Sepeker Kampung Gelar Literasi dan Gathering Jurnalisme Warga

- Editorial Team

Selasa, 19 Oktober 2021 - 22:04 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Media Komunits  Speaker Kampung Indonesia saat Menggelar Literasi Gathering Jurnalisme Warga Bekerjasama dengan Aliansi Jurnalis Indonesia di Lombok Timur [Awi/okedaily.com]

Media Komunits  Speaker Kampung Indonesia saat Menggelar Literasi Gathering Jurnalisme Warga Bekerjasama dengan Aliansi Jurnalis Indonesia di Lombok Timur [Awi/okedaily.com]

Okedaily.com, Lombok Timur – Media komunitas merupakan gambaran ideal ruang publik. Berbeda dengan media korporasi, media jenis ini terkondisikan sebagai ruang di mana setiap individu dalam anggota komunitas bisa bersuara, terlibat dan berinteraksi sehingga mendorong penciptaan tatanan masyarakat yang demokratis.

Peluang dominasi wacana satu kelompok atas yang lainnya dieliminasi secara sistemik dengan terbukanya ruang komunikasi dua arah, bahkan multiarah. Dengan demikian, media tidak akan menjurus menjadi alat kekuasaan segelintir pihak seperti yang terjadi di Indonesia dewasa ini, namun menjadi milik semua warga.

Baca Juga : MUI Sumut Gelar Pelatihan Pelopor Moderasi Beragama

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Untuk itulah, salah satu Media Komunitas Speaker Kampung Indonesia bersama dengan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Mataram. Menggelar literasi Gathering Jurnalisme Warga (GJW), mengangkat tema “Warga bersuara, Warga berdaya,” berlangsung di Kebun Raya Lemor, Kecamatan Suela, Lombok Timur. Sabtu lalu (16/10).

Kegiatan tersebut, diikuti oleh 30 orang peserta perwakilan dari delapan Kecamatan yang ada di Lotim yakni. Kecamatan Lenek, Aikmel, Wanasaba, Pringgabaya, Suela, Sembalun, Suralaga dan Sambelia.

Sementara yang menjadi narasumber dalam giat tersebut yakni. Muhamad Kadrim (Bang Cem) dari AJI, Bang Eros Direktur Sepeker Kampung. Adapun materi yang disampaikan oleh para narasumber, tentang teknik dasar jurnalistik dan mengenal apa itu media komunitas.

Baca Juga :  Sepatu Tua Guru Honorer dan Surat Terbuka untuk Menteri Nadiem Makarim

Sepeker Kampung Gelar Literasi dan Gathering Jurnalisme Warga

“Sebagai seorang jurnalis, harus tahu dasar teknik jurnalis dan kode etik sebagai jurnalis. Kita harus tahu dulu fungsi dan tugas kita, supaya menjadi jurnalis yang profesional” terang M. Kadri, saat mengisi acara GJW tersebut.

Bukan hanya itu, lanjut Bang Cem sapaan akrabnya. Sebagai seorang jurnalis juga mempunyai wawasan yang luas, bukan hanya sekedar tau dasar dan kode etik saja. Yang tidak kalah pentingnya yang dimiliki oleh seorang jurnalis itu etika.

“Selain itu, menjadi jurnalis itu harus memiliki wawasan yang luas, dengan sering membaca berita atau buku. Tidak cukup berbekal teknis dasar dan kode etik saja,” ucap bang Cem.

Baca Juga : Koreksi, Leasing Tidak Bisa Menarik Kendaraan di Jalan

Pada kesempatan tersebut wartawan senior ini menceritakan sejarah jurnalisme itu sendiri. Pada zaman Romawi kuno, seorang penguasa bernama Julies Caesar pada zamannya bahwa, apapun bentuk produk-produk jurnalisme saat itu tidak boleh keluar tanpa persetujuannya.

“Makanya pada zaman itu, ada istilah disebut akta the urna mengandung rangkaian kata. Bahkan orang pertama yang dinobatkan menjadi jurnalis di dunia ini adalah, Nabi Nuh AS karena beliau pertamakali menyebarkan informasi ke kaumnya waktu itu,” jelas Bang Cem.

Baca Juga :  Demi Xpander, Mitsubishi Bakal Mengimpor Kembali Pajero Sport

“Ini penting diketahui oleh peserta, karena jurnalisme itu sebuh karya seni yang maha dahsyat. Kan yang kita harapkan dari tulisan kita itu, bukan hanya banyak pembacanya. Tapi output dari tulisan kita itu sendiri,” imbuhnya.

Sebenarnya dari sebuah tulisan, sambung bang Cem. Output dari sebuah tulisan, ketika menulis berita ada yang diharapkan dengan tulisan tersebut adalah perubahan sikap dan pendapat perilaku masyarakat halayak.

Baca Juga : Jaksa Menolak Tim Bankum Polda Jatim Pada Persidangan Penganiayaan Jurnalis Tempo Nurhadi

“Yang kita harapkan dari tulisan kita itu, ada dampak sosial dimasyarakat. Karena salah satu fungsi jurnalis itu, sebagai kontrol sosial masyarakat,” pungkas bang Cem.

Selain itu, Direktur Speaker Kampung, bang Eros menambahkan. Media komunitas itu adalah, sebagai wadah tempat semua unsur lapisan masyarakat untuk berbagi informasi.
Dengan kata lain, memiliki akses atau menciptakan alternatif lokal untuk penyiaran.

“Memudahkan masyarakat untuk, berbagi informasi tentang apa saja disekitarnya. Serta membantu dalam proses membangun masyarakat dan meningkatkan kesadaran sosial. Itulah tujuan kita membangun media ini,” kata Eros.

Media komunitas dibangun atas dasar kebutuhan masyarakat, dimana selama ini masyarakat khususnya yang ada di pedesaan atau di daerah terpencil jarang sekali diekspos oleh media-media lain.

Baca Juga :  TPA Suwung Segera Ditutup, Gede Tommy: Kesiapan Infrastruktur dan Masyarakat Jadi Kunci

“Dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat. Itulah ciri khas media komunitas, atau istilah lain jurnalisme akar rumput,” ujar Eros.

Baca Juga : PNS Nakal SMPN 2 Ra’as, Sebelumnya Sudah Pernah Dilaporkan?

Meski demikian lanjut Eros, tentu para jurnalis media komunitas dibekali dengan keahlian menulis maupun teknis dasar observasi, investigasi mengutamakan rumus 5W+1H.

“Paling tidak memiliki dasar itu, supaya narasi beritanya tidak tumpang tindih. Bisa dipahami oleh pembaca,” kata Eros.

Media komunitas Sepeker Kampung, sambungnya. Salah satu media yang di akui oleh Dewan Pers Indonesia, artinya dibawah naungan Dewan Pers sama dengan media-media lain yang ada di Indonesia.

“Itulah kenapa dinamakan media kita ini, Sepeker Kampung Indonesia. Jadi saatnya warga bersuara,” tegasnya.

Untuk diketahui, dalam giat GJW tersebut, selain peserta diberikan pemahaman tentang Jurnalistik dasar, apa itu Media Komunitas. Peserta juga diajak praktik langsung cara menulis dan wawancara dengan narasumber.

Baca Juga : Kopi Kapal Api Dalam Ancaman Boikot Pewarta

“Sesuai dengan konsep acara yakni, Gathering atau rekreasi. Peserta diajak bebas dalam pelatihan, karena tempat kita pelatihan diluar ruangan dan tidak formal,” ujar Eros.

Facebook Comments Box

Follow WhatsApp Channel okedaily.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Related News

DPD PERADI Profesional DKI Jakarta Resmi Dilantik, Misyal B. Achmad Dorong Advokat Berintegritas dan Berkeadilan
Pohon Asam Terus Dibabat, Warga Gendang Barat Menjerit Kekeringan
Stand Bappeda Sumenep Juara MCF 2026, Arif: Ini Buah Kekompakan dan Semangat Pengabdian
Rakor DPW AWDI Jakarta, Matangkan Persiapan Pelantikan pada Oktober 2026
Hashim Djojohadikusumo: Pers Harus Jadi Benteng Lawan Hoaks di Era Media Sosial
Presiden Prabowo Subianto Luncurkan Program PLTS 100 GWp di Bali
GMNI Sumenep Sentil Politisi PDIP: Rakyat Kepulauan Butuh Anggaran, Bukan Ganti Nama
Gebyar PAUD Gayam Meledak, Bazar UMKM Diserbu Pengunjung

Related News

Minggu, 6 September 2026 - 09:34 WIB

DPD PERADI Profesional DKI Jakarta Resmi Dilantik, Misyal B. Achmad Dorong Advokat Berintegritas dan Berkeadilan

Minggu, 6 September 2026 - 06:47 WIB

Pohon Asam Terus Dibabat, Warga Gendang Barat Menjerit Kekeringan

Senin, 31 Agustus 2026 - 18:35 WIB

Rakor DPW AWDI Jakarta, Matangkan Persiapan Pelantikan pada Oktober 2026

Jumat, 28 Agustus 2026 - 09:51 WIB

Hashim Djojohadikusumo: Pers Harus Jadi Benteng Lawan Hoaks di Era Media Sosial

Kamis, 27 Agustus 2026 - 10:42 WIB

Presiden Prabowo Subianto Luncurkan Program PLTS 100 GWp di Bali

Latest News

Direktur Pusat Kajian Strategis Governansi Digital Inklusif, Prof. Dr. Taufiqurokhman, S.H., A.Ks., S.Sos., M.Si. ®okedaily.com [foto: istimewa]

Kopini

Dibalik Tirai Newsroom Jaga Desa

Jumat, 4 Sep 2026 - 10:27 WIB