepatunya Tak Resmi

Ini menunjukkan bahwa ancaman Presiden Trump selama ini hanyalah komoditas politik domestik untuk terlihat kuat di mata pemilihnya, namun rapuh di hadapan realitas geopolitik.

Gencatan Senjata: Kemenangan atau Sekadar Napas Buatan?

Secara de jure, gencatan senjata dua pekan bukanlah akhir dari perang. Status hukum kedua negara masih dalam kondisi permusuhan. Namun, secara politik, keberhasilan Iran memaksa AS menerima syarat-syarat awal untuk berhenti menyerang, adalah tamparan bagi doktrin “Maximum Pressure” yang selama ini diagungkan Washington.

Bagi kita mahasiswa Islam, ini adalah pelajaran berharga bahwa kekuatan militer tanpa keteguhan prinsip diplomasi hanya akan berakhir pada gertakan kosong. Kita merayakan keberanian melawan kezaliman, namun tetap waspada terhadap kelicikan politik yang bisa berubah hanya dalam hitungan hari.

يَمْكُرُ بِكَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لِيُثْبِتُوْكَ اَوْ يَقْتُلُوْكَ اَوْ يُخْرِجُوْكَۗ وَيَمْكُرُوْنَ وَيَمْكُرُ اللّٰهُۗ وَاللّٰهُ خَيْرُ الْمٰكِرِيْنَ ۝٣٠

Baca Juga :  Aneh Tapi Nyata, SOP Pembakaran Dapur di BRI

Mereka memikirkan daya upaya dan Allah menggagalkan daya upaya mereka. Dan Allah sebaik-baik Pembalas daya upaya,” (QS. Al-Anfal: 30).

Referensi:
1. Al Mayadeen (8 April 2026): Eksklusif mengenai 10 poin tuntutan Iran dalam perundingan Islamabad.
2. moneycontrolcom: JD Vance Urges Iran To Negotiate In Good Faith, Says Deal Possible.
3. news.detikcom: Trump Plinplan soal Perang Iran.

Oleh: Farhan Imaduddien, Kabid Kominfo Hima Persis DKI Jakarta

Tulisan opini ini sepenuhnya merupakan tanggungjawab penulis, dan tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi media siber okedaily.com.

Kanal opini (kopini) media siber okedaily.com terbuka untuk umum. Maksimal panjang naskah 4.000 karakter, atau sekitar 600 kata.

Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri anda dan nomor telepon yang bisa dihubungi. Kirim ke alamat e-mail: opini@okedaily.com.

Facebook Comments Box

Sumber Berita: okedaily.com

Follow WhatsApp Channel okedaily.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Related News

Fauzi AS: Merdeka di Tiang Bendera
Sumenep Kepulauan: Mengganti Nama atau Mengganti Nasib?
Polresta Sumenep: Pangkat Naik, Pintu Informasi Turun
Dilema Tafsir Kepemimpinan Politik dan Birokrasi
Supremasi Sipil, Bahaya Laten Korupsi dan Menguatnya Peran Militer
Catatan Fauzi AS: Jaksa dan Polri Bugil di Tengah Jalan
Catatan Fauzi AS: Penjahat Bernama Prabowo
Sang Jenderal yang Tak Menunggu Telepon

Related News

Senin, 17 Agustus 2026 - 13:10 WIB

Fauzi AS: Merdeka di Tiang Bendera

Senin, 3 Agustus 2026 - 19:58 WIB

Sumenep Kepulauan: Mengganti Nama atau Mengganti Nasib?

Sabtu, 18 Juli 2026 - 14:14 WIB

Polresta Sumenep: Pangkat Naik, Pintu Informasi Turun

Kamis, 16 Juli 2026 - 22:54 WIB

Dilema Tafsir Kepemimpinan Politik dan Birokrasi

Selasa, 14 Juli 2026 - 12:13 WIB

Supremasi Sipil, Bahaya Laten Korupsi dan Menguatnya Peran Militer

Latest News

Antusias pengunjung pada momen Gebyar Paud Gayam, menjadi berkah bagi UMKM setempat. ®okedaily.com [Foto: Hasan Al-Hakiki]

Nasional

Gebyar PAUD Gayam Meledak, Bazar UMKM Diserbu Pengunjung

Minggu, 23 Agu 2026 - 10:10 WIB

Bendera Merah Putih berkibar sebagai simbol kemerdekaan Indonesia. Namun, kemerdekaan juga perlu diukur dari sejauh mana rakyat menikmati keadilan, kesejahteraan, pekerjaan layak, pendidikan, dan akses terhadap sumber daya ekonomi. ®okedaily.com [Foto: Mashudi Surahman]

Editorial

Merdeka di Tiang Bendera, Kapan di Perut Rakyat?

Selasa, 18 Agu 2026 - 09:38 WIB