Kasuistik Defisit APBD Sumenep 2025 Sebesar Rp245 Miliar, Ini Pandangan Bambang Suyitno

- Editorial Team

Rabu, 8 Januari 2025 - 19:49 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pemerhati hukum keuangan daerah, Bambang Suyitno, SH. ©Okedaily.com/Istimewa

Pemerhati hukum keuangan daerah, Bambang Suyitno, SH. ©Okedaily.com/Istimewa

SUMENEP, OKEDAILY Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep, Madura, sebelumnya telah mengonfirmasi bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tahun Anggaran 2025 mengalami defisit sebesar Rp245 miliar.

Hal ini dikalimatkan Kepala Bidang Anggaran Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Pemkab Sumenep, Fardiansyah, S.Kom, M.Si, bahwa defisit tersebut akan ditutupi menggunakan sisa lebih perhitungan anggaran (SiLPA) dari Tahun Anggaran 2024.

“Kita ambilkan dari SiLPA tahun 2024, yang kita estimasi pada angka terendah. Intinya, APBD Kabupaten Sumenep tahun anggaran 2025 aman,” ungkap Dian, Jumat (3/1/2025).

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pemkab Sumenep Benarkah APBD Tahun Anggaran 2025 Mengalami Defisit 245 Miliar
Kepala Bidang Anggaran BKAD Pemerintah Kabupaten Sumenep, Fardiansyah, S.Kom., M.Si. saat menemui awak media di ruang tamu kantornya. ©Okedaily.com/Bang_dJ

Namun, dari perspektif hukum, defisit APBD ini menimbulkan pertanyaan besar terkait pengelolaan keuangan daerah. Bambang Suyitno, SH., seorang pemerhati hukum keuangan daerah, menyoroti hal ini sebagai indikasi adanya persoalan mendasar dalam tata kelola keuangan Pemkab Sumenep.

Baca Juga :  APBD Sumenep Tahun Anggaran 2025 Defisit Rp245 Miliar, Penasehat AWDI Angkat Bicara

Bambang menjelaskan bahwa pengelolaan APBD harus berpedoman pada perundang-undangan yang berlaku di Indonesia, yakni:

  1. UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara
  2. UU Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara
  3. UU Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara
  4. PP Nomor 12 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah
  5. Permendagri Nomor 77 Tahun 2020 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Keuangan Daerah

“Prinsip pengelolaan keuangan daerah adalah harus efektif, efisien, transparan, akuntabel, dan berkeadilan. Jika defisit harus ditutupi oleh SiLPA, artinya ada program tahun sebelumnya yang tidak dilaksanakan dengan baik,” jelasnya, Rabu (8/1/2025).

Baca Juga :  Pemkab Sumenep Benarkan APBD Tahun Anggaran 2025 Mengalami Defisit 245 Miliar

Menurut Bambang, APBD adalah instrumen utama kesejahteraan rakyat. Jika defisit terjadi, berarti ada potensi ketidaksesuaian antara rencana dan realisasi anggaran.

Bambang menegaskan pentingnya penerapan prinsip Good Financial Governance (GFG), yang terdiri dari empat aspek utama diantaranya ialah partisipatoris budgeting, transparansi budgeting, dan akuntabilitas budgeting, serta fairness budgeting.

“Ada 4 aspek yang harus dikedepankan dalam pengelolaan APBD, Yakni, Partisipatoris budgeting, yang menekankan pada partisipasi publik, Transparansi budgeting yang menekankan pada keterbukaan, Akuntabilitas budgeting yang menekankan pada pertanggungjawaban dan Fairness budgeting yang menekankan pada aspek kesetaraan dan keadilan,” terangnya.

Baca Juga :  Djoni Soroti Pengakuan Pemkab Sumenep tentang Defisit APBD 2025 Sebesar 245M

Namun, dalam pengelolaan APBD di Sumenep, Bambang melihat ada potensi penyimpangan dari prinsip-prinsip tersebut. “Saya tidak menuduh, tapi faktanya banyak program dalam batang tubuh APBD tidak dilaksanakan, sehingga terjadi akumulasi SiLPA yang digunakan untuk menutupi defisit,” tegasnya.

Ia juga menyebut, defisit APBD Sumenep 2025 sebesar Rp245 miliar ini sebagai cerminan kurang optimalnya pengelolaan keuangan oleh organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemkab Sumenep.

“Jika ada SiLPA sebesar itu, berarti ada program sebesar Rp245 miliar yang tidak dijalankan, sehingga kebutuhan rakyat tidak sepenuhnya terpenuhi,” sesal Bambang.

Lebih lanjut Bambang, menegaskan bahwa kondisi ini dapat merusak tujuan utama APBD sebagai jantung pemerintahan daerah. “APBD yang sakit akan menghambat aktivitas pemerintahan dan kesejahteraan sosial masyarakat,” ungkapnya.

Baca Juga :  Polemik Defisit APBD Sumenep 2025: Perspektif Akuntansi dan Pandangan Djoni

Defisit APBD Sumenep 2025 menjadi sorotan utama karena menunjukkan potensi lemahnya tata kelola keuangan daerah. Bambang menyarankan agar Pemkab Sumenep lebih transparan dalam pengelolaan anggaran dan melibatkan publik untuk mencegah penyimpangan.

“Kesejahteraan rakyat harus menjadi prioritas utama. Jangan sampai kepentingan politik kepala daerah (Bupati Wongsojudo) mengorbankan hak rakyat,” pungkasnya.

Hingga berita ini diterbitkan, Pemkab Sumenep masih enggan menyampaikan secara resmi terkait penyebab defisit tersebut.

Facebook Comments Box

Follow WhatsApp Channel okedaily.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Related News

SOP Baru Produk Hukum Sumenep: Menata Prosedur, Menjaga Kepastian Hukum
Nama Anggota DPR RI Masuk Desil 4, Dinsos Toraja Utara Beri Penjelasan
Korban Salah Data, Ibu Sumaina Masih Bernafas Tapi Negara Mencatatnya Mati
Gus Kikin, Bos Migas Terpilih Jadi Ketum PBNU: Saat Kepemimpinan NU Bersinggungan dengan Kekayaan Energi
Gonta-ganti Kapolres, Tambang Galian C Ilegal di Sumenep Tak Kunjung Tuntas
Merdeka di Tiang Bendera, Kapan di Perut Rakyat?
Menolak Wacana Sumenep Kepulauan, GMNI Nyekar ke Makam Para Pahlawan
Fakta Baru Sindikat Motor dan Mobil Bodong di Pulau Sapudi, Polisi Cari Aman?

Related News

Kamis, 10 September 2026 - 17:57 WIB

SOP Baru Produk Hukum Sumenep: Menata Prosedur, Menjaga Kepastian Hukum

Sabtu, 5 September 2026 - 14:14 WIB

Korban Salah Data, Ibu Sumaina Masih Bernafas Tapi Negara Mencatatnya Mati

Rabu, 2 September 2026 - 10:37 WIB

Gus Kikin, Bos Migas Terpilih Jadi Ketum PBNU: Saat Kepemimpinan NU Bersinggungan dengan Kekayaan Energi

Senin, 31 Agustus 2026 - 19:56 WIB

Gonta-ganti Kapolres, Tambang Galian C Ilegal di Sumenep Tak Kunjung Tuntas

Selasa, 18 Agustus 2026 - 09:38 WIB

Merdeka di Tiang Bendera, Kapan di Perut Rakyat?

Latest News

Fero Feriyanto, salah satu figur muda yang mulai diperbincangkan masyarakat menjelang dinamika Pilkades Gayam 2027. ®okedaily.com

Politik

Fero Feriyanto, Figur Muda dan Harapan Baru Desa Gayam

Jumat, 11 Sep 2026 - 13:54 WIB