Bahlil Lahadalia, Anak Kampung yang Berhak Jadi Doktor UI

- Editorial Team

Senin, 10 Maret 2025 - 17:08 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

M. Fauzan Irvan, Alumni SKSG UI, Direktur Progressive Democracy Watch (Prodewa). ©Okedaily.com

M. Fauzan Irvan, Alumni SKSG UI, Direktur Progressive Democracy Watch (Prodewa). ©Okedaily.com

OkeDaily.com Dalam kurun waktu belakangan ini, dunia pendidikan riuh dengan perdebatan gelar doktor yang diperoleh oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia dari perguruan tinggi negeri terkemuka di tanah air. Terlepas dari semua peristiwa tersebut, saya mencoba melihat dari sudut pandang yang berbeda dari masyarakat kebanyakan.

Sudut pandang tersebut adalah terkait semangat seorang anak kampung dari Indonesia bagian timur yang datang dengan tekad dan semangat dalam mengaktualisasi serta meningkatkan kapasitas diri melalui bidang akademik. Si anak kampung kelahiran Banda, Maluku Utara pada 7 Agustus 1976 ini besar serta bertumbuh di tanah Papua.

Baca Juga :  Aneh Tapi Nyata, SOP Pembakaran Dapur di BRI

Perjalanan hidup dari anak kuli bangunan (ayah) dan tukang cuci (ibu) ini membuat dirinya tidak seberuntung anak pada umumnya. Meskipun demikian, Bahlil tidak menyerah apalagi pasrah pada keadaan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Akan tetapi, keadaan yang pahit tersebut secara langsung maupun tidak langsung menempa dirinya untuk terus berani bercita-cita, meski kesehariannya pada saat itu dijalani sebagai penjual kue, supir angkot dan penjual koran.

Ketidakberuntungannya pada masa kecil membuat dirinya terus bekerja keras dan berjuang hingga akhirnya dewi fortuna berpihak pada dirinya. Menjadikannya menjadi salah seorang pengusaha yang sukses.

Bahlil berhasil mendirikan perusahaan, dan kini perusahaannya terus bergerak, berkembang dan beranak pinak menjadi perusahaan-perusahaan yang bergerak di pelbagai bidang dengan bendera PT Rifa Capital sebagai induk perusahaannya.

Baca Juga :  Catatan Aktivis, Fauzi AS: Demokrasi Junub

Sejak saat itu, Bahlil sebagai pengusaha tidak hanya dikenal, tapi juga cukup diperhitungkan. Sampai pada akhirnya, dalam sebuah kontestasi di tahun 2015, Bahlil berhasil menjadi Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI). Ia menahkodai organisasi para pengusaha tersebut periode 2015-2018.

Tak cukup sampai di situ, si anak kampung ini kembali mengasah dirinya serta mencari pengalaman dan peruntungan pada dunia politik serta pemerintahan. Hasilnya, si anak kampung ini dipercaya oleh presiden saat itu (Jokowi) menjadi Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

Kemudian, menjadi Ketua umum dari salah satu partai politik tertua dan terkemuka di Indonesia, yakni Partai Golkar. Kemudian Presiden Prabowo (sekarang), Bahlil kembali di percaya menjadi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Meski demikian, sosok Bahlil adalah sosok anak kampung yang tak mudah puas akan pencapaian-pencapaiannya. Bahlil adalah sosok yang menjadi inspirasi bagi kita anak kampung yang bukan terlahir dari anak pejabat, jenderal maupun anak berpangkat dan terhormat lainnya, tetapi bisa mencapai kesuksesan seperti yang ada dan kita lihat sekarang.

Baca Juga :  Polri Tingkatkan Kepercayaan Publik, BEMNUS Jatim : Buah Dari Kerja Nyata Kapolri dan Jajarannya

Bahlil adalah sosok pejuang dan petarung yang pantang menyerah. Meski medan yang dilaluinya cukup bahkan sangat sulit. Dengan kata lain, Bahlil terus mengasah kemampuan dirinya termasuk kemampuan akademiknya.

Singkatnya, setelah menamatkan pendidikan dari bangku sekolah menengah atas, Bahlil menempuh pendidikan dan meraih gelar sarjananya dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Port Numbay Jayapura, Papua, Kemudian, menempuh S2 di Universitas Cendrawasih.

Tak puas sampai di situ, kini Bahlil kembali menambah ilmu pengetahuan dan mengasah kemampuan akademiknya dengan menjadi mahasiswa yang menempuh program doktor (S3) Sekolah Kajian Stratejik dan Global (SKSG) di Universitas Indonesia (UI) pada perjuangannya dalam meraih gelar doktor inilah keriuhan dimulai.

Saya sebagai alumnus SKSG UI mengetahui dan menyadari betul bagaimana proses perkuliahan/pendidikan di kampus jaket kuning ini tidaklah mudah. Prosedural yang panjang, memaksa setiap kita mahasiswanya untuk mengikutinya, melewatinya dengan serius dan tekun agar bisa lulus.

Baca Juga :  Catatan Fauzi AS: Penjahat Bernama Prabowo

Meski demikian, sekarang, pelbagai tudingan di alamatkan padanya, mulai dari plagiat, revisi hingga penundaan gelar doktornya. Akan tetapi, saya melihat dan meyakini Bahlil, si anak kampung yang memiliki sifat dan sikap pejuang serta petarung ini mampu melaluinya. Sebab, revisi adalah suatu hal yang biasa dilakukan oleh mahasiswa sehabis sidang.

Maksud saya, dan berdasarkan yang saya lalui di bangku perkuliahan, revisi sehabis sidang adalah suatu upaya memperlengkapi segala kekurangan-kekurangan dalam skripsi maupun tesis.

Revisi ini bertujuan agar skripsi maupun tesis yang ditulis oleh mahasiswa kandidat sarjana, master, doktor maupun profesor tujuannya untuk membuat sesuatu yang baik jadi lebih baik lagi. Segala kekurangan diperlengkap kembali.

Singkatnya, revisi adalah suatu yang wajar. Sedang plagiat, tentu ada proses penilaian bahkan pengujian kembali atas skripsi dan tesis yang ditulis oleh mahasiswa. Ada penilaian terhadap teknis penulis serta konsep berpikir si mahasiswa. Sampai pada akhirnya, skripsi tersebut diterima dan lanjut pada proses sidang atau pengujian oleh dosen atau para ahli terkait.

Baca Juga :  Regulasi Basi Bau Terasi

Paling penting lagi, atas proses yang telah dilaluinya di UI, Bahlil berhak untuk memperoleh gelar doktornya. Sebagai penulis, saya berharap polemik ini segera selesai, dan si anak kampung yang telah melalui prosesnya dan yang telah bercita-cita menjadi doktor dari universitas terkemuka ini, bisa memeroleh haknya dengan wajah sumringah dan terhormat.

Artinya, Bahlil berhak mendapat gelar doktor karena melewati proses pembelajaran dan prosedural perkuliahan sesuai dengan ketentuan dan peraturan yang ada di Universitas Indonesia.

****

*) Oleh: M. Fauzan Irvan, Alumni SKSG UI, Direktur Progressive Democracy Watch (Prodewa).

*) Tulisan opini ini sepenuhnya merupakan tanggungjawab penulis, dan tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi media online okedaily.com.

*) Kanal opini (kopini) media online okedaily.com terbuka untuk umum. Maksimal panjang naskah 4.000 karakter, atau sekitar 600 kata.

*) Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri anda dan nomor telepon yang bisa dihubungi. Kirim ke alamat e-mail: opini@okedaily.com.

Facebook Comments Box

Follow WhatsApp Channel okedaily.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Related News

Gendang Barat dan Sinyal Persoalan Lingkungan di Pulau Sapudi
Dibalik Tirai Newsroom Jaga Desa
Maulid Nabi dan Transformasi Nilai-nilai Profetik
Fauzi AS: Merdeka di Tiang Bendera
Sumenep Kepulauan: Mengganti Nama atau Mengganti Nasib?
Polresta Sumenep: Pangkat Naik, Pintu Informasi Turun
Dilema Tafsir Kepemimpinan Politik dan Birokrasi
Supremasi Sipil, Bahaya Laten Korupsi dan Menguatnya Peran Militer

Related News

Minggu, 6 September 2026 - 15:37 WIB

Gendang Barat dan Sinyal Persoalan Lingkungan di Pulau Sapudi

Jumat, 4 September 2026 - 10:27 WIB

Dibalik Tirai Newsroom Jaga Desa

Selasa, 25 Agustus 2026 - 10:30 WIB

Maulid Nabi dan Transformasi Nilai-nilai Profetik

Senin, 17 Agustus 2026 - 13:10 WIB

Fauzi AS: Merdeka di Tiang Bendera

Senin, 3 Agustus 2026 - 19:58 WIB

Sumenep Kepulauan: Mengganti Nama atau Mengganti Nasib?

Latest News

Fero Feriyanto, salah satu figur muda yang mulai diperbincangkan masyarakat menjelang dinamika Pilkades Gayam 2027. ®okedaily.com

Politik

Fero Feriyanto, Figur Muda dan Harapan Baru Desa Gayam

Jumat, 11 Sep 2026 - 13:54 WIB