Difable Desa Paliat yang Terabaikan

- Redaksi

Senin, 8 November 2021

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ibu Tati dan Sulaiman, Keduanya tinggal di rumah gedeg bambu dengan alas tikar, bahkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dirinya hanya cukup sekedar makan seadanya. [Okedaily.com/Al-hakiki]

Ibu Tati dan Sulaiman, Keduanya tinggal di rumah gedeg bambu dengan alas tikar, bahkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dirinya hanya cukup sekedar makan seadanya. [Okedaily.com/Al-hakiki]

Okedaily.com, Sumenep – Kisah haru yang dialami ibu Tati dan Sulaiman (Difable) Warga Dusun 3 Desa Paliat, Kecamatan Sapeken, Kabupaten Sumenep, Madura Jawa Timur.

Keduanya tinggal di rumah gedeg bambu dengan alas tikar, bahkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dirinya hanya cukup sekedar makan seadanya.

Menurut keterangan salah satu warga setempat, kehidupan ibu Tati dan Sulaiman terkategori masyarakat dhu’afa yang tidak mampu.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bahkan, jarang sekali bantuan yang ia dapatkan dari sentuhan pemerintah, baik pemerintah desa dan kabupaten.

“Kadang yang menyantuni justru dari komunitas-komunitas sosial mas,” ujarnya, Senin, (08/11).

Beberapa hari lalu, juga beredar di WhatsApp Grup (WAG) foto ibu Tati dan Sulaiman, dalam kondisi memprihatinkan yang tengah menerima bantuan dari komunitas lokal.

Baca Juga : Pipanisasi Bersumber Dana Desa Paliat Mangkrak
Baca Juga : Kegiatan Fiktif Desa Paliat Terungkap
Baca Juga : Kades Paliat Bangun Balai Baru Gunakan Dana Desa, Mendes PDTT: Tidak Boleh
Baca Juga : Rumah Pribadi Diduga Jadi Kantor Desa Paliat, Balai Desa Lama Jadi Sarang Ternak
Baca Juga : Eks Caleg PKB Sumenep Pertanyakan Jatah Pokir

Tak sedikit yang mempertanyakan peran Dinas Sosial Kabupaten Sumenep tentang keseriusannya dalam menangani kasus kemiskinan.

Baca Juga :  Aksi Copot Baju Bukti Pemkab Sumenep Lucuti Identitasnya

Beberapa pertanyaan yang dilontarkan dalam WAG tersebut diantaranya, peran Dinsos Sumenep yang memiliki tanggung jawab untuk kesejahteraan masyarakat miskin dan anak yatim.

“Apa mau nunggu sampai rumah mereka roboh?” Ujar salah satu WAG itu

Anggota WAG yang lain bertanya, “Apakah mau menunggu ibu Tati dan Sulaiman meninggal?” Tanyanya.

“Katanya kas daerah bunga depositonya banyak sampai miliyaran, karena banyak dana yang tak terpakai,” ucap anggota WAG lainnya.

“Anggaran kok dinina bobokkan, disaat masyarakat butuh anggaran,” lanjut yang lain.

Ada juga masyarakat Sumenep yang tergabung di WAG itu melontarkan tudingan pada Kades Paliat, tentang apakah pihaknya tidak tahu atau abai.

“Waduh kalebun lagi, kan ada RT dan RW masa Kalebun tidak tahu ada warganya begitu. Pertanyaannya, peduli tidak, kalau peduli tak mungkin ada warganya yang begitu,” tudingnya.

Difable Desa Paliat yang Terabaikan

Pada saat tim media Okedaily.com mengkonfirmasi Kepala Desa Paliat, Maharuddin, dirinya membenarkan bahwa ibu Tati dan Sulaiman merupakan warganya.

Menurut dia, warganya itu bukan tidak pernah mendapatkan bantuan pemerintah, ia mengaku ada program yang didapatkan.

“Beliau itu dapat Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) dan Jaringan Pengaman Sosial (JPS),” katanya.

Baca Juga :  Membludak, Puluhan Ribu Simpatisan FINAL Padati Istighatsah Akbar untuk Para Pejuang Sumenep

Ketika tim media menanyakan, apakah yang bersangkutan pernah diajukan sebagai penerima Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).

Kades Maharuddin, menirukan penjelasan apa yang disampaikan dari Sekretaris Desanya (Sekdes), dia mengatakan bahwa anaknya menolak.

“Anaknya pernah menolak, karena sudah mampu dan rumah anaknya itu ada disampingnya,” tukas Kades Paliat.

Padahal, Anak Ibu Tati enggan menerima RTLH karena merasa malu jika di ambil dari donasi masyarakat. Namun, jika memang diupayakan dari dana pemerintah, sang anak tersebut mengaku bersedia untuk dibangun rumah.

Berdasarkan keterangan Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Sapeken, Rahman, justru memberikan keterangan berbeda.

Dia menyampaikan bahwa, ibu Tati dan Sulaiman merupakan warga Desa Paliat yang hidup sebatang kara. “Rumahnya itu jauh dari pemukiman mas, memang tinggal sendirian,” ungkap Rahman.

“Jika ada yang mengatakan ada rumah disampingnya itu tidak ada, memang rumahnya sendirian, rumah anaknya agak jauh, ” imbuhnya.

Terkait bantuan RTLH, lebih lanjut dia menjelaskan, jika saat ini sudah bukan lagi ranahnya Dinas Sosial Sumenep.

Baca Juga : Eksploitasi Migas Bukan Jaminan Pagerungan Kecil Terang Benderang
Baca Juga : Carut Marut Perbup Sumenep Modal Suket Lolos Jadi Cakades
Baca Juga : TKSK Bantah Pemutakhiran DTKS Sesuka Hati, Ketua Karang Taruna Kabupaten Sumenep : Potret Tak Tahu Diri
Baca Juga : Forum Gerakan Peduli Sapeken Audiensi Kinerja Korup TKSK Sapeken?
Baca Juga : Dinas Pendidikan Sumenep Tak Berdaya, Kepala SMPN 2 Ra’as : Saya Bisa Remote Dari Asta

Menurut dia, untuk pengajuan tersebut bisa langsung lewat Cipta Karya. “Sudah lama RTLH tidak diajukan dari Dinas sosial mas, dan sekarang bukan ranahnya kami lagi,” terangnya.

Baca Juga :  Daffasya Sinik : Saya Akan Satukan Pemuda di Kota Medan

Kemudian, Rahman mengaku kalau saat ini Sulaiman (Difable) sudah diusulkan untuk mendapatkan bantuan Disabilitas dari Dinas Sosial Sumenep.

“Kemarin saya sudah turun ke lokasi, dan melalui dusun bersama Sekdes Paliat, beliau sudah dibuatkan proposal untuk diajukan ke dinas sosial,” pungkasnya.

Dari keterangan Kepala Desa Paliat, yang mengatakan putra ibu Tati menolak untuk dibangun RTLH, hal itu menjadi kesimpang siuran. Bahkan, seolah-olah Kades Paliat tidak tahu nasib warganya sendiri.

Aneh saja, Kepala Desa Paliat justru baru turun gunung setelah masyarakatnya sudah sering disantuni oleh orang diluar desannya. Dimana peran Desa selama ini?

Facebook Comments Box

Komentar ditutup.

Follow WhatsApp Channel okedaily.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bupati Wongsojudo Tekankan Pelestarian Cagar Budaya untuk Perkuat Jati Diri Daerah
Bupati Sumenep: TACB Bukan Sekadar Formalitas, Tapi Penentu Arah Pelestarian Cagar Budaya
Pantai Mertasari Didorong Jadi Ruang Publik Berbasis Budaya dan Kreativitas Anak Muda Denpasar
HUT Kota Denpasar ke 238, Gus Yoga Dorong Jaminan Sosial bagi Seniman Senior
Mahasiswa Internasional BIPA UPN Veteran Jawa Timur Eksplorasi Warisan Majapahit dalam Darmawisata Kampung Majapahit Bejijong
Mengenalkan Sejarah Keris Sejak Dini, Upaya Bupati Sumenep Melestarikan Budaya
Bupati Wongsojudo: Menjaga Gamelan dan Topeng Sumenep dari Kepunahan
MWC NU Bangsalsari Sukses Gelar Resepsi Harlah NU ke-102 di Ponpes Darul Hidayah

Berita Terkait

Selasa, 5 Mei 2026 - 16:31 WIB

Bupati Wongsojudo Tekankan Pelestarian Cagar Budaya untuk Perkuat Jati Diri Daerah

Selasa, 5 Mei 2026 - 16:15 WIB

Bupati Sumenep: TACB Bukan Sekadar Formalitas, Tapi Penentu Arah Pelestarian Cagar Budaya

Rabu, 29 April 2026 - 11:02 WIB

Pantai Mertasari Didorong Jadi Ruang Publik Berbasis Budaya dan Kreativitas Anak Muda Denpasar

Selasa, 20 Januari 2026 - 13:50 WIB

HUT Kota Denpasar ke 238, Gus Yoga Dorong Jaminan Sosial bagi Seniman Senior

Selasa, 21 Oktober 2025 - 12:17 WIB

Mahasiswa Internasional BIPA UPN Veteran Jawa Timur Eksplorasi Warisan Majapahit dalam Darmawisata Kampung Majapahit Bejijong

Berita Terbaru