Baznas Sumenep Berlari Kencang Meski Sepatunya Tak Resmi

- Editorial Team

Selasa, 17 Juni 2025 - 09:17 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Baznas Sumenep berdiri tanpa pondasi yang legal (belum ada peraturan daerah sebagai payung hukum). ©Okedaily.com

Baznas Sumenep berdiri tanpa pondasi yang legal (belum ada peraturan daerah sebagai payung hukum). ©Okedaily.com

OkeDaily.com Opini ini saya tulis sebagai orang yang pernah menjadi “Santri Surau Kecil.” Dari republik yang peraturannya sering kalah gesit dari baliho Bupati. Kisah tentang satu lembaga yang menarik untuk dibahas.

Bukan karena dipimpin oleh orang-orangnya Bupati, bukan pula karena kasus zakat yang pernah di korupsi. Melainkan adanya kesan kewajiban bagi orang yang belum tentu berkewajiban. Bingung kan? Mari kita urai pelan-pelan sebuah lembaga yang layak diberi penghargaan ini.

Adalah “BAZNAS Sumenep” lembaga yang belum jelas sepatunya merek apa. Ya karena Perda-nya belum tampak wujudnya namun sudah berhasil berlari kencang. Sebuah lembaga yang membagikan zakat dan senyum ke berbagai sudut desa.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Baca Juga :  Polresta Sumenep: Pangkat Naik, Pintu Informasi Turun

Tak ada yang benar-benar tahu kapan fondasi hukumnya berdiri. Entah belum di buat atau lupa diupload saja. Namun keberadaannya begitu aktif, seolah mendapat restu langsung dari langit birokrasi.

Ia hadir dalam acara-acara penyerahan bantuan, diapit pejabat dengan rompi safari, dan tentu saja, “diabadikan dalam sorotan kamera.”

Di Sumenep, niat baik lebih penting daripada landasan hukum. Di tempat lain, lembaga menunggu Perda. Di sini, cukup dengan plakat, mikrofon, dan raut wajah ikhlas saat difoto.

Padahal, menurut UU No. 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat, keberadaan BAZNAS di tingkat daerah harus ditopang oleh Peraturan Daerah (Perda) yang menjadi dasar hukum operasionalnya.

Baca Juga :  PMII Buleleng Resmi Dilantik, Mabincab : Hanya PMII Ormawa yang Berhaluan Aswaja An-Nahdliyah

Tapi Perda BAZNAS di Sumenep ini seperti makhluk mitologi lokal. Sering disebut, tapi tak pernah benar-benar terlihat.

Konon ada, tapi saat dicari di situs JDIH atau perpustakaan hukum daerah, yang muncul malah draf usang atau berita kegiatan safari ramadan.

Maka pertanyaan pun mencuat. Jika APBD digunakan untuk menyuntik dana ke lembaga ini, melalui regulasi apa disalurkan?

Apakah ada Perbup? SK bersama? Atau cukup rapat koordinasi yang disaksikan oleh doa pembuka dan penutup saja?

Lebih lucu lagi, dalam kegiatan-kegiatan tersebut, ASN didorong agar patuh bayar zakat. Tapi siapa yang benar-benar wajib?

Baca Juga :  Diusulkan Jadi Cawapres, Gibran Dapat Gelorakan Generasi Muda Hadapi Stagnasi Demokrasi

Di mana edukasi dan transparansinya?

Mari kita simulasikan. ASN golongan I dengan gaji tak sampai tiga juta, setelah dikurangi kebutuhan pokok, jangankan zakat, untuk isi bensin dan bayar kontrakan saja sudah ngos-ngosan.

Menurut Kiai saya di pojok surau kecil, Zakat hanya wajib jika penghasilan bersih melebihi nisab, yakni setara 85 gram emas atau sekitar Rp8,5 juta per bulan.

Maka, ASN golongan I dan II belum tentu terkena kewajiban zakat. Kecuali mereka punya ladang di Lombok dan kontrakan atau lima pintu kos-kosan.

Golongan III mulai mendekati. Gaji pokoknya bisa 3-4 juta, ditambah tunjangan, bisa sampai 6-7 juta.

Baca Juga :  Twitter Memiliki Saingan baru yaitu sebuah Platform yang dibuat oleh Meta

Tapi tetap, jika punya dua anak dan satu cicilan motor, maka zakat masih lebih sebagai anjuran daripada kewajiban.

Baru di golongan IV dengan jabatan eselon, tunjangan kinerja, dan akses ke ruang VIP, zakat mulai wajib.

Penghasilannya bisa dua digit, bahkan belasan juta. Zakat 2,5% dari sisa bersihnya adalah keharusan.

Tapi yang sering jadi pertanyaan, “apakah kesadaran itu datang dari edukasi syariat atau dari potongan otomatis sistem gaji?”

Namun kembali ke BAZNAS. Apapun level penghasilan ASN, semuanya digiring ke satu pintu: “bayar zakat lewat lembaga resmi.” Ini baik, tentu saja.

Baca Juga :  Catatan Anak Pulau : Potret Politik Jenaka 2024

Tapi masalahnya bukan pada niat, melainkan kerangkanya. BAZNAS mengelola dana umat. Di dalamnya ada hak fakir miskin, ada kepentingan audit, ada hak jawab publik.

Tapi regulasi yang mengatur belum pernah dibuka ke publik secara formal dan utuh. Cukupkah hanya dengan “izin lisan dari atasan dan restu politis?”.

Bandingkan dengan rakyat kecil yang ingin buka warung di pinggir jalan. Mereka harus punya IMB, NIB, surat domisili usaha, NPWP, dan jika perlu: akta notaris.

Tapi lembaga yang mengelola ratusan juta dana zakat, cukup dengan niat baik dan acara seremonial. Zakat pun akhirnya terkesan menjadi panggung naratif, bukan sistem distribusi.

Setiap pemberian difoto, setiap penerimaan diliput. Warga miskin disyuting saat menunduk menerima sembako, sementara pejabat berdiri bangga dengan kalimat pembuka: “ini bentuk kepedulian kami terhadap masyarakat miskin”.

Baca Juga :  Catatan Fauzi AS: Jaksa dan Polri Bugil di Tengah Jalan

Kamera menangkap ekspresi haru. Netizen membagikan. Tapi tak ada yang bertanya, “mana Perdanya, Pak?”

Pujian demi pujian mengalir, bahkan sampai dibuat testimoni dan selebaran warna-warni. Tapi dokumen hukum yang seharusnya menjadi pondasi, entah tertinggal di laci, atau masih dalam tahap “kajian akademik”.

Mungkin disimpan untuk tahun politik. Mungkin pula, menunggu lelang percetakan.

Lucunya lagi, banyak ASN pun tak tahu apakah zakat mereka sudah sampai pada delapan golongan mustahiq atau hanya berhenti di meja panitia kegiatan.

Tak ada laporan keuangan terbuka. Tak ada dashboard daring yang bisa dilihat masyarakat.

Transparansi masih kalah dari desain spanduk kegiatan. Akhirnya, zakat yang seharusnya membersihkan harta, justru terjebak dalam lumpur birokrasi dan gemerlap narasi pencitraan.

Baca Juga :  Mungkinkah Hasil Pilkada Sumenep Dibatalkan dan Pasangan Fauzi-Imam Didiskualifikasi MK?

Penerima bantuan jadi alat legitimasi, bukan subjek pemberdayaan. Dan Sumenep, kabupaten dengan tingkat kemiskinan tinggi, seakan ditenangkan dengan paket sembako dan slogan, bukan sistem dan keadilan sosial.

Tapi jangan salah. Ini bukan kritik pada niat. Ini hanya tamparan lembut pada carut-marut administrasi.

Karena niat baik tanpa aturan bisa berubah menjadi pembiasaan yang berbahaya.

Sumenep hari ini mengajarkan pada kita satu hal penting: Berjalan tanpa Kamera lebih buruk dari pada berjalan tanpa Perda.

Sebab spanduk, umbul-umbul, konten media sosial yang berisi sambutan bupati, lebih penting dari isi perut ASN yang gajinya telah habis dipotong angsuran.

Baca Juga :  RSUD Moh Anwar Sumenep Tambah Mesin Ini, Berikut Tujuannya

Penulis: Fauzi AS, Pemerhati Kebijakan Publik.

Tulisan opini ini sepenuhnya merupakan tanggungjawab penulis, dan tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi media online okedaily.com.

Kanal opini (kopini) media online okedaily.com terbuka untuk umum. Maksimal panjang naskah 4.000 karakter, atau sekitar 600 kata.

Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri anda dan nomor telepon yang bisa dihubungi. Kirim ke alamat e-mail: opini@okedaily.com.

Facebook Comments Box

Follow WhatsApp Channel okedaily.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Related News

Gendang Barat dan Sinyal Persoalan Lingkungan di Pulau Sapudi
Dibalik Tirai Newsroom Jaga Desa
Maulid Nabi dan Transformasi Nilai-nilai Profetik
Fauzi AS: Merdeka di Tiang Bendera
Sumenep Kepulauan: Mengganti Nama atau Mengganti Nasib?
Polresta Sumenep: Pangkat Naik, Pintu Informasi Turun
Dilema Tafsir Kepemimpinan Politik dan Birokrasi
Supremasi Sipil, Bahaya Laten Korupsi dan Menguatnya Peran Militer

Related News

Minggu, 6 September 2026 - 15:37 WIB

Gendang Barat dan Sinyal Persoalan Lingkungan di Pulau Sapudi

Jumat, 4 September 2026 - 10:27 WIB

Dibalik Tirai Newsroom Jaga Desa

Selasa, 25 Agustus 2026 - 10:30 WIB

Maulid Nabi dan Transformasi Nilai-nilai Profetik

Senin, 17 Agustus 2026 - 13:10 WIB

Fauzi AS: Merdeka di Tiang Bendera

Senin, 3 Agustus 2026 - 19:58 WIB

Sumenep Kepulauan: Mengganti Nama atau Mengganti Nasib?

Latest News

Fero Feriyanto, salah satu figur muda yang mulai diperbincangkan masyarakat menjelang dinamika Pilkades Gayam 2027. ®okedaily.com

Politik

Fero Feriyanto, Figur Muda dan Harapan Baru Desa Gayam

Jumat, 11 Sep 2026 - 13:54 WIB