Sumenep Kepulauan untuk Siapa? Ketika Nama Hendak Diubah, Nasib Rakyat Belum Banyak Berubah

- Editorial Team

Selasa, 6 Oktober 2026 - 18:25 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

📰 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif!

GMNI Sumenep menggelar mimbar bebas di depan Kantor Pemkab Sumenep. Mereka mempertanyakan urgensi dan manfaat konkret wacana perubahan nomenklatur. ®okedaily.com [Foto: Ahmad Fauzan]

GMNI Sumenep menggelar mimbar bebas di depan Kantor Pemkab Sumenep. Mereka mempertanyakan urgensi dan manfaat konkret wacana perubahan nomenklatur. ®okedaily.com [Foto: Ahmad Fauzan]

OkeDaily – Sebuah nama dapat diganti dalam hitungan hari. Nomenklatur dapat diperdebatkan di ruang-ruang rapat, dituangkan dalam dokumen, kemudian diperjuangkan melalui mekanisme administratif dan politik.

Tetapi ada satu hal yang tidak pernah berubah hanya karena sebuah nama diganti, realitas kehidupan rakyat. Kemiskinan tidak hilang karena nomenklatur berubah.

Jalan rusak tidak otomatis menjadi mulus karena nama daerah berganti. Jarak sekolah tidak menjadi lebih dekat. Pelayanan kesehatan tidak serta-merta membaik. Kapal tidak otomatis bertambah. Harga kebutuhan pokok tidak serta-merta turun.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dan kesejahteraan masyarakat kepulauan tidak akan meningkat hanya karena kata “Kepulauan” ditambahkan ke dalam nama Kabupaten Sumenep.

Di titik itulah pertanyaan yang disuarakan Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPC GMNI) Sumenep menjadi relevan, Sumenep Kepulauan untuk siapa?.

Baca Juga :  Hujan Deras Guyur Kota Sumenep, Pengendara Diminta Hindari Jalan Dr Wahidin

Pertanyaan tersebut menjadi tema utama Mimbar Bebas yang digelar DPC GMNI Sumenep di depan Kantor Pemerintah Kabupaten Sumenep pada Jumat, 2 Oktober 2026, sekitar pukul 15.30 WIB.

Bagi GMNI Sumenep, mimbar bebas tersebut merupakan bentuk sikap kritis terhadap wacana perubahan nomenklatur Kabupaten Sumenep menjadi Kabupaten Sumenep Kepulauan.

Namun, lebih jauh dari sekadar menolak atau menerima perubahan nama, GMNI sedang melempar pertanyaan yang jauh lebih substantif, apa yang sesungguhnya berubah dalam kehidupan rakyat jika nama kabupaten berubah.

Rakyat Tidak Hidup dari Nomenklatur

Nomenklatur itu penting. Identitas daerah juga penting. Tetapi pemerintahan daerah Sumenep tidak boleh berhenti dan terjebak pada simbol belaka.

Baca Juga :  Minim Sosialisasi Hukum Perusahaan Tambak Udang, Pemerintah Kabupaten Sumenep Berbenah?

Rakyat hidup dari jalan yang dapat dilalui, listrik yang menyala, sekolah yang dapat dijangkau, fasilitas kesehatan yang tersedia, transportasi laut yang layak, harga kebutuhan pokok yang terjangkau, dan lapangan pekerjaan.

Rakyat juga menanti kebijakan pembangunan yang mampu menjangkau wilayah kepulauan secara adil. Karena itu, kritik GMNI Sumenep patut dibaca sebagai pertanyaan mengenai prioritas pembangunan.

Ketua DPC GMNI Sumenep, Roni Ardiyanto, menegaskan bahwa organisasinya menolak wacana perubahan nomenklatur tersebut sebelum terdapat kajian yang komprehensif mengenai urgensi, konsekuensi, serta manfaat konkretnya bagi masyarakat.

Pertanyaan GMNI sebenarnya sederhana. Jika persoalan yang hendak diselesaikan adalah ketimpangan pembangunan, apakah perubahan nama merupakan instrumen yang benar-benar mampu menyelesaikannya.

Baca Juga :  PNS Nakal Kecamatan Sapeken Lakukan Intimidasi Kepada Wartawan

Atau jangan-jangan, perubahan nomenklatur hanya menghasilkan perubahan pada dokumen administrasi, sementara persoalan masyarakat tetap berada di tempat yang sama.

Nama boleh berubah. Tetapi jika sekolah masih sulit dijangkau, pelayanan kesehatan masih terbatas, infrastruktur belum memadai, konektivitas antarpulau masih menjadi masalah dan kesejahteraan masyarakat belum meningkat.

Maka dari itu yang berubah bisa jadi hanya tulisan di papan nama. Rakyat tentu berhak bertanya, apa manfaat konkretnya bagi mereka.

Sumenep Kepulauan untuk Rakyat atau Komoditas Politik?

Sebagai organisasi kemahasiswaan yang berlandaskan Marhaenisme, GMNI Sumenep menempatkan kepentingan rakyat kecil sebagai salah satu titik penting dalam membaca kebijakan publik.

Facebook Comments Box

Penulis : Ahmad Fauzan

Editor : Mashudi Surahman

Sumber Berita: OkeDaily

Follow WhatsApp Channel okedaily.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Related News

Ketika Desa Terlalu Sunyi, GPS Pertanyakan Tata Kelola Pemerintahan Desa Saobi
Bupati Sumenep Langgar SKJ yang Dibuat Sendiri? Pengangkatan Kabid SDK Dipertanyakan
Camat Dilantik Sertifikat Menyusul, Jangan Balik Logika Syarat Jabatan
Pemerhati Birokrasi Sumenep Pertanyakan Pengangkatan Camat yang Belum Penuhi Kompetensi Pemerintahan
Pemkab Sumenep Klaim Pengangkatan Camat Berdasarkan Rekomendasi BKN, Sertifikasi Kepamongprajaan Menyusul
Empat Desa Ajukan Lahan KDMP ke PT Garam, Berbulan-bulan Belum Ada Kepastian
Klaim Berbasis TPK, Bupati Sumenep Mutasi Sekcam Bluto Menjelang Purna Tugas
Pemkab Sumenep Klaim Mutasi Berbasis TPK, Kompetensi Idham Halil Masih Dipertanyakan

Related News

Selasa, 6 Oktober 2026 - 18:25 WIB

Sumenep Kepulauan untuk Siapa? Ketika Nama Hendak Diubah, Nasib Rakyat Belum Banyak Berubah

Selasa, 6 Oktober 2026 - 17:26 WIB

Ketika Desa Terlalu Sunyi, GPS Pertanyakan Tata Kelola Pemerintahan Desa Saobi

Jumat, 2 Oktober 2026 - 11:26 WIB

Bupati Sumenep Langgar SKJ yang Dibuat Sendiri? Pengangkatan Kabid SDK Dipertanyakan

Selasa, 29 September 2026 - 14:48 WIB

Camat Dilantik Sertifikat Menyusul, Jangan Balik Logika Syarat Jabatan

Selasa, 29 September 2026 - 10:34 WIB

Pemerhati Birokrasi Sumenep Pertanyakan Pengangkatan Camat yang Belum Penuhi Kompetensi Pemerintahan

Latest News