Karena itu, bagi GMNI Sumenep, gagasan Sumenep Kepulauan harus diuji bukan dengan seberapa menarik narasinya, melainkan dengan seberapa besar manfaatnya bagi masyarakat.
- Apakah perubahan tersebut akan memperkuat pemerataan?
- Apakah akan memperbaiki pelayanan publik?
- Apakah akan memberikan kepastian fiskal?
- Apakah akan mempercepat pembangunan infrastruktur kepulauan?
- Apakah akan memperkuat konektivitas?
Atau justru berhenti sebagai simbol politik?
Roni mempertanyakan arah kebijakan tersebut dengan satu kalimat yang cukup tajam. “Wacana Sumenep Kepulauan ini sebenarnya untuk siapa? Untuk rakyat, atau sekadar menjadi komoditas elite politik?”.
Pertanyaan tersebut seharusnya tidak dijawab dengan kemarahan. Ia justru harus dijawab dengan kajian dan data yang konon naskah akademiknya tengah digodok di BRIDA Kabupaten Sumenep.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Jika memang perubahan nomenklatur memberikan manfaat besar, pemerintah daerah harus mampu menjelaskan manfaat tersebut secara terbuka kepada publik.
Namun jika terdapat konsekuensi administratif, fiskal, hukum, sosial, dan ekonomi, masyarakat juga berhak mengetahuinya.
Sebab masyarakat kepulauan bukan objek yang hanya disebut ketika identitas kepulauan dibutuhkan dalam narasi politik. Mereka adalah subjek pembangunan.
Di kepulauan terdapat nelayan, petani, pedagang, guru, tenaga kesehatan, pelajar, perempuan, anak-anak, dan keluarga yang setiap hari berhadapan dengan tantangan geografis.
Karena itu, pembicaraan tentang kepulauan semestinya dimulai dari kebutuhan mereka. Bukan sekadar dari bagaimana mereka disebut.
Ketika Marhaen Dipertanyakan dalam Praktik Kebijakan
Roni juga mengkritisi orientasi Pemerintah Kabupaten Sumenep dalam melihat persoalan kepulauan. Ia mengingatkan agar prinsip keberpihakan terhadap masyarakat kecil tidak berhenti menjadi jargon politik.
Dalam konteks itu, GMNI Sumenep mempertanyakan bagaimana nilai-nilai kerakyatan yang selama ini menjadi bagian dari identitas politik dapat diterjemahkan ke dalam kebijakan pembangunan.
Kritik tersebut pada dasarnya bukan semata persoalan identitas politik. Yang dipersoalkan adalah konsistensi antara gagasan kerakyatan dan kebijakan konkret.
Jika wong cilik menjadi orientasi politik, maka ukuran keberpihakannya seharusnya dapat ditemukan di jalan-jalan desa. Di ruang kelas. Di puskesmas. Di pelabuhan. Di perahu nelayan. Di pasar-pasar rakyat. Dan di rumah-rumah masyarakat yang masih menghadapi keterbatasan akses pembangunan.
Sebab rakyat tidak membutuhkan romantisme politik tentang wong cilik. Rakyat membutuhkan pelayanan publik yang hadir ketika mereka membutuhkannya.
Jangan Sibuk Mengganti Nama tetapi Lupa Membenahi Keadaan
Di sinilah kritik GMNI Sumenep menjadi semakin substantif. Pemkab dan DPRD Sumenep didorong untuk tidak menjadikan perubahan nomenklatur sebagai satu-satunya jawaban atas persoalan kepulauan.
Penulis : Ahmad Fauzan
Editor : Mashudi Surahman
Sumber Berita: OkeDaily
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya




![GMNI Sumenep menggelar mimbar bebas di depan Kantor Pemkab Sumenep. Mereka mempertanyakan urgensi dan manfaat konkret wacana perubahan nomenklatur. ®okedaily.com [Foto: Ahmad Fauzan]](https://okedaily.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG_20261006_173301.jpg?v=1791285201)

![GMNI Sumenep menggelar mimbar bebas di depan Kantor Pemkab Sumenep. Mereka mempertanyakan urgensi dan manfaat konkret wacana perubahan nomenklatur. ®okedaily.com [Foto: Ahmad Fauzan]](https://okedaily.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG_20261006_173301-225x129.jpg?v=1791285201)
![GPS saat menyampaikan aspirasi terkait tata kelola pemerintahan Desa Saobi kepada DPMD Kabupaten Sumenep. Audiensi tersebut menjadi ruang penyampaian sejumlah pertanyaan publik mengenai pelayanan, transparansi anggaran, partisipasi BPD dan aparatur desa, serta keterbukaan informasi. ®okedaily.com [Foto: Ahmad Fauzan]](https://okedaily.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG_20261006_171734-225x129.jpg?v=1791281902)
![Perkuat barisan, SMSI Sumenep menggelar konsolidasi untuk mendorong media lokal Sumenep agar mampu menembus pasar nasional. ®okedaily.com [Foto: Dok. SMSI Sumenep]](https://okedaily.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG_20261006_125423-225x129.jpg?v=1791266735)
![Kepala Disperkimhub Sumenep (kanan) bersama Kepala Bapenda Sumenep (kiri) saat operasi gabungan di Batuan. ®okedaily.com [Foto: Istimewa]](https://okedaily.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG_20261006_033315-225x129.jpg?v=1791263194)
![Petugas gabungan dari UPT PPD Sumenep, Bapenda, Satlantas Polresta Sumenep dan Disperkimhub melakukan Operasi Gabungan di Jalan Raya Sumenep-Lenteng. ®okedaily.com [Foto: Istimewa]](https://okedaily.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG_20261006_033236-225x129.jpg?v=1791262717)



![Ketua SMSI Sumenep, Wahyudi saat membuka Pelatihan Literasi Jurnalistik, tegaskan sekolah harus melek pers di era digital. ®okedaily.com [Foto: Dok. SMSI Sumenep]](https://okedaily.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260926_132734-360x200.jpg?v=1790404289)
![Ketua PW GP Ansor Bali menegaskan bahwa kaderisasi adalah nyawa organisasi dalam sebuah agenda kaderisasi di Bali. ®okedaily.com [Foto: Dok. GP Ansor Bali]](https://okedaily.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260919_193843-360x200.jpg?v=1789821895)
![Simbol Kebanggaan, Rektor Prof. Nurhayati, menyerahkan bendera kepada Dekan FKM UINSU. Penyerahan ini menjadi simbol semangat dan komitmen fakultas. ®okedaily.com [Foto: Kael Harahap]](https://okedaily.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260907_194012-360x200.jpg?v=1788785678)
![Mendikdasmen RI, Abdul Mu’ti, memberikan arahan dalam Rapat Koordinasi Daerah Revitalisasi Sekolah di Hotel Grand Sahid Jaya, Jl. Jenderal Sudirman. ®okedaily.com [foto: smsi jatim]](https://okedaily.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260905_183054-360x200.jpg?v=1788611300)
![Tim visitator Unhas meninjau langsung pelaksanaan PPK Ormawa 2026 tim cara’de di Desa Tinggimae. ®okedaily.com [foto: istimewa]](https://okedaily.com/wp-content/uploads/2026/08/IMG_20260826_183343-360x200.jpg?v=1787744048)
