Polemik Defisit APBD Sumenep 2025: Perspektif Akuntansi dan Pandangan Djoni

- Editorial Team

Selasa, 7 Januari 2025 - 20:31 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

📰 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif!

Penasehat Dewan Pimpinan Cabang Asosiasi Wartawan Demokrasi Indonesia Kabupaten Sumenep, R. Ach. Djoni Tunaidy. ©Okedaily.com/Istimewa

Penasehat Dewan Pimpinan Cabang Asosiasi Wartawan Demokrasi Indonesia Kabupaten Sumenep, R. Ach. Djoni Tunaidy. ©Okedaily.com/Istimewa

SUMENEP, OKEDAILY – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep, Madura, dibawah kepemimpinan Bupati Achmad Fauzi Wongsojudo, tengah menghadapi tantangan serius dalam pengelolaan keuangan daerah untuk Tahun Anggaran 2025.

Polemik ini mencuat setelah adanya defisit sebesar Rp245 miliar yang tertuang dalam Pasal 2 Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Sumenep Nomor 6 Tahun 2024 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tahun Anggaran 2025.

Menurut data, pendapatan daerah diproyeksikan sebesar Rp2.593 miliar sementara belanja daerah mencapai Rp2.839 miliar. Untuk menutup defisit ini, pemerintah daerah mengandalkan pembiayaan neto senilai sama.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Baca Juga :  APBD Sumenep Tahun Anggaran 2025 Defisit Rp245 Miliar, Penasehat AWDI Angkat Bicara

Dalam perspektif akuntansi, langkah ini menimbulkan beberapa pertanyaan terkait keberlanjutan fiskal dan efisiensi pengelolaan anggaran daerah. Oleh karena itu, mantan anggota DPRD Kabupaten Sumenep memberikan pandangan terkait analisis akuntansi terhadap defisit APBD tersebut.

Adalah Penasehat Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Asosiasi Wartawan Demokrasi Indonesia (AWDI) Kabupaten Sumenep, R. Ach. Djoni Tunaidy, menilai bahwa defisit yang ditutup sepenuhnya oleh pembiayaan neto mencerminkan tantangan mendasar dalam tata kelola keuangan daerah.

Pria yang karib disapa Djoni itu mengungkapkan, bahwa mengandalkan pembiayaan untuk menutupi defisit APBD Sumenep Tahun Anggaran 2025 menunjukkan lemahnya optimalisasi pendapatan asli daerah (PAD).

Baca Juga :  Pemkab Sumenep Benarkan APBD Tahun Anggaran 2025 Mengalami Defisit 245 Miliar

Jika kebijakan ini terus berlanjut, ujar Djoni, Pemkab Sumenep berisiko menghadapi ketergantungan jangka panjang pada sumber pembiayaan eksternal, baik berupa utang maupun penggunaan dana cadangan, bahkan Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA) tahun sebelumnya.

Lebih lanjut diterangkan Djoni, bahwa besarnya defisit juga menyoroti kemungkinan ketidakefisienan dalam perencanaan anggaran. Pengeluaran yang tidak sesuai prioritas, atau target pendapatan yang terlalu optimistis, berkontribusi pada ketimpangan fiskal.

Ia juga menyebut, ketergantungan pada pembiayaan tanpa pengawasan ketat meningkatkan risiko kebocoran anggaran. “Tanpa kontrol internal yang kuat, anggaran pembiayaan dapat dialihkan untuk proyek yang tidak memiliki dampak signifikan terhadap masyarakat,” kata Djoni, Selasa (7/1/2025).

Baca Juga :  Djoni Soroti Pengakuan Pemkab Sumenep tentang Defisit APBD 2025 Sebesar 245M

Jika pembiayaan dilakukan melalui utang, sambungnya, maka beban bunga dan pokok utang akan menjadi tantangan tambahan. Dalam jangka panjang, ini dapat mengurangi ruang fiskal untuk program prioritas lainnya.

Ketika ditanya apa langkah solutif untuk menangani defisit tersebut? Untuk mengatasi permasalahan ini, Djoni merekomendasikan langkah-langkah yang bersifat transparansi dan akuntabilitas.

Langkah pertama, laporan keuangan daerah harus disusun sesuai standar akuntansi pemerintah (SAP) dan diaudit secara independen. Dengan transparansi, masyarakat dapat memantau penggunaan anggaran Pemkab Sumenep.

Baca Juga :  Musdes Pagerungan Besar Memfokuskan Program Ekonomi Kerakyatan

Kemudian keberadaan lembaga pengawas, seperti Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan DPRD, harus meningkatkan pengawasan terhadap pelaksanaan anggaran. “Melalui penguatan ini agar melakukan evaluasi berkala yang diperlukan untuk memastikan pembiayaan digunakan sesuai rencana,” ungkapnya.

Selain itu, Pemkab Sumenep harus meningkatkan PAD melalui inovasi kebijakan, seperti pengelolaan aset daerah yang lebih baik, peningkatan pajak daerah, dan pengembangan sektor unggulan seperti pariwisata dan perikanan.

“Maka anggaran belanja harus fokus pada program prioritas yang mendukung pembangunan berkelanjutan. Pengeluaran yang tidak mendesak perlu ditekan. Lebih-lebih aparatur pemerintah daerah perlu dilatih agar mampu merencanakan, mengelola, dan mengevaluasi anggaran secara profesional,” pungkasnya.

Baca Juga :  "HomPIMPA" Aplikasi Terobosan Dinas Kesehatan Bagi Sumenep Melayani

Defisit APBD Sumenep Tahun Anggaran 2025 sebesar Rp245 miliar ini tentu menjadi pengingat pentingnya tata kelola keuangan daerah yang berorientasi pada keberlanjutan pembangunan Kabupaten yang dikenal dengan sebutan Kota Keris itu.

Meski defisit dapat ditutup melalui pembiayaan, pendekatan ini bukan solusi jangka panjang. Optimalisasi pendapatan, efisiensi belanja, dan pengawasan ketat harus menjadi fokus untuk menjaga keseimbangan fiskal daerah.

Dengan komitmen dari semua pihak, Djoni pun optimistis Pemkab Sumenep dapat mengelola tantangan ini secara efektif, sehingga pelayanan publik dan pembangunan daerah tetap berjalan tanpa mengorbankan stabilitas fiskal di masa depan.

Baca Juga :  Dari Konten Jadi Cuan, Yayasan De Gadjah Gandeng Folago TikTok Latih Gen Z dan UMKM Bali

Hingga berita ini diterbitkan, Pemkab Sumenep masih enggan menyampaikan secara resmi terkait penyebab defisit tersebut.

Facebook Comments Box

Follow WhatsApp Channel okedaily.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Related News

Catat Tanggalnya! Pemkab Sumenep Bakal Gelar Job Fair 2026, Puluhan Perusahaan Buka Lowongan
Rumus Ketahanan Pangan Ala De Gadjah: Dari Petani, Koperasi, untuk Gizi Rakyat
Dari Konten Jadi Cuan, Yayasan De Gadjah Gandeng Folago TikTok Latih Gen Z dan UMKM Bali
KEI Genjot Ekonomi Lokal Lewat UMKM Binaan, Kerajinan Santigi Jadi Produk Unggulan
Kerugian Disebut Tembus Rp7 Miliar, Investasi MBG di Madura Bermasalah?
Pertalite Diambil Pakai Jeriken di SPBU Sumenep, Ada Persoalan Tata Kelola?
OJK Tutup 12 BPR hingga Agustus 2026, Ini Daftarnya dan Nasib Dana Nasabah
Prof Ahmad Riyadh: SMSI Harus jadi Jembatan Keuangan Global ke Ekonomi Desa

Related News

Senin, 21 September 2026 - 14:29 WIB

Catat Tanggalnya! Pemkab Sumenep Bakal Gelar Job Fair 2026, Puluhan Perusahaan Buka Lowongan

Minggu, 20 September 2026 - 08:54 WIB

Rumus Ketahanan Pangan Ala De Gadjah: Dari Petani, Koperasi, untuk Gizi Rakyat

Minggu, 20 September 2026 - 07:57 WIB

Dari Konten Jadi Cuan, Yayasan De Gadjah Gandeng Folago TikTok Latih Gen Z dan UMKM Bali

Jumat, 18 September 2026 - 19:26 WIB

KEI Genjot Ekonomi Lokal Lewat UMKM Binaan, Kerajinan Santigi Jadi Produk Unggulan

Jumat, 18 September 2026 - 18:58 WIB

Kerugian Disebut Tembus Rp7 Miliar, Investasi MBG di Madura Bermasalah?

Latest News

Majlis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Gayam Bersama Banom Gelar Istighasah Hari Santri Nasional Tahun 2026

Sosial Agama

Istighasah Kebangsaan MWC NU Gayam Peringati HSN 2026

Rabu, 21 Okt 2026 - 21:12 WIB