Lembar XVII : Jenderal Sakera Pulang Kampung

- Editorial Team

Selasa, 28 Februari 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dok. Fauzi As. ©Okedaily.com

Dok. Fauzi As. ©Okedaily.com

OKEDAILY.COM Langkah cepat Jenderal Sakera, Selasa 28 Februari 2023. Saya mendapat screenshot yang berisi laporan salah satu anggota TNI mengenai kelangkaan sembako di Kepulauan Sumenep. Pesan yang berisi laporan informasi tersebut diteruskan oleh Jenderal Farid ke group whatsapp KODAM V/Brawijaya.

Assalamualaikum Bapak Panglima, ijin kami Letkol Cba M. Said Dandenbekang Garut, Putra Sumenep. Ijin melaporkan Bapak Panglima terkait krisis pangan di Pulau Masalembu Sumenep akibat cuaca ekstrem/badai, sehingga kapal Sabuk Nusantara yang digunakan untuk mengangkut sembako dan penumpang ke Pulau Masalembu tidak bisa berlayar Bapak, sehingga mengakibatkan kehabisan bahan pangan dari hari Sabtu sampai saat ini masyarakat kehabisan beras dll. Kami sudah Koordinasi dengan Dandim Sumenep dan Kapolres Sumenep, tapi masih sebatas Koordinasi. ljin Bapak mohon arahan dan petunjuk.

Lalu Pangdam menambahkan pesan di bawahnya, “Dandim Sumenep, coba cek kondisi tersebut kalau betul, segera sarankan langkah-langkah bantuan kita”.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Baca Juga :  Kepemimpinan Kecamatan Gayam Adalah Keharusan Untuk Difikirkan Bersama

Perintah itu langsung ditindaklanjuti oleh Dandim Sumenep. Kemudian beliau memberikan jawaban, “Siap Bapak dilaksanakan. Kami sudah koordinasi dengan kadishub Sumenep untuk percepatan keberangkatan kapal”.

Dalam salah satu pesan yang lain, Pangdam juga memerintahkan Dandim Sumenep agar keluar ruangan terlebih dahulu, untuk segera menelpon Bupati dan Kadis Sosial Sumenep.

Pangdam V/Brawijaya (tengah : menggunakan sarung tangan). ©Okedaily.com/Ist

Begitulah gaya kepemimpinan Jenderal Sakera. Beliau Cepat, Tepat dan Responsif untuk terlibat menyelesaikan masalah yang ada di tengah masyarakat, termasuk kelangkaan pangan yang terjadi di Kepulauan Sumenep.

Jaya yang Digdaya

Mengembalikan masa kejayaan Jagung dan Sapi, adalah tema besar yang selalu disuarakan oleh Dandim Sumenep. Hampir setiap waktu ketika selesai menjalankan tugas-tugasnya, tema itu yang selalu diucapkan sembari menghabiskan termos-an kopi, dengan langkah konkret yang sudah dilakukan dan dengan dukungan penuh dari Jenderal Sakera.

Baca Juga :  Mengatasi Tantangan Migrasi Tenaga Kerja Pulau Raas ke Bali

Kami meyakini, bahwa Jagung dan Sapi akan menjadi Jaya yang Digdaya, atau dalam makna lain sukses yang tidak tertandingi. Sebab, apa yang digagas oleh Dandim Sumenep itu merupakan satu rangkaian sistem yang terhubung satu dengan yang lain.

Pada Kamis, 2 Februari 2023 lalu, Jenderal Sakera pulang kampung ke Sumenep Madura. Jenderal yang dibesarkan di Korp Kopasus ini, datang berbarengan jadwalnya dengan kegiatan Menkopolhukam dan Menteri Keuangan.

Namun Sakera tetap Sakera, beliau tetap menyibukkan diri dengan kegiatan TNI bersama Rakyat, yaitu program ketahanan pangan, panen jagung untuk bahan silase pakan ternak yang baru lengkap dengan pabriknya. Dalam kesempatan itu, beliau juga memberikan kesempatan kepada petani untuk ngopi bersama sambil mendengarkan keluh-kesahnya.

Baca Juga :  Kasus ACT 'Digarap' Densus 88, Bagaimana Umat Harus Bersikap?

Program yang digagas oleh Dandim Sumenep ini, menggandeng investor Putera Madura yaitu H. Ilmi, pengusaha senior dengan segudang pengalaman.

Ucapan adalah Do’a

Jika ucapan itu terus diulang dengan yakin maka hal itu akan menjadi nyata dalam takdirnya. Sedikit cerita tentang do’a dan ikhtiar Dandim Sumenep, 2 Juni 2022 lalu. Saat itu Letkol Donny masih ada di Papua Barat.

Entah apa? tiba-tiba beliau menelepon saya dengan durasi agak lama, padahal waktu itu kami belum saling mengenal. Sang-letkol berdiskusi panjang tentang potensi pertanian di Kabupaten Sumenep, termasuk bicara tentang komoditas ekspor.

Baca Juga :  Bupati Wongsojudo Bangun Mall UMKM untuk Dukung Pelaku Usaha Lokal

Singkat cerita pada Selasa, 28/06/2022, Letkol Donny secara resmi menggantikan Dandim Sumenep yang sebelumnya dijabat oleh Letkol Nurcholis, yang juga teman baik saya.

Berlanjut pada Kamis, 30 Juni 2022, memasuki hari kedua beliau menjabat sebagai Dandim Sumenep, meminta saya untuk mengundang jejaring lintas profesi dari tokoh Masyarakat, Aktivis, Pengusaha, Akademisi, dan Seniman.

Kamis malam, Dandim Sumenep pemilik nama lengkap Letkol Czi Donny Pramudya Mahardi itu mengenalkan diri. Ia bercerita tentang pengalaman memimpin di Batalyon Zeni Tempur 20 Papua Barat.

Baca Juga :  Hari Sumpah Pemuda, Cicit Pahlawan Nasional Terima Penghargaan Bidang Kesenian

Dari beberapa cerita yang saya simak, ada do’a dan harapan Dandim Sumenep anyar itu. Beliau memohon do’a dan dukungan dari teman-teman yang hadir, untuk dapat mensertifikatkan tanah Makodim yang sudah puluhan tahun statusnya belum jelas.

Letkol Donny, yang juga ditempa di Korp Baret Merah ini, dikenal tegas dan berani. Dalam hati saya, “beginilah konsekuensi Kopassus menapaki Bumi Sakera”.

Hingga pada akhirnya, kami masyarakat patut bersyukur Alhamdulillah berkat dukungan do’a dari seluruh elemen, dibawah kepemimpinan Letkol Donny berhasil mensertifikatkan Kantor Makodim Sumenep, dalam kurun waktu empat bulanan.

Baca Juga :  Aparat Represif, Negara Tanpa Solusi

Do’a dan ikhtiar Dandim Sumenep, dikabulkan oleh Allah Azza wajalla. Ketahanan pangan mulai berjalan, sertifikat sudah ditangan, begitulah ucapan yang diulang-ulang dengan penuh keyakinan, menjadi do’a yang diijabah.

Sakera Harapan Madura

Mayor Jenderal TNI Farid Makruf, M.A. Pangdam V/Brawijaya adalah salah satu tokoh harapan re-imaging Madura dalam bingkai indonesia. Perwira TNI abituren AKABRI 1991 ini, lahir di Desa Petrah, Kecamatan Tanah Merah, Kabupaten Bangkalan, 6 Juli 1969.

Kami Sumenep Madura, memberinya istilah dengan “Sakera Pulang Kampung”. Kiprah Jenderal Farid Makruf dalam dunia Kemiliteran tentu bisa menjadi contoh teladan, sekaligus mem-buram-kan stigma negatif dan rasa terkucilkan.

Baca Juga :  Gelar Perkara Polda Sumut Dinilai Cacat Prosedur, PWNU Sumut Angkat Bicara

Dulu kami merasa miris dan minder, ketika komunitas Madura dijadikan komoditas guyonan, candaan yang dikemas dalam stand up comedy atau dalam dunia perfilman, Madura selalu diasosiasikan dengan kekerasan, carok, pemulung besi tua, dan stigma negatif lain dalam kacamata media nasional.

Dari madura untuk Indonesia, lensa media penting untuk kita fokuskan pada tokoh-tokoh dan figur Madura, yaitu para tokoh dan pejabat yang mengisi ruang-ruang perubahan.

“Abantal Ombak Asapok Angin”

Bait kata dari lagu madura diatas bermakna “Berbantal Ombak Berselimut Angin”. Bagi masyarakat Madura, mencari nafkah adalah kewajiban tanpa tawar-tawar, ombak hanya sahabat tidur dan angin sebagai selimutnya.

Baca Juga :  Parlemen Goes To Campus: Peran Strategis Mahasiswa sebagai Jembatan Aspirasi

Seperti Jenderal Farid muda, remaja yang punya semangat belajar tinggi, disaat akses terhadap pendidikan masih sulit, tetapi beliau memilih mengambil resiko untuk naik truk pengangkut batu berjuang menimba ilmu.

Aroma pejuang memang sudah menempel pada masa remaja Jendral Bintang Dua ini. Sifat-sifat Sakera mulai ditunjukkannya sejak beliau masih duduk di bangku sekolah.

Bhuppa’ Bhabu’ Ghuru Rato

Jenderal Farid, seperti masyarakat Madura pada umumnya, beliau memiliki kepatuhan dan rasa hormat terhadap figur-figur utama dalam kehidupan, taat kepada kedua orang tua, guru (ulama), dan terakhir kepada rato (pemimpin birokrat).

Baca Juga :  Catatan Awal Ramadhan Tanpa Lembaran, Kebakaran Vs Pembakaran

Saya menyimak video yang sempat viral pada aplikasi TikTok, dimana terlihat Jenderal Farid bertemu dengan ayahanda tercinta yang duduk diatas kursi roda. Beliau menjelaskan secara rinci tentang lencana dan pangkat bintang dua yang telah diperolehnya.

Sangat mungkin, Jenderal Farid hendak ingin menyampaikan bahwa seandainya bapak tidak menanyakan tentang warna daun pisang itu dulu, bisa saja takdir itu berkata lain. Sebab apapun yang beliau dapatkan hari ini, tidak lepas dari do’a dan perjuangan ayah dan ibunya dimasa lalu.

“Rid, ini warna apa?” pada daun pisang yang ditunjukkan oleh bapaknya. Lalu ia menjawab “Warna hijau”.

Baca Juga :  Belanja Jasa Tenaga Kebersihan Pemkab Probolinggo TA 2021 Tidak Sesuai Ketentuan?

Kemudian sang bapak lanjut bertanya, “Bila begitu, ikut saja tes AKABRI. Sebab kalau kamu jawab itu biru daun, kamu bakal tak lulus. Bapak sengaja bertanya begitu karena kebiasaan orang Madura yang menyebut warna biru daun untuk daun yang berwarna hijau”.

Pejuang Pasar Belajar Pada Alam

Terlahir dari keluarga pedagang kelontong tak membuatnya merasa minder dan rendah diri. Ketaatan terhadap sang ibu tercermin dari keberaniannya menjadi anak pasar. Bahkan tanpa rasa ragu, sesekali menjalankan tugas dari ibundanya yaitu mengantarkan bahan belanjaan para pelanggan.

Disitulah kisah “Tonduk Majang” sebuah lagu yang mengisahkan semangat nelayan “Abantal Ombak Asapok Angin (Berbantal Ombak Berselimut Angin)”.

Baca Juga :  Menjelang Pileg 2024, LPP DPC PKB Kabupaten Sumenep Jaring Bacaleg Kompeten

Beliau adalah sosok yang kami pandang sebagai salah satu tokoh komplit, serta mampu merepresentasikan sifat dan karakter orang madura di bumi nusantara.

Sumenep, 28 Februari 2023.
Penulis : Fauzi AS

Tulisan opini ini sepenuhnya merupakan tanggungjawab penulis, dan tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi media okedaily.com.

Kanal opini media okedaily.com terbuka untuk umum. Maksimal panjang naskah 4.000 karakter, atau sekitar 600 kata.

Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri anda dan nomor telepon yang bisa dihubungi. Kirim ke alamat e-mail: opini@okedaily.com.

Facebook Comments Box

Follow WhatsApp Channel okedaily.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Related News

Polresta Sumenep: Pangkat Naik, Pintu Informasi Turun
Dilema Tafsir Kepemimpinan Politik dan Birokrasi
Supremasi Sipil, Bahaya Laten Korupsi dan Menguatnya Peran Militer
Catatan Fauzi AS: Jaksa dan Polri Bugil di Tengah Jalan
Catatan Fauzi AS: Penjahat Bernama Prabowo
Sang Jenderal yang Tak Menunggu Telepon
Membedah Tuntutan Iran dan Inkonsistensi Trump di Selat Hormuz
Menagih Peran: Mengapa Diaspora Pengusaha Ra’as Belum Terjamah?

Related News

Sabtu, 18 Juli 2026 - 14:14 WIB

Polresta Sumenep: Pangkat Naik, Pintu Informasi Turun

Kamis, 16 Juli 2026 - 22:54 WIB

Dilema Tafsir Kepemimpinan Politik dan Birokrasi

Selasa, 14 Juli 2026 - 12:13 WIB

Supremasi Sipil, Bahaya Laten Korupsi dan Menguatnya Peran Militer

Senin, 13 Juli 2026 - 22:34 WIB

Catatan Fauzi AS: Jaksa dan Polri Bugil di Tengah Jalan

Jumat, 12 Juni 2026 - 16:10 WIB

Catatan Fauzi AS: Penjahat Bernama Prabowo

Latest News