Catatan Aktivis, Fauzi AS: Demokrasi Junub

- Editorial Team

Senin, 6 Januari 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Suasana guyub bincang santai Tim Final di Prancak Pasongsongan. ©Okedaily.com/Istimewa

Suasana guyub bincang santai Tim Final di Prancak Pasongsongan. ©Okedaily.com/Istimewa

OKEDAILY.COM Catatan ini saya tulis di pegunungan Prancak, Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, Madura, pada Senin, 6 Januari 2025. Kebetulan pada hari itu saya menghadiri rapat persiapan sidang MK. Saya tidak mengerti mengapa tim paslon Final memilih tempat ini. Jarak yang jauh dari Kota Sumenep memberikan banyak pengalaman berkendara. Mulai dari jalan yang sempit, tikungan tajam dan tanjakan curam yang cukup menguji kesabaran saya dalam mengemudi.

Baru setelah tiba di titik lokasi, saya merasa bahwa tim Final tidak hanya sekedar mengadakan pertemuan, melainkan menikmati bonus indahnya pegunungan. Salah satu tim pendukung membongkar perasaannya bahwa di tempat tersebut peserta rapat terasa menyatu dengan alam.

Kembali pada soal gugatan ke MK, bagi saya gugatan sengketa pemilu di MK adalah sarana membongkar sisi kotor dari proses demokrasi. Dengan kata lain, MK dapat kita sebut dengan istilah “Mesin Kesucian.” Artinya, bagi siapapun yang merasa dicurangi dengan cara-cara kotor, maka noda itu hanya bisa dihilangkan dengan Mesin Kesucian, yaitu MK.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Baca Juga :  APBD Sumenep Tahun Anggaran 2025 Defisit Rp245 Miliar, Penasehat AWDI Angkat Bicara

“Kebenaran adalah senjata terkuat melawan kecurangan” kalimat yang diungkapkan Plato, itulah yang membuat saya berani menulis catatan ini. Tak hanya itu, mungkin kalimat itu pula yang membuat semangat Tim Final memuncak untuk melawan kecurangan Pilkada Sumenep 2024, sesuai konstitusi.

Dalam beberapa kali pertemuan dan diskusi, inti dari pembahasan tim adalah tentang siapa saja yang membuat noda dalam pilkada? dengan cara apa kotoran itu di tumpahkan? Dua pertanyaan itulah yang akan menjawab akar masalah kecurangan Pilkada Sumenep 2024.

Salah satu perbuatan yang dinilai meninggalkan jejak najis dalam Pilkada Sumenep 2024 terdapat nama tokoh PDIP. Tokoh kuat yang di kenal publik dengan sebutan M0. Setidaknya nama itu muncul setiap kali diskusi digelar. Mungkin tak hanya di lingkungan kami. Dari tingkat dusun sampai elit Kabupaten sudah mafhum sepak terjang orang ini.

Baca Juga :  Pemkab Sumenep Benarkan APBD Tahun Anggaran 2025 Mengalami Defisit 245 Miliar

Di sela-sela rapat, Sulaisi Abdurrazaq, salah satu tim hukum Paslon Final, memohon bantuan do’a kepada para pejuang dan pendukung paslon Final. Dia berharap, dengan doa mesin kesucian tersebut bekerja dengan adil. MK sebagai alat bersuci bagi demokrasi kita yang sedang dalam kondisi junub (hadats besar).

Menurut Sulaisi do’a merupakan faktor penentu sukses atau tidaknya perjuangan melawan dugaan kecurangan dalam proses pesta rakyat itu. Ia memberikan contoh bahwa Kiai Ali Fikri, bisa berkompetisi dalam Pilkada Sumenep 2024 sebab diuntungkan oleh putusan MK.

Kembali pada judul diatas bahwa “Junub” adalah terminologi yang paling tepat untuk menggambarkan perilaku politik kotor. Istilah ini sekaligus sebagai titik renung bagi kita dalam rangka mengevaluasi sikap dan cara pandang kita terhadap perjalanan demokrasi di Madura, khususnya di Kabupaten Sumenep.

Baca Juga :  Debat Kedua Pilkada Sumenep Mengangkat Tema Tata Kelola Pelayanan Publik

Dampak dari demokrasi junub ini membuat tatanan sosial berada di ujung liminal. Masyarakat Madura terjebak dalam kondisi yang memprihatinkan. Kemiskinan telah melahirkan pikiran pragmatis. Sementara elit politik seakan dengan sengaja menjebak masyarakat kita agar tetap dalam kondisi yang miskin.

Hal itu juga yang kemudian menjadi jalan bagi penjahat melanggengkan kekuasaannya. Anehnya lagi, penjahat yang memegang otoritas tetap di kagumi oleh pengikutnya. Calon pemimpin dengan integritas baik, intelektualitas mumpuni, dan elektabilitas selangit bisa takluk pada satu ukuran yaitu dolaritas (Seberapa banyak uang yang dimiliki).

Masyarakat kita tidak peduli sumber keuangan mereka dari mana, masyarakat juga tidak bertanya sumberdaya alam kita dibawa kabur kemana. Madura yang dikelilingi lautan madu, penghasil ikan terbaik, sumber daya alam yang melimpah, sumber migas penyumbang terang cahaya negara hanya disadari oleh segelintir tokoh yang lebih berpengetahuan.

Baca Juga :  Catatan Pilu Mahasiswa FIA Unisma

Bagi saya, Madura adalah berlian yang menggantung di leher ibu pertiwi, dan kini berlian itu berada ditangan penyamun. Pulau ini masih tercatat sebagai juara dalam kemiskinan di Jawa Timur. Kekayaan alam dan lautan madu belum menjadi jalan keluar bagi masyarakat kita dari penjara kebodohan.

Terakhir saya mengingatkan bagi siapapun elit politik. Jangan pernah berpikir bahwa kecurangan itu merupakan jalan pintas, karena pada akhirnya kecurangan akan bertemu dengan jalan buntu sebagai balasan dari Allah Azza Wa Jalla, pemilik otoritas keadilan.

Penulis : Fauzi AS, Aktivis dan Pengamat Kebijakan Publik Sumenep.

Tulisan opini ini sepenuhnya merupakan tanggungjawab penulis, dan tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi media okedaily.com.

Kanal opini media okedaily.com terbuka untuk umum. Maksimal panjang naskah 4.000 karakter, atau sekitar 600 kata.

Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri anda dan nomor telepon yang bisa dihubungi. Kirim ke alamat e-mail: opini@okedaily.com.

Facebook Comments Box

Follow WhatsApp Channel okedaily.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Related News

Sumenep Kepulauan: Mengganti Nama atau Mengganti Nasib?
Polresta Sumenep: Pangkat Naik, Pintu Informasi Turun
Dilema Tafsir Kepemimpinan Politik dan Birokrasi
Supremasi Sipil, Bahaya Laten Korupsi dan Menguatnya Peran Militer
Catatan Fauzi AS: Jaksa dan Polri Bugil di Tengah Jalan
Catatan Fauzi AS: Penjahat Bernama Prabowo
Sang Jenderal yang Tak Menunggu Telepon
Membedah Tuntutan Iran dan Inkonsistensi Trump di Selat Hormuz

Related News

Senin, 3 Agustus 2026 - 19:58 WIB

Sumenep Kepulauan: Mengganti Nama atau Mengganti Nasib?

Sabtu, 18 Juli 2026 - 14:14 WIB

Polresta Sumenep: Pangkat Naik, Pintu Informasi Turun

Kamis, 16 Juli 2026 - 22:54 WIB

Dilema Tafsir Kepemimpinan Politik dan Birokrasi

Selasa, 14 Juli 2026 - 12:13 WIB

Supremasi Sipil, Bahaya Laten Korupsi dan Menguatnya Peran Militer

Senin, 13 Juli 2026 - 22:34 WIB

Catatan Fauzi AS: Jaksa dan Polri Bugil di Tengah Jalan

Latest News