Petani Milenial Konstruktif Membangun Ketahanan Pangan

- Editorial Team

Senin, 31 Oktober 2022 - 16:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

DPM-Faperta Unisma, Agus Purnomo. ©Okedaily.com/ist

DPM-Faperta Unisma, Agus Purnomo. ©Okedaily.com/ist

OKEDAILY.COM Indonesia merupakan negara dengan tingkat kesuburan alam yang tinggi dibandingkan dengan negara-negara lain. Dianugrahkan-nya menjadi keharusan mengelolanya dengan baik, dalam hal ini peran pemuda dibutuhkan untuk memastikan potensi kekayaan alam Indonesia. Menjadi sumber kesejahteraan rakyat.

Pengelolaan lahan pertanian harus diperhatikan dengan serius oleh pemerintah. Ketahanan pangan akan sangat membantu pembangunan di berbagai macam sektor. Sebab keberadaannya menjadi kebutuhan pokok dan sentral bagi wacana kehidupan dalam kurun waktu 10 sampai 15 tahun yang akan datang.

Banyak terdapat sarjana mahasiswa pertanian di berbagai daerah, namun angka itu bukan membantu terhadap pertumbuhan pertanian, kenapa hal itu bisa terjadi?

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Hemat saya, disebabkan perkembangan zaman dan tingkat pergaulan digital, sehingga bertani dianggap kuno. Hal ini bisa dilihat dari partisipasi pemuda dibawah umur 30 tahun hanya tersisa 8% dari total seluruh petani di Indonesia. Tren tersebut berbanding lurus dengan penurunan penduduk yang bekerja di sektor perhutanan, pertanian, perikanan.

Baca Juga : Muhammad Faisol Resmi Dilantik, Bung Karna : Semoga Bisa Bekerjasama dengan Baik

Menurut Badan Statistic Nasional, jumlah penduduk yang bekerja disektor pertanian turun dari 33% menjadi 29% dalam kurun waktu 5 tahun terakhir. Ini menjadi ancaman serius bagi kehidupan masyarakat Indonesia. Sebab, kebutuhan ekonomi akan tinggi maka berpeluang membuka pintu impor pangan negara lain.

Baca Juga :  Sukses! RSUD Moh Anwar Sumenep Tembus Target Retribusi, 2026 Genjot Pendapatan

Semakin pelik, melihat kesejahteraan petani yang masih belum terlihat baik, upah maksimum tidak mengeksploitasi angka kemiskinan di pedesaan. Dimana sebagian besar pendapatan penduduk desa berada di sektor pertanian. Kesejahteraan rakyat petani pribumi harus diperhatikan dengan baik oleh pemerintah agar tercipta kehidupan yang makmur.

Selain itu salah satu penyebab terdegradasinya regenerasi petani di Indonesia adalah mahalnya biaya dan sulitnya akses dalam menggeluti bidang pertanian, baik dalam biaya permodalan, pendistribusian, oprasional, kebijakan publik yang masih terdekte pada kepentingan pemodal.

Bahkan lembaga pendidikan pertanian yang menjadi harapan besar regenerasi pertanian di Indonesia tidak lepas dari yang namanya pemungutan pajak dan upeti. Susahnya akses pengembangan potensi generasi petani mengakibatkan peralihan profesi kerja, hal ini tidak bisa dibantahkan menjadi persoalan tersendiri bagi pengembang pertanian.

Baca Juga : KM Mila Tujuan Situbondo Karam di Perairan Pulau Sapudi, Ini Penyebabnya

Sudah saatnya pemangku kebijakan yang mempunyai hak dan wewenang untuk mengevaluasi hal itu. Tidak mudah memang membentuk suatu karakter pemuda untuk peduli akan pentingnya sektor pertanian tanpa adanya suatu dorongan yang all-out dari berbagai pihak.

Baca Juga :  Konferensi Islam Asean 2022, Kiai Ahmad Fauzi Tidjani : Moderasi Islam Jangan Sampai Diliberalisasi

Termasuk di lembaga pendidikan (kampus) sudah menjadi hal yang lumrah mahasiswa pertanian dibingungkan dengan kegiatan praktikum yang dirasa aneh nan lucu, namun sangat berpengaruh terhadap klaim mahasiswa tersebut berprestasi atau pemalas tanpa memperdulikan fashion atau basic individu setiap mahasiswa tentang pemahamannya dalam dunia pertanian.

Penyampaian masalah yang terjadi dalam dunia pertanian pun terkadang masih dianggap remeh dan tidak penting. Ketika tidak sesuai dengan mekanisme lembaga pendidikan yang sudah ditentukan tanpa kesepakatan, bahkan terkadang dianggap tidak berbobot dan terkesan mahasiswa yang tidak memiliki sopan santun.

Ketika mahasiswa terlalu over mengetahui masalah dunia pertanian. Disorientasi antara minat dan bakat mahasiswa pertanian sering kali menjadi korban dalam situasi ini. Sudah seharusnya semua elemen bersatu untuk ikut serta menyelesaikan permasalahan ini.

Baca Juga : Seorang WNI Tewas di Texas, HMI Cabang Medan : Ini Pelanggaran HAM Berat

Banyak generasi petani yang sudah dihadapkan dengan pekerjaan rumah sebelum terjun ke dalam dunia pertanian yang katanya begitu nikmat untuk ditekuni. Masalah agraria, Isu lingkungan (wadas), mahalnya pupuk subsidi, ancaman lahan pertanian menjadi pertambangan, ketidakjelasan perizinan lahan (mandalika, IKN) krisis ekologi pedesaan, menjadi bumbu pelengkap dalam kurun waktu beberapa tahun ini.

Baca Juga :  Simsalabim, Dana Hibah APBD ke Baznas Sumenep Tak Pernah Diaudit

Harapan besar bagi bangsa ini, jika kesadaran dan pentingnya dunia pertanian untuk kita gagas bersama tanpa saling mengintimidasi antara satu dengan yang lain.

Dalam catatan sejarah kita sudah terlalu lama, kita dibabukan oleh bangsa lain hanya perihal kekuasaan bumbu dapur untuk di perjualbelikan dengan nafsu birahi mereka.

Maka dari itu pemuda-pemudi sudah seharusnya ikut andil dan terfasilitasi dengan baik dalam membangun dunia pertanian di negeri kaya raya ini.

Facebook Comments Box

Follow WhatsApp Channel okedaily.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Related News

Gendang Barat dan Sinyal Persoalan Lingkungan di Pulau Sapudi
Dibalik Tirai Newsroom Jaga Desa
Maulid Nabi dan Transformasi Nilai-nilai Profetik
Fauzi AS: Merdeka di Tiang Bendera
Sumenep Kepulauan: Mengganti Nama atau Mengganti Nasib?
Polresta Sumenep: Pangkat Naik, Pintu Informasi Turun
Dilema Tafsir Kepemimpinan Politik dan Birokrasi
Supremasi Sipil, Bahaya Laten Korupsi dan Menguatnya Peran Militer

Related News

Minggu, 6 September 2026 - 15:37 WIB

Gendang Barat dan Sinyal Persoalan Lingkungan di Pulau Sapudi

Jumat, 4 September 2026 - 10:27 WIB

Dibalik Tirai Newsroom Jaga Desa

Selasa, 25 Agustus 2026 - 10:30 WIB

Maulid Nabi dan Transformasi Nilai-nilai Profetik

Senin, 17 Agustus 2026 - 13:10 WIB

Fauzi AS: Merdeka di Tiang Bendera

Senin, 3 Agustus 2026 - 19:58 WIB

Sumenep Kepulauan: Mengganti Nama atau Mengganti Nasib?

Latest News

Fero Feriyanto, salah satu figur muda yang mulai diperbincangkan masyarakat menjelang dinamika Pilkades Gayam 2027. ®okedaily.com

Politik

Fero Feriyanto, Figur Muda dan Harapan Baru Desa Gayam

Jumat, 11 Sep 2026 - 13:54 WIB