Menguji Etika Sosial Islam, Prof Muhlis: Mengajak Tanpa Memaksa Menghormati Tanpa Mengeksklusi

- Editorial Team

Rabu, 25 Februari 2026 - 18:58 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

📰 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif!

Guru Besar Sosiologi Pendidikan Islam UIN Madura, Prof. Achamd Muhlis. ©Okedaily.com/Istimewa

Guru Besar Sosiologi Pendidikan Islam UIN Madura, Prof. Achamd Muhlis. ©Okedaily.com/Istimewa

OkeDaily.com – Puasa dalam Islam secara normatif merupakan ibadah personal yang bertumpu pada niat dan kesadaran individual. Namun dalam praktik sosial, puasa tidak pernah sepenuhnya privat.

“Ia hadir di ruang publik, mengatur ritme kota, mengubah perilaku sosial, dan membentuk norma kolektif,” ujar Guru Besar Sosiologi Pendidikan Islam UIN Madura, Prof. Achamd Muhlis, pada Selasa (24/2).

Baca Juga :  Kabar Gembira! Pemkab Sumenep Ringankan Tunggakan PBB-P2 hingga 95 Persen

Di sinilah, muncul ketegangan filosofis dan sosiologis antara kebebasan individu dan etika sosial, sejauh mana puasa sebagai kewajiban agama boleh diekspresikan dan ditegakkan di ruang publik, tanpa melanggar hak individu yang berbeda keyakinan atau kapasitas?.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Narasi ini mengkaji dimensi publik puasa dengan merujuk pada data empiris yang ada,” tambah Direktur Utama IBS PKMKK itu.

Dijelaskan Prof Muhlis, puasa berfungsi sebagai institusi sosial yang membentuk norma bersama. Durkheim memandang ritual keagamaan sebagai mekanisme pembentukan solidaritas kolektif melalui simbol dan praktik bersama.

Baca Juga :  Sidak ke Dasuk, Pansus DPRD Sumenep Soroti IPAL Tambak Udang Tak Berfungsi

Selama Ramadan, ruang publik mengalami “sakralisasi temporal” jam kerja menyesuaikan, aktivitas hiburan dibatasi, dan simbol-simbol religius menguat.

Fenomena tersebut memperlihatkan bagaimana puasa melampaui batas privat dan membentuk etika sosial yang diharapkan dipatuhi bersama. Namun, dalam masyarakat majemuk, sakralisasi ini berpotensi menimbulkan friksi ketika norma mayoritas berbenturan dengan kebebasan minoritas.

“Weber membantu membaca ketegangan ini melalui konsep rasionalisasi dan etika tanggung jawab. Kebijakan publik terkait Ramadan, misalnya pengaturan jam operasional atau imbauan kesopanan, sering kali didasarkan pada rasionalitas nilai (menghormati yang berpuasa),” terangnya.

Baca Juga :  Pemerintah Sumenep Siapkan Dana Besar untuk Program BPJS Kesehatan

Namun, ketika kebijakan tersebut berubah menjadi pemaksaan simbolik, ia berisiko mengabaikan rasionalitas tujuan (menjaga harmoni sosial).

Data sosial menunjukkan bahwa pendekatan persuasif dan dialogis cenderung lebih efektif dalam menjaga kohesi dibandingkan pendekatan koersif.

Dengan demikian, tegas Muhlis, dimensi publik puasa menuntut keseimbangan antara afirmasi nilai kolektif dan perlindungan kebebasan individu.

Pandangan lain, bagi individu yang berpuasa, lingkungan yang mendukung meningkatkan self-efficacy dan ketenangan batin. Sebaliknya, paparan perilaku yang dianggap “tidak menghormati” dapat memicu frustrasi dan kemarahan. Namun reaksi emosional ini perlu dikelola agar tidak berubah menjadi agresi simbolik.

Baca Juga :  Di Momen HSN 2026, Ketua DPRD Sumenep Pesan Santri Melek Teknologi dan Berakhlakul Karimah

Dalam Islam, pengendalian emosi (hilm) merupakan bagian dari puasa itu sendiri, menahan diri bukan hanya dari makan dan minum, tetapi juga dari amarah.

Bagi individu yang tidak berpuasa, tekanan sosial dapat memunculkan kecemasan atau rasa terasing. Teori social conformity menjelaskan bahwa individu cenderung menyesuaikan perilaku untuk menghindari sanksi sosial, meskipun bertentangan dengan kondisi personal (kesehatan, keyakinan).

Di sinilah etika sosial Islam diuji, apakah puasa menjadi sarana empati, atau justru alat eksklusi? Al-Ghazali menegaskan bahwa puasa sejati melatih kelembutan hati, bukan superioritas moral.

Baca Juga :  Cetak Sejarah, Muktamar ke-35 Putuskan Ketua Umum PBNU Dipilih melalui AHWA

“Dimensi publik puasa merupakan hidden curriculum tentang hidup bersama dalam perbedaan. Pendidikan Islam tidak hanya mengajarkan fikih puasa, tetapi juga adab bermasyarakat,” urainya.

Konsep maqāṣid al-sharī‘ah, perlindungan agama, jiwa, akal, harta, dan kehormatan, memberikan kerangka normatif untuk menyeimbangkan kebebasan individu dan etika sosial. Puasa bertujuan melindungi agama dan akhlak, namun tidak boleh mengorbankan perlindungan jiwa dan kehormatan orang lain.

“Pendidikan Islam yang berorientasi maqāṣid menekankan persuasi moral, keteladanan, dan dialog,” tukasnya.

Baca Juga :  Zulfikar Wijaya Terima Audiensi Forum Komunikasi Majelis Taklim Ibu Bali di DPRD Bali

Data empiris dari masyarakat plural menunjukkan bahwa kohesi sosial selama Ramadan meningkat ketika kebijakan dan praktik sosial menekankan saling menghormati.

Konflik cenderung muncul ketika norma dipaksakan secara simbolik, misalnya melalui persekusi atau stigmatisasi. Ini menegaskan bahwa dimensi publik puasa memerlukan etika dialogis dan kepemimpinan moral yang bijak.

Ketegangan antara kebebasan individu dan etika sosial adalah ciri masyarakat modern. Puasa, dalam hal ini, menawarkan jalan tengah, yakni kebebasan yang bertanggung jawab dan etika yang berbelas kasih.

Baca Juga :  Mencari Berkah Ramadhan, Ikmass Bersama Iman Malang Berbagi Takjil

Puasa tidak dimaksudkan untuk mengontrol orang lain, melainkan untuk mendidik diri sendiri agar mampu hidup bermartabat di tengah perbedaan. Etika sosial yang lahir dari puasa adalah etika keteladanan, mengajak, bukan memaksa.

Pada akhirnya, dimensi publik puasa menuntut kedewasaan sosial dan spiritual. Puasa merupakan ibadah personal yang berdampak publik. Dampak itu akan membangun kohesi jika dikelola dengan adab, empati, dan kebijakan yang proporsional.

“Di tengah masyarakat majemuk, puasa menemukan maknanya bukan ketika ia ditegakkan secara koersif, melainkan ketika ia menjadi sumber etika sosial yang menghormati kebebasan, merawat perbedaan, dan menumbuhkan kemanusiaan bersama,” pungkas Ketua Senat UIN Madura itu.

Facebook Comments Box

Penulis : Nurifan Hairi

Editor : Mashudi S

Follow WhatsApp Channel okedaily.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Related News

Narkoba dan Judi Online Mulai Merajalela, GP Ansor Gayam Sentuh Siswa MTs NU
Istighasah Kebangsaan MWC NU Gayam Peringati HSN 2026
Di Momen HSN 2026, Ketua DPRD Sumenep Pesan Santri Melek Teknologi dan Berakhlakul Karimah
Peringatan Hari Santri Nasional 2026, Wabup Imam Tekankan Disiplin dan Integritas ASN
Bupati Wongsojudo Terbitkan SE Busana Santri pada HSN 2026
Jurnalis Sapudi Salurkan Ratusan Air Minum untuk Madrasah Diniyah
Kiai Yayan: Ketahanan Pangan Bukan Sekadar Program tapi Teladan Rasulullah
Ratusan Jamaah Ikuti Pengajian Akbar FKS Nurul Jadid di Pulau Sapudi

Related News

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 16:16 WIB

Narkoba dan Judi Online Mulai Merajalela, GP Ansor Gayam Sentuh Siswa MTs NU

Rabu, 21 Oktober 2026 - 21:12 WIB

Istighasah Kebangsaan MWC NU Gayam Peringati HSN 2026

Selasa, 20 Oktober 2026 - 08:00 WIB

Peringatan Hari Santri Nasional 2026, Wabup Imam Tekankan Disiplin dan Integritas ASN

Selasa, 20 Oktober 2026 - 07:30 WIB

Bupati Wongsojudo Terbitkan SE Busana Santri pada HSN 2026

Senin, 19 Oktober 2026 - 12:57 WIB

Jurnalis Sapudi Salurkan Ratusan Air Minum untuk Madrasah Diniyah

Latest News

Majlis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Gayam Bersama Banom Gelar Istighasah Hari Santri Nasional Tahun 2026

Sosial Agama

Istighasah Kebangsaan MWC NU Gayam Peringati HSN 2026

Rabu, 21 Okt 2026 - 21:12 WIB