Baznas Sumenep Kecipratan Dana Hibah Meskipun Tak Memiliki Payung Hukum

- Editorial Team

Senin, 21 Juli 2025 - 14:06 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kantor Baznas Kabupaten Sumenep yang menerima hibah dari APBD meski tak memiliki payung hukum. ©Okedaily.com

Kantor Baznas Kabupaten Sumenep yang menerima hibah dari APBD meski tak memiliki payung hukum. ©Okedaily.com

OkeDaily.com Pemberian hibah yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Sumenep kepada Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) setempat, terus menjadi topik obrolan hangat di kalangan aktivis Kota Keris.

Hal tersebut mencuat ke publik pasca terbitnya Instruksi Bupati (Insbup) Sumenep Nomor: 100.3.4.2/1/2025 tentang optimalisasi pengumpulan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Sumenep, Madura, sejak 5 Mei 2025.

Apakah Baznas Sumenep dapat menerima hibah APBD hanya dengan mengacu pada Perbup 82 Tahun 2018 Perubahan atas Perbup 36 Tahun 2017, tanpa didukung Perda atau Perkada yang menyebutkan secara eksplisit sebagai penerima? itulah pertanyaan publik selama ini.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Baca Juga :  Misteri Insbup Sumenep Potong Gaji ASN Tanpa Perda, Praktisi Hukum Kritik Ketiadaan Payung Hukum

Berdasarkan UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah khususnya Pasal 298 ayat (5) menyebut, bahwa belanja hibah hanya dapat diberikan kepada pihak tertentu sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

Selain itu, termaktub pula dalam PP Nomor 12 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 62, bahwa belanja hibah hanya sah apabila ditetapkan dalam Perkada yang sah.

Kemudian Permendagri Nomor 77 Tahun 2020 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah juga menegaskan, penerima hibah harus ditetapkan dalam Perkada sebagaimana termaktub dalam Lampiran I bagian Belanja Hibah Bab II huruf D, angka 2.e, sub‑sub poin ke‑5 dan ke-6.

Baca Juga :  Pemerintahan Jangan Ugal-ugalan, Hibah APBD Harus Patuh Hukum!

Sedangkan Perbup yang dijadikan dasar hukum pemberian hibah itu, hanya mengatur mekanisme umum tata cara pemberian hibah dan bantuan sosial, namun tidak menyebutkan nama lembaga penerima tertentu secara eksplisit.

Sementara itu, UU Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat, menetapkan bahwa Baznas adalah lembaga pemerintah nonstruktural, bukan ormas atau lembaga sosial masyarakat yang tunduk pada sistem hibah konvensional.

Oleh karena itu, jika mengacu pada PP dan Permendagri tersebut, setiap hibah kepada entitas non-OPD harus diatur dalam Perkada yang menyebutkan dengan jelas nama penerima, bukan sekadar Perbup umum.

Baca Juga :  Baznas Sumenep, Lembaga Amal atau Agensi Pencitraan?

Untuk diketahui, Perkada hanya sah bila diturunkan dari Perda, dan tidak boleh bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi, sesuai ketetapan UU No. 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan jo. UU No. 13 Tahun 2022.

Dalam praktik audit keuangan, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) kerap memberi catatan jika hibah diberikan kepada instansi vertikal tanpa dasar hukum spesifik, dan dana tersebut dapat diminta untuk dikembalikan ke kas daerah.

Kendati demikian, apabila Pemkab telah menyalurkan dana hibah untuk Baznas hanya berdasar pada Perbup 82/2018 tanpa Perda atau Perkada yang secara eksplisit menetapkan sebagai penerima, maka hal tersebut berpotensi melanggar asas legalitas.

Baca Juga :  Baznas Sumenep Berlari Kencang Meski Sepatunya Tak Resmi

Dari serangkaian analisis hukum di atas, maka pemberian hibah dari APBD kepada Baznas selama ini adalah tidak sah secara hukum, dan berpotensi menjadi pelanggaran terhadap ketentuan pengelolaan keuangan daerah.

Seyogianya, Pemerintah Kabupaten Sumenep segera menyusun Perda atau Perkada khusus yang menetapkan Baznas sebagai penerima hibah dan mengatur mekanisme, tujuan, serta tanggung jawab pelaporannya.

Adapun penyaluran hibah yang telah dilakukan tanpa dasar hukum tersebut sebaiknya dilakukan audit internal oleh Inspektorat Daerah, atau aparat pengawasan seperti BPK juga dapat dimintai pandangan resmi apabila terdapat potensi kerugian daerah.

Facebook Comments Box

Follow WhatsApp Channel okedaily.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Related News

SOP Baru Produk Hukum Sumenep: Menata Prosedur, Menjaga Kepastian Hukum
Nama Anggota DPR RI Masuk Desil 4, Dinsos Toraja Utara Beri Penjelasan
Korban Salah Data, Ibu Sumaina Masih Bernafas Tapi Negara Mencatatnya Mati
Gus Kikin, Bos Migas Terpilih Jadi Ketum PBNU: Saat Kepemimpinan NU Bersinggungan dengan Kekayaan Energi
Gonta-ganti Kapolres, Tambang Galian C Ilegal di Sumenep Tak Kunjung Tuntas
Merdeka di Tiang Bendera, Kapan di Perut Rakyat?
Menolak Wacana Sumenep Kepulauan, GMNI Nyekar ke Makam Para Pahlawan
Fakta Baru Sindikat Motor dan Mobil Bodong di Pulau Sapudi, Polisi Cari Aman?

Related News

Kamis, 10 September 2026 - 17:57 WIB

SOP Baru Produk Hukum Sumenep: Menata Prosedur, Menjaga Kepastian Hukum

Sabtu, 5 September 2026 - 14:14 WIB

Korban Salah Data, Ibu Sumaina Masih Bernafas Tapi Negara Mencatatnya Mati

Rabu, 2 September 2026 - 10:37 WIB

Gus Kikin, Bos Migas Terpilih Jadi Ketum PBNU: Saat Kepemimpinan NU Bersinggungan dengan Kekayaan Energi

Senin, 31 Agustus 2026 - 19:56 WIB

Gonta-ganti Kapolres, Tambang Galian C Ilegal di Sumenep Tak Kunjung Tuntas

Selasa, 18 Agustus 2026 - 09:38 WIB

Merdeka di Tiang Bendera, Kapan di Perut Rakyat?

Latest News

Fero Feriyanto, salah satu figur muda yang mulai diperbincangkan masyarakat menjelang dinamika Pilkades Gayam 2027. ®okedaily.com

Politik

Fero Feriyanto, Figur Muda dan Harapan Baru Desa Gayam

Jumat, 11 Sep 2026 - 13:54 WIB