Denpasar, Okedaily.com – Ketegangan geopolitik global di kawasan Selat Hormuz berdampak signifikan terhadap lonjakan harga minyak dunia. Peningkatan eskalasi konflik yang melibatkan kekuatan besar seperti Amerika Serikat, Iran, dan sekutunya menyebabkan sekitar 20–25 persen suplai minyak mentah dunia yang melewati jalur strategis tersebut terganggu.
Kondisi tersebut mendorong harga minyak dunia melonjak tajam dari asumsi APBN sekitar USD 70 per barel menjadi kisaran USD 100 hingga USD 120 per barel. Dampaknya, sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara yang bergantung pada impor energi dari jalur tersebut mulai menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri.
Krisis ini bukan yang pertama kali terjadi. Gangguan di Selat Hormuz sebelumnya juga tercatat dalam beberapa periode konflik besar, seperti Perang Iran-Irak, Perang Teluk 1991, serta invasi Amerika Serikat ke Irak pada 2003.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun di tengah tekanan global tersebut, Pemerintah Indonesia memilih untuk tidak menaikkan harga BBM. Berdasarkan data Global Petrol Prices (GPP) per 1 April 2026, harga BBM non-subsidi di Indonesia masih berada pada level:
Pertamax: Rp12.300/liter
Pertamax Green: Rp12.900/liter
Pertamax Turbo: Rp13.100/liter
Dexlite: Rp14.200/liter
Pertamina Dex: Rp14.500/liter
Sementara untuk BBM subsidi:
Pertalite: Rp10.000/liter
Solar: Rp6.800/liter
Menteri Keuangan juga memastikan tidak akan ada kenaikan harga BBM subsidi, termasuk Pertalite dan Solar, hingga akhir tahun 2026.
Anggota DPRD Kota Denpasar Fraksi Gerindra, I Gede Tommy Sumertha, menilai langkah pemerintah tersebut sebagai bentuk keberpihakan kepada masyarakat di tengah tekanan global.
“Di saat banyak negara sudah menaikkan harga BBM akibat dampak krisis Selat Hormuz, pemerintah Indonesia justru mampu menjaga stabilitas harga. Ini menunjukkan komitmen kuat dalam melindungi daya beli masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan, kebijakan tersebut tidak lepas dari arah kepemimpinan Presiden yang menitikberatkan pada penguatan ketahanan nasional di berbagai sektor, termasuk energi.
Menurutnya, strategi ketahanan energi yang dijalankan pemerintah menjadi kunci dalam menghadapi gejolak global. Selain energi, pemerintah juga mendorong penguatan ketahanan pangan, air, serta pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan.
“Ini adalah bukti bahwa pemerintah telah melakukan langkah antisipatif yang matang. Indonesia tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu menjaga stabilitas di tengah krisis global,” tambahnya.
Sebagai perbandingan, harga BBM di sejumlah negara ASEAN justru mengalami kenaikan signifikan. Singapura mencatat harga bensin tertinggi mencapai Rp43.195 per liter, disusul Laos, Thailand, hingga Filipina yang juga berada di atas Indonesia.
Perbandingan Harga BBM di ASEAN (per liter):
Singapura: Bensin Rp43.195 | Solar Rp50.544
Laos: Bensin Rp30.192 | Solar Rp32.064
Thailand: Bensin Rp27.155 | Solar Rp20.756
Filipina: Bensin Rp26.948 | Solar Rp33.506
Myanmar: Bensin Rp26.610 | Solar Rp29.553
Kamboja: Bensin Rp26.234 | Solar Rp30.485
Malaysia: Bensin Rp16.225 | Solar Rp23.147
Vietnam: Bensin Rp15.905 | Solar Rp22.997
Indonesia: Bensin Rp12.390 | Solar Rp14.620
Dengan kondisi tersebut, Indonesia menjadi salah satu negara dengan harga BBM relatif lebih rendah di kawasan, sekaligus menunjukkan upaya pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah dinamika geopolitik global yang terus berkembang.
Penulis : Alfin
Editor : Editor

















![Pemerhati kebijakan publik, Fauzi AS. ©okedaily.com [dok: istimewa]](https://okedaily.com/wp-content/uploads/2026/03/IMG_20260319_033856-360x200.jpg)
![Pemerhati kebijakan publik, Fauzi AS. ©Okedaily.com [dok. pribadi]](https://okedaily.com/wp-content/uploads/2025/07/IMG_20250727_200551-e1753622116131.jpg)