OkeDaily.com – Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Kabupaten Sumenep, Madura, menggelar workshop penguatan manajemen terpadu balita sakit disingkat MTBS, pada Kamis (18/9).
Acara yang bertempat di de Baghraf Hotel tersebut diikuti oleh sejumlah 75 peserta, yang terdiri dari dokter umum, Pj KIA, perwakilan poli anak RS dan Klinik se-Kabupaten Sumenep.
Kepala Dinkes P2KB Sumenep, drg. Ellya Fardasyah, saat ditemui awak media menyampaikan tujuan diadakannya kegiatan ini yakni untuk meningkatkan kapasitas dan keterampilan petugas kesehatan.
Selain itu, sambung drg Ellya, juga untuk menerapkan sistem MTBS secara komprehensif ditengah wabah penyakit campak yang ada di Kabupaten Sumenep.
“Sampai dengan tanggal 14 September 2025, tercatat 2.822 kasus suspek campak, dengan 205 kasus positif campak. Terdapat 3 kecamatan dengan penemuan kasus suspek campak 150 kasus, yaitu Kecamatan Kota, Kalianget dan Batang-Batang,” ucapnya.
Berdasarkan Surat Keputusan Bupati Sumenep tentang Penetapan Status Kejadian Luar Biasa Penyakit Menular Campak, diperlukan upaya penanggulangan untuk menangani tersangka atau penderita campak sesuai tata laksana kasus.
“Sampai dengan tanggal 14 September 2025, tercatat sudah ada 20 kematian balita akibat campak di Kabupaten Sumenep, maka dari itu MTBS digunakan untuk mendeteksi dini dan menangani balita yang sakit akibat campak serta penyakit lain pada anak usia dibawah lima tahun sehingga angka kematian dapat ditekan seminim mungkin,” pungkasnya.
Untuk diketahui, acara yang digelar selama 1 hari ini mendatangkan beberapa narasumber, yakni dari RSUD Dr. Soetomo Surabaya, Dr. Dominicus Husada, dr.Sp.A(K), perwakilan WHO serta dari Dinkes P2KB sendiri.


















