Polemik Defisit APBD Sumenep 2025: Perspektif Akuntansi dan Pandangan Djoni

- Editorial Team

Selasa, 7 Januari 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penasehat Dewan Pimpinan Cabang Asosiasi Wartawan Demokrasi Indonesia Kabupaten Sumenep, R. Ach. Djoni Tunaidy. ©Okedaily.com/Istimewa

Penasehat Dewan Pimpinan Cabang Asosiasi Wartawan Demokrasi Indonesia Kabupaten Sumenep, R. Ach. Djoni Tunaidy. ©Okedaily.com/Istimewa

SUMENEP, OKEDAILY Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep, Madura, dibawah kepemimpinan Bupati Achmad Fauzi Wongsojudo, tengah menghadapi tantangan serius dalam pengelolaan keuangan daerah untuk Tahun Anggaran 2025.

Polemik ini mencuat setelah adanya defisit sebesar Rp245 miliar yang tertuang dalam Pasal 2 Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Sumenep Nomor 6 Tahun 2024 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tahun Anggaran 2025.

Menurut data, pendapatan daerah diproyeksikan sebesar Rp2.593 miliar sementara belanja daerah mencapai Rp2.839 miliar. Untuk menutup defisit ini, pemerintah daerah mengandalkan pembiayaan neto senilai sama.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Baca Juga :  APBD Sumenep Tahun Anggaran 2025 Defisit Rp245 Miliar, Penasehat AWDI Angkat Bicara

Dalam perspektif akuntansi, langkah ini menimbulkan beberapa pertanyaan terkait keberlanjutan fiskal dan efisiensi pengelolaan anggaran daerah. Oleh karena itu, mantan anggota DPRD Kabupaten Sumenep memberikan pandangan terkait analisis akuntansi terhadap defisit APBD tersebut.

Adalah Penasehat Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Asosiasi Wartawan Demokrasi Indonesia (AWDI) Kabupaten Sumenep, R. Ach. Djoni Tunaidy, menilai bahwa defisit yang ditutup sepenuhnya oleh pembiayaan neto mencerminkan tantangan mendasar dalam tata kelola keuangan daerah.

Pria yang karib disapa Djoni itu mengungkapkan, bahwa mengandalkan pembiayaan untuk menutupi defisit APBD Sumenep Tahun Anggaran 2025 menunjukkan lemahnya optimalisasi pendapatan asli daerah (PAD).

Baca Juga :  Pemkab Sumenep Benarkan APBD Tahun Anggaran 2025 Mengalami Defisit 245 Miliar

Jika kebijakan ini terus berlanjut, ujar Djoni, Pemkab Sumenep berisiko menghadapi ketergantungan jangka panjang pada sumber pembiayaan eksternal, baik berupa utang maupun penggunaan dana cadangan, bahkan Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA) tahun sebelumnya.

Lebih lanjut diterangkan Djoni, bahwa besarnya defisit juga menyoroti kemungkinan ketidakefisienan dalam perencanaan anggaran. Pengeluaran yang tidak sesuai prioritas, atau target pendapatan yang terlalu optimistis, berkontribusi pada ketimpangan fiskal.

Ia juga menyebut, ketergantungan pada pembiayaan tanpa pengawasan ketat meningkatkan risiko kebocoran anggaran. “Tanpa kontrol internal yang kuat, anggaran pembiayaan dapat dialihkan untuk proyek yang tidak memiliki dampak signifikan terhadap masyarakat,” kata Djoni, Selasa (7/1/2025).

Baca Juga :  Djoni Soroti Pengakuan Pemkab Sumenep tentang Defisit APBD 2025 Sebesar 245M

Jika pembiayaan dilakukan melalui utang, sambungnya, maka beban bunga dan pokok utang akan menjadi tantangan tambahan. Dalam jangka panjang, ini dapat mengurangi ruang fiskal untuk program prioritas lainnya.

Ketika ditanya apa langkah solutif untuk menangani defisit tersebut? Untuk mengatasi permasalahan ini, Djoni merekomendasikan langkah-langkah yang bersifat transparansi dan akuntabilitas.

Langkah pertama, laporan keuangan daerah harus disusun sesuai standar akuntansi pemerintah (SAP) dan diaudit secara independen. Dengan transparansi, masyarakat dapat memantau penggunaan anggaran Pemkab Sumenep.

Baca Juga :  Google Merilis AI Generasi Baru untuk Gmail dan Cloud Software

Kemudian keberadaan lembaga pengawas, seperti Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan DPRD, harus meningkatkan pengawasan terhadap pelaksanaan anggaran. “Melalui penguatan ini agar melakukan evaluasi berkala yang diperlukan untuk memastikan pembiayaan digunakan sesuai rencana,” ungkapnya.

Selain itu, Pemkab Sumenep harus meningkatkan PAD melalui inovasi kebijakan, seperti pengelolaan aset daerah yang lebih baik, peningkatan pajak daerah, dan pengembangan sektor unggulan seperti pariwisata dan perikanan.

“Maka anggaran belanja harus fokus pada program prioritas yang mendukung pembangunan berkelanjutan. Pengeluaran yang tidak mendesak perlu ditekan. Lebih-lebih aparatur pemerintah daerah perlu dilatih agar mampu merencanakan, mengelola, dan mengevaluasi anggaran secara profesional,” pungkasnya.

Baca Juga :  Mantan Pengurus Bisa Sulap, Dana PNPM Nonggunong Lenyap?

Defisit APBD Sumenep Tahun Anggaran 2025 sebesar Rp245 miliar ini tentu menjadi pengingat pentingnya tata kelola keuangan daerah yang berorientasi pada keberlanjutan pembangunan Kabupaten yang dikenal dengan sebutan Kota Keris itu.

Meski defisit dapat ditutup melalui pembiayaan, pendekatan ini bukan solusi jangka panjang. Optimalisasi pendapatan, efisiensi belanja, dan pengawasan ketat harus menjadi fokus untuk menjaga keseimbangan fiskal daerah.

Dengan komitmen dari semua pihak, Djoni pun optimistis Pemkab Sumenep dapat mengelola tantangan ini secara efektif, sehingga pelayanan publik dan pembangunan daerah tetap berjalan tanpa mengorbankan stabilitas fiskal di masa depan.

Baca Juga :  Pelatihan Budidaya Ikan dan Greenhouse Tingkatkan Kapasitas Masyarakat Desa Tinggimae

Hingga berita ini diterbitkan, Pemkab Sumenep masih enggan menyampaikan secara resmi terkait penyebab defisit tersebut.

Facebook Comments Box

Follow WhatsApp Channel okedaily.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Related News

Le Cataya Hadirkan “Padel Experience”, Destinasi Olahraga dan Wellness Modern di Denpasar Timur
Perkuat Ekonomi Rakyat, Bupati Sumenep Dorong Koperasi Tumbuh Sehat dan Berdaya Saing
Mahasiswa KKN 02 Universitas Yudharta Pasuruan Dorong Inovasi Olahan Jagung, Berikut Pelatihannya
Le Cataya Hadirkan Reformer Pilates di The Cakra Hotel Bali, Terbuka untuk Umum
Gandeng Investor, DPMPTSP Sumenep Intensifkan Pengawasan dan Bimbingan LKPM
Sejumlah Stand Rubaru Agro Wisata Fest 2026 Sepi Pengunjung, Ini Penyebabnya
The Cakra Hotel Hadirkan Promo Staycation Libur Sekolah untuk Keluarga
Ratusan Sopir Truk Demo DPRD Mempawah, Soroti Kelangkaan Solar dan Dugaan Pungli di SPBU

Related News

Kamis, 23 Juli 2026 - 00:12 WIB

Le Cataya Hadirkan “Padel Experience”, Destinasi Olahraga dan Wellness Modern di Denpasar Timur

Jumat, 17 Juli 2026 - 20:52 WIB

Perkuat Ekonomi Rakyat, Bupati Sumenep Dorong Koperasi Tumbuh Sehat dan Berdaya Saing

Kamis, 16 Juli 2026 - 20:35 WIB

Mahasiswa KKN 02 Universitas Yudharta Pasuruan Dorong Inovasi Olahan Jagung, Berikut Pelatihannya

Sabtu, 11 Juli 2026 - 01:43 WIB

Le Cataya Hadirkan Reformer Pilates di The Cakra Hotel Bali, Terbuka untuk Umum

Jumat, 10 Juli 2026 - 16:52 WIB

Gandeng Investor, DPMPTSP Sumenep Intensifkan Pengawasan dan Bimbingan LKPM

Latest News